STOISISME: HIDUP DENGAN PENDERITAAN DAN KECEMASAN

Pencipta: Ria Dara

Hidup seringkali sia-sia dalam kekejamannya. Kecemasan, penderitaan, keputusasaan, dan kemarahan merupakan keadaan-keadaan emosional yang mengaburkan pikiran kita sebagai percobaan tak berguna untuk menghilangkan sumber dari kesengsaraan kita, walaupun kita bisa saja tidak mengetahui sebenarnya apa sumbernya. Ini seperti lelucon yang saya dengar:

Seseorang marah. Mengapa? Karena dia marah. Seseorang sedih. Mengapa? Karena dia sedih. Seseorang bahagia. Mengapa? Karena dia bahagia.

Dan disanalah tujuan dari penulisan ini. Stoisisme, meskipun mempunyai berbagai iterasi dan interpretasi seperti pemikiran filosofi lainnya, pantas mendapat perhatian kita semua. Filosofi ini memberi kita, yang menurut saya, suatu perspektif yang simpel, namun mendalam mengenai masalah-masalah hidup. Seseorang, seperti saya, mungkin bisa tergoda untuk menyebut pemikiran ini sebagai salah satu pemikiran terpenting yang pernah dipikirkan oleh manusia. Kenyataannya adalah ini hanya satu pemikiran yang bagi saya sendiri telah berdampak besar, dan saya ingin memberi tahu mengapa dan bagaimana ini bisa melakukan hal yang sama di hidup anda.


ASUMSIKAN YANG TERBURUK

Berharaplah untuk apa yang paling adil, dan persiapkanlah untuk apa yang paling tidak adil

Seneca, Negarawan dan Guru Kaisar Nero

Seringkali, manusia tanpa henti berharap untuk apa yang paling balik terjadi. Kapanpun kita terkena suatu konflik, hambatan, ataupun konflik dalam bentuk tumor, hal yang pertama dilakukan, seperti saya sendiri pun lakukan, adalah berharap ke diri sendiri agar semuanya baik-baik saja:

  • Dokter hanya manusia, dia masih bisa salah dalam diagnosanya. 
  • Google Maps hanya suatu program, masih bisa salah tentang kemacetan yang ada.

Ini bukanlah hal yang secara intrinsik buruk, tetapi ini merupakan hal yang buruk ketika dilakukan untuk menciptakan harapan semata-mata. Benar, dokter hanyalah seorang manusia, namun apakah implikasi yang kita coba tanam di pikiran kita bahwa dokter benar-benar salah mengenai tumor kita? Hal yang sama terjadi dalam contoh kedua. Apakah kita meragukan hal-hal lain dalam kasus-kasus lain, atau kita hanya meragukan hal-hal ini karena kita tidak ingin menghadapi kemungkinan bahwa dokter benar mengenai tumor kita? Hanya karena sesuatu bisa seperti yang kita kira, bukan berarti sesuatu tersebut benar-benar seperti apa yang kita kira. Mungkin terdengar pesimistik, tetapi inilah posisi penting yang dipegang oleh Stoisisme di konteks ini.

Merasakan kenyamanan yang lebih dari kepercayaan bahwa kita akan baik-baik saja tidak bisa diterjemahkan menjadi kita benar-benar akan baik-baik saja. Dalam kata lain, alam semesta tetap akan menjadi alam semesta, bukan akan menjadi apa yang kita mau semata-mata. Dan karena pengakuan ini, Stoisisme mau kita untuk mengasumsikan apa yang kita pikir kemungkinan terburuk daripada menjauhkan hal-hal yang buruk. Harapan memang yang terbaik untuk mengangkat kita ke tempat yang sangat tinggi dimana kita bisa merasa tentram dan tidak khawatir akan kekacauan yang berada di bawah puncak ini. Namun, di saat yang sama, ada biaya yang kita bayar dalam menerima dorongan harapan. Dan biaya itu adalah tidak siapnya diri kita jika dan saat kita jatuh nanti dari puncak harapan tersebut. Bayangkan kondisi mental seseorang ketika ia mencari tahu bahwa tumor yang ia miliki benar-benar ganas setelah diberitahu sebelumnya berulang-ulang bahwa ia tidak mempunyai tumor yang ganas. Stoisisme menyuruh kita untuk membayangkan apa yang terburuk agar kita bisa siap ketika hal itu menjadi kenyataan. Antisipasimu adalah kunci dari kekecewaanmu. Film yang kamu tunggu-tunggu ternyata jelek, tumormu ternyata ganas, keluargamu ternyata meninggal di kecelakaan. Ketika kasus-kasus hipotetis ini terjadi, tanyalah ke dirimu:

Apakah rasa kecewa yang saya rasakan sekarang berasal dari fakta bahwa hal-hal ini memang secara alami buruk? Ataukah dari penilaian kita hal-hal ini buruk?

Poin ini mungkin bisa terasa melawan akal sehat. Tentu saja saya akan berharap yang terbaik demi keluarga saya, tentu saja saya akan berharap bahwa tumor yang dibilang dokter tidak ganas, dan tentu saja saya akan berharap film yang saya akan tonton bagus. Namun, pertimbangkan poin ini:

Seorang negarawan dan filsuf, dan guru sang Nero, Seneca, pernah berkorespondensi dengan temannya, Lucillius. Dia bilang ke Seneca bahwa dia punya masalah yang besar. Suatu tuntutan mengancam dia dan tuntutan ini berkemungkinan untuk menghilangkan posisi dia sebagai gubernur. Ini juga berkemungkinan lanjut untuk memenjarai dia ataupun diasingkan dari Roma. Disini, salah satu kutipan Seneca yang sangat saya ingat lahir:

Anda mungkin menduga bahwa saya akan menasehati anda untuk membayangkan hasil akhir yang menyenangkan dan bersandar pada godaan harapan. Tetapi, saya akan mengantar anda ke ketenangan melalui suatu sumber yang memuncak pada nasihat: ‘Jika anda ingin menghilangkan semua rasa ragu, maka anggap apa yang anda takutkan terjadi, akan benar-benar terjadi.’

Jika anda kalah dalam tuntutan ini, apakah ada yang lebih buruk daripada masuk penjara atau diusir dari Roma?

Berharaplah untuk apa yang paling adil, bersiap-siaplah untuk apa yang paling tidak adil.

Ini, saya bilang, adalah salah satu ide paling penting di bidang filosofi. Dan salah satu prinsip utama dalam Stoisisme. Poinnya bukanlah untuk merendahkan situasi yang kita hadapi sekarang, tetapi untuk memberi perspektif dalam apa yang kita hadapi. Perspektif dimana kita sadar bahwa hal-hal yang tidak adil bisa terjadi, terjadi sepanjang waktu, dan telah menunggu untuk terjadi. Kita mungkin memang tidak akan pernah ketemu keluarga kita lagi setelah mereka meninggalkan dunia, namun jika kita ambil informasi ini dan pakai ini sebagai dasar dari interaksi kita dengan mereka, kualitas interaksi yang kita rasakan akan lebih baik dari sebelumnya. Kita akan menjadi lebih baik kepada mereka, lebih bersyukur, dan lebih sabar dengan mereka. Dan jika memang kita akan bertemu dengan mereka lagi, maka itu adalah bonus. Maka kenapa Seneca bilang, “Berharaplah untuk apa yang paling adil, bersiap-siaplah untuk apa yang paling tidak adil.” Dan juga mengapa, “Antisipasimu adalah kunci dari kekecawaanmu.”

Ide ini juga mirip dengan konsep Buddha yaitu Empat Kebenaran Mulia. Pertama, adanya dukkha yang sering ditranslasikan sebagai sengsara atau kondisi dimana seseorang tidak berhasil dalam memenuhi idamannya. Kedua, adanya samudaya atau idaman yang disebut tadi. Ketiga, ada nirodha atau pemberhentian dari dukkha yang bisa dicapai dengan menghilangkan samudaya. Keempat, cara untuk menghilangkan dukkha (dan dengan secara langsung, samudaya) yaitu yang disebut dengan magga. Persamaaan antara Stoisisme dan Buddhisme ada pada cara yang diberi oleh kedua pemikiran tersebut dalam bagaimana kita bisa menghilangkan kesengsaraan. Pada dasarnya, Buddhisme bilang, “Jangan mengidamkan apapun, dan tidak ada yang akan mengecewakan kita” dan  Stoisisme lebih bilang, “Berantisipasilah apa yang paling buruk, dan yang paling buruk tidak akan mengecewakan kita”. Saya mungkin terlalu mensimpelkan kedua pemikiran, jadi saya minta untuk melakukan riset sendiri jika tertarik dengan persamaan kedua pemikiran.

KENDALIKAN APA YANG BISA DIKENDALIKAN

Jangan jadi menyesal, jadilah lebih baik.

Kratos, Dewa Perang Fiksional dari game, God of War (2018)

Saya ingat suatu perkataan dari video Ted-Ed mengenai Stoisisme yang sepertinya selalu ambil ke hati:

Sekarang, kita biasa menggunakan istilah stoic untuk mengartikan seseorang yang tetap tenang di bawah tekanan dan menghindari ekstrimitas emosional. Namun, walaupun ini menangkap aspek-aspek penting dari Stoisisme, filosofi aslinya lebih dari sekedar sikap. Para stoic mempercayai bahwa semua hal beroperasi dalam suatu jaringan sebab-akibat, yang mereka sebut logos. Ini menghasilkan alam semesta yang berstruktur rasional. Dan meskipun kita tidak selalu punya kendali akan peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi kita, kita masih bisa mengendalikan bagaimana kita menghampiri peristiwa-peristiwa tersebut.

Saya tidak bisa dengan adil menjelaskan video itu sepenuhnya hanya dengan suatu kutipan. Jadi saya sarankan untuk menontonnya sendiri melalui link yang saya berikan.

Namun, kutipan itu sudah cukup untuk menerangkan poin saya. Ada hal-hal yang terjadi yang melampaui kendali kita. Karena ini, tidak ada banyak hal yang bisa kita lakukan juga. Mari bilang anda sedang menyetir dan terjebak dalam macet. Tidak banyak hal yang bisa kita lakukan. Jadi, apa aksi yang paling bijak untuk dilakukan?

Anda mungkin telat kerja atau sekolah. Perang Dunia 3 mungkin sedang memulai. Negara anda mungkin banyak sekali koruptornya. Tapi, tanyalah ke diri sendiri, apa yang bisa saya lakukan pada saat ini?

Daripada hanya mengatakan, “Ini hal yang buruk”, anda juga harus bisa mengatakan, “Ini hal yang buruk, apa yang bisa saya lakukan agar ini tidak buruk?”

Ini pada dasarnya bagaimana seorang insinyur atau programmer (insinyur perangkat lunak) akan menghampiri masalah. Saat suatu program atau mesin gagal bekerja sesuai kemauan, mereka segera mencari tahu mengapa hal itu gagal. Mereka mencari tahu dimana mereka tidak memperhatikan. Mereka mungkin mengeluh, tetapi mereka tidak akan menjadikan keluhan mereka fokus mereka untuk menyelesaikan masalah itu. Seharusnya hal ini sama pada kita. Saat kita menghadapi masalah, kita seharusnya langsung menghampiri mereka dengan niat untuk mencari tahu mengapa masalah ini ada. Kita seharusnya mempelajari Logos. Jika tidak ada yang kita bisa lakukan, maka kita tidak lakukan apapun. Tapi kita harus selalu mencari cara untuk menyelesaikan masalah kita.

Dengan ini, Stoisisme tidak hanya menyediakan suatu cara melihat masalah, tapi juga suatu cara mendekati masalah. Stoisisme tidak hanya bilang, “Antisipasikan yang terburuk”, tapi juga, “Fokuslah terhadap yang kau bisa lakukan.” Di game 2018, God of War, protagonisnya Kratos menegur anaknya, Atreus, ketika dia terlalu cepat memburu suatu rusa. Dalam akhir-akhir terakhir teriakan Kratos terhadap Atreus, Atreus bilang bahwa dia menyesal. Kratos menjawab, “Janganlah jadi menyesal, jadilah lebih baik.”

Itu pada dasarnya meringkas poin kedua saya. Menjadi kecewa, sedih, atau marah tidak membantu apapun jika itu saja yang kita lakukan, kita juga harus membuat usaha untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

EPILOG

Saya memutuskan untuk menulis teks ini karena saya sendiri tidak terlalu stoic sebagai orang. Telah lebih dari tiga tahun sejak saya pertama kali mengenal Stoisisme, namun saya sendiri masih kesulitan untuk mengimplementasikan pengertian yang saya tahu mengenai Stoisisme.

Dan saya harus tekankan bahwa penulisan ini merupakan pengertian yang saya punya mengenai Stoisisme yang saya simplifikasikan agar ide-ide utamanya bisa lebih diambil. Jika anda tertarik mengenai Stoisisme, maka saya sarankan untuk melakukan eksplorasi sendiri dan membentuk pengertian anda sendiri. Hal yang enak tentang filsafat adalah semua orang mempunyai pemikiran mereka sendiri karena berbagai alasan yang berbeda-beda. Bidang apa-yang-seharusnya-kita-lakukan adalah bidang yang dikerumuni oleh ketidakyakinan, dan walaupun bidang ini juga dulunya “ibu dari semua bidang ilmu”, bidang ini tetap masih mempunyai hal-hal yang tidak pasti.

Tidak yakin bukan secara langsung berarti ini hal yang tidak baik. Hanya saja saya harus lebih berhati-hati untuk menyebut “X adalah ini”, terutama dalam bidang filosofi, karena mungkin di belahan bumi lain, ada orang bilang bahwa “X adalah suatu hal lain”.

Sebagai contoh, ada suatu hal yang bernama “Empat Kebajikan Kardinal” dalam Stoisisme, tetapi saya tidak mengenalkan konsep itu disini. Ini karena saya tidak menganggap bahwa “Empat Kebajikan Kardinal” merupakan konsep yang terlalu penting untuk mendapatkan suatu pengertian akan Stoisisme, terutama dalam topik “hidup dengan penderitaan dan kecemasan”.

Meskipun demikian, saya tetap tekankan anda untuk mempelajari Stoisisme sendiri untuk mendapatkan pengertian anda sendiri daripada menggunakan teks ini untuk bilang, “Stoisisme adalah ini.” Sejauhnya yang menurut saya anda bisa lakukan adalah bilang – seperti saya bilang – “Setau saya, stoisisme adalah ini.”

SUMBER LANJUTAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: