DI MANA PISAU ILMIAH MENUSUK KEAGAAMAN

Setelah kita mengetahui – dalam konteks analogi yang dipakai sebelumnya – bahwa tiral toleransi yang menutupi agama tidak baik, kita sekarang bisa langsung melihat ide-ide yang dipersembahkan oleh bidang agama untuk apa mereka sebenarnya. Mereka adalah klaim dan suatu klaim perlu kita evaluasi sebelum kita terima sebagai benar. Masalah yang akan ditekan oleh seri pertama ini adalah banyak ide yang didorong oleh bidang keagamaan (maupun dari Islam, Kristen, ataupun Yahudi) berfondasi pada ide-ide yang belum cukup terdukung untuk bisa kita bilang benar seperti kepercayaan terhadap keberadaan satu atau lebih mahluk yang dipanggil sebagai tuhan (teisme).

Dan ini akan menunjukan suatu masalah yang lebih besar lagi: Suatu masalah yang bisa dipanggil sebagai masalah epistemik, yaitu masalah yang berhubungan dengan cara kita semua menentukan ide, kepercayaan, dan klaim yang ada sebagai sesuatu yang benar atau sesuatu yang salah. Pada akhir artikel ini, saya berharap untuk membujuk anda bahwa apa yang kita panggil tadi sebagai sains adalah cara terbaik untuk mengatasi, jika tidak menyelesaikan, masalah epistemik ini.

Ketajaman Pisau Ilmiah

Merupakan suatu gagasan yang sulit dibantah bahwa sains – atau yang disebut sebagai ilmu ilmiah – sebagai suatu usaha mencari kebenaran adalah usaha manusia yang paling berhasil. Kita tidak perlu melihat jauh-jauh untuk mengetahui seberapa suksesnya usaha ini:

  • Radio dan televisi memungkinkan kita untuk melihat dan mendengar peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi tanpa berada di tempat dimana peristiwa itu terjadi.
  • Kereta dan pesawat memungkinkan kita untuk bepergian jarak jauh tanpa memakan waktu yang terlalu lama.
  • Dan sementara ilmu kedokteran modern memungkinkan kita untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit, luka, dan kelainan yang dulunya mungkin sangat tidak mungkin untuk disembuhkan.

Namun di saat yang sama, sains adalah suatu usaha yang tidak mempersoalkan apa yang baik dan apa yang buruk dan oleh karena itu, kita juga mempunyai hal-hal yang bisa menyebabkan kerusakkan yang tak terbayangkan (dan tidak mengejutkan juga untuk sering dibilang buruk oleh banyak orang) seperti:

  • Penemuan mengenai proses pelepasan energy fission yang akhirnya memungkinkan manusia untuk membuat bom nuklir yang pernah dipakai pada Hiroshima dan Nagasaki.
  • Penemuan mengenai penggunaan bubuk mesiu memungkinkan manusia untuk melobangi kepala seseorang dalam satu gerakan jari.
  • Dan sementara pabrik-pabrik yang memproduksi produk secara massa juga bisa berkontribusi ke suatu ancaman bernama global warming dengan memperbanyak polusi.

Semua ini adalah hasil dari sains dan saya harapkan bahwa suatu pertanyaan muncul di benak pikiran kita:

Bagaimanakah sains bisa mencapai semua hal ini?

Dan pertanyaan inilah mengapa kita harus membicarakan tentang masalah epistemik tadi, atau lebih tepatnya, membicarakan tentang bidang epistemologi dan peran sains dalamnya. Ini karena istilah sains tidak hanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu usaha manusia, namun juga metodologi yang dipakai sains dalam usaha tersebut.

Metodologi inilah yang sering dipanggil sebagai the scientific method atau metode ilmiah. Namun sebenarnya tidak ada suatu metode khusus yang sama dipakai di semua bidang sains untuk menjalankan usaha mereka masing-masing. Ini dikarenakan sains bukanlah suatu bidang pengetahuan khusus yang mempunyai definisi yang jelas, namun sains adalah istilah yang kita pakai – pada umumnya – untuk merujuk kepada dunia akademia yang sedang mencari dan membangun pengertian manusia mengenai alam semesta ini.

Ketika kita pergi ke suatu departemen arkeologi di suatu universitas, kita tidak – atau seharusnya kita tidak – membawa asumsi bahwa metode yang digunakan pada bidang kimia akan berlaku juga, meskipun usaha kedua bidang tersebut memang bisa melintasi satu sama lain dilihat dari keberadaannya suatu bidang yang bernama Kimia Arkeologis (Archaeological chemistry) yang – dari deskripsi yang saya lihat – mewakili penerapan berbagai teknik analisis – yang tampaknya tidak hanya terbatas oleh teknik analisis dari bidang kimia, namun juga fisika, biologi, dan matematika – kepada artefak-artefak arkeologis.

Archaeological chemistry belongs to the broader research field of archaeometry, which represents the application of various scientific analytical techniques to archaeological artefacts. These can include physics, chemistry, biology, palaeoanthropology, mathematics, computer science, etc.

The application of archaeological chemistry has shifted the traditional archaeological research approach away from determination of artefacts’ typologies and dating, into the sphere of determining the preservation, variety and origin of organic molecules.

Archaeological chemistry | School of Chemistry | University of Bristol
http://www.bristol.ac.uk/chemistry/research/ogu/research/archaeology.html

Pada dasarnya, sains adalah tentang mencari tahu ide-ide yang paling bisa kita handalkan. Oleh karena itu, ide-ide penting yang menjadi basis aktivitas ilmiah (scientific) seperti empirisme (pengetahuan didapatkan melalui pengalaman kita), pembuatan hipotesis, dan eksperimentasi akan menuju ke arah itu. Ini artinya adalah kepastian dalam sains hampir bisa dibilang sebagai suatu oxymoron karena jika sains menempatkan suatu ide dalam posisi dimana kita sudah sangat pasti dengan kebenarannya sampai kita tidak mau melihat bukti yang menunjukan ke arah lain, kita bisa dibilang sudah melanggar tujuan yang ingin dicapai oleh sains.

Empirisme

Saat kita berhadapan dengan fenomena alam apapun, kita menggunakan apa yang kita panggil sebagai indra. Indra yang paling umum kita kenal adalah penglihatan (sight), pendengaran (hearing), sentuhan (touch), pengecap (taste), dan penciuman (smell). Sejak kecil kita lahir, kita tidak mempunyai pilihan lain tapi untuk menempatkan nasib kita kepada lima fakultas tubuh tersebut. Ketika kita menyebrangi jalan, kita umumnya akan melihat kanan kiri untuk mengecek apakah ada mobil yang sedang melaju. Jika ada, umumnya kita akan berhenti berjalan atau mundur. Ini adalah contoh kita menggunakan indra-indra tersebut. Bahkan anda yang membaca ini menggunakan indra-indra anda, yang pada umumnya akan merupakan dalam bentuk penglihatan.

Mungkin semua ini sudah cukup jelas, namun saya membuka dengan pengakuan ini karena faktanya ada suatu sentimen yang menyatakan bahwa kita seharusnya tidak sama sekali mempercayai informasi yang kita dapatkan dari indra-indra kita. Lebih tepatnya, saya merujuk kepada kepercayaan bahwa indra kita sama sekali tidak bisa dipercayai karena indra kita bisa keliru. Fakta bahwa indra kita bisa keliru bukanlah berita baru.

Berikut adalah beberapa hal yang mendemonstrasikan hal itu.

Kelinci atau…. bebek?
Lihat kotak A dan B.
Mereka sama.
Siapakah orang di foto itu? Marilyn Monroe? atau Einstein?
Jawabannya iya.

Ketiga contoh tersebut merupakan apa yang disebut sebagai ilusi-ilusi optik (optical illusions) dan jika anda manusia, anda berkemungkinan untuk sadar seberapa salahnya anda dalam tanggapan anda pertama kali akan gambar-gambar tersebut.

Oleh karena itu, apakah kita bisa bilang bahwa indra-indra kita tidak bisa dipercayai sama sekali? Tentunya tidak. Kita tidak bisa mengambil beberapa kasus dimana indra kita gagal dan menyimpulkan bahwa indra-indra kita, dengan begitu, akan gagal dalam semua atau mayoritas kasus. Masalahnya disini adalah fakta bahwa indra kita bisa gagal bukanlah sebuah alasan yang cukup untuk membuang semua harapan kita terhadap indra kita, namun sebenarnya sebuah alasan untuk bekerja sama dengan individu-individu lain yang mempunyai masalah yang sama. Pada dasarnya, ini merupakan salah satu hal yang ingin dicapai oleh sains. Sains sebagai aktvitas-aktivitas untuk menanggulangi kekeliruan yang bisa kita miliki adalah mengapa kita – pada umumnya – ingin – dan seharusnya – ingin eksperimentasi yang dilakukan oleh sains agar bisa dilakukan ulang di mana saja. Vaksin yang diuji di sebuah lab di Amerika seharusnya bisa diuji juga di sebuah lab di Jepang tanpa menghasilkan hasil uji coba yang berbeda. Kita juga membandingkan data-data yang kita punya dengan satu sama lain dan memeriksa penelitian-penelitian yang akan diterbitkan melalui proses yang bernama penelahan sejawat (peer review) dimana akan ada orang-orang yang mempunyai pengetahuan dan keahlian yang cukup sama yang mengecek apa ada kesalahan dengan penelitian kita melalui berbagai cara.

Poin penting yang harus diingat disini adalah ini:

Karena indra-indra kita bisa tertipu bukanlah alasan untuk membuang semua kepercayaan terhadap indra kita, namun untuk meragukannya sampai batas yang pantas dan untuk mulai melakukan sains.

Mulai Melakukan Sains?

Apa artinya ketika kita mulai melakukan sains? Yah, kalau kita pikir-pikir, kita selalu melihat orang-orang yang mengenakan jas putih panjang di lab seharian dan mereka selalu melihat ke suatu mikroskop dan mencampurkan zat-zat aneh sampai suatu hal yang ajaib terjadi. Jadi, apakah itu sains?

Lucunya, menanyakan apa sains itu, merupakan salah satu tahapan untuk memulai proses sains. Sains memulai dengan adanya pengamatan-pengamatan mengenai suatu fenomena dan pengajuan pertanyaan-pertanyaan mengenai pengamatan tersebut. Salah satu fenomena yang sedang merajarela di media sekarang adalah penyakit virus Corona (COVID-19). Disini, kita bisa menanyakan hal-hal seperti, “Apa yang meyebabkan virus Corona?”, “Bagaimana kita menyembuhkan penyakitnya?”, “Bagaimana kita meredakan gejala-gejalanya?”. Pertanyaan-pertanyaan itu bisa menjadi permulaan untuk menginvestigasikan fenomena penyakit Corona.

Setelah bertanya, kita bisa mengumpulkan informasi-informasi bersangkutan yang ada dan memikirkan apa informasi yang kita dapatkan sudah cukup untuk menjawab pertanyaan kita, atau apa kita perlu melakukan pengumpulan lebih lanjut. Jika kita sudah mempunyai sejumlah informasi mengenai fenomena yang kita investigasi dan kita tetap belum bisa menjawab pertanyaan kita, maka kita akan melompat ke tahap kedua yaitu membuat suatu model atau hipotesis. Namun sebelum itu, saya ingin mendiskusikan tentang sikap yang benar-benar diperlukan untuk tahap ini.

Dari permulaan itu, kita bisa melihat sikap-sikap yang harmonis dan tidak harmonis dengan kelanjutan penelitian kita mengenai suatu fenomena. Saat kecil, kita mungkin pernah mendengar – dalam variasi apapun – nasihat berikut,

Jika kamu tidak tahu, bertanyalah.

Pernyataan itu merupakan suatu manifestasi nilai yang benar-benar dipakukan oleh sains. Dalam kata lain, kejujuran. Sains meminta diri kita untuk jujur ketika kita tidak mengetahui sesuatu. Dari sikap ini, keyakinan seorang peneliti terhadap suatu hal dibatasi dengan sebanyak apa bukti yang ia punya.

Ini sangat berbeda kasusnya saat kita memasuki bidang keagamaan dimana paradigmanya merupakan semua hal telah dijelaskan di buku/teks/ajaran suci agama X. Jika kita ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia dikeliling kita, bidang agama akan menjawab untuk mempelajari ajaran-ajaran agama. Tidak untuk diabaikan juga bahwa secara praktis, banyak agama dengan ajaran-ajaran yang menentang dari satu sama lain yang mengklaim sebagai pemilik kebenaran tertinggi mengenai alam semesta. Keagamaan tidak berkontribusi kepada perbincangan mengenai bagaimana kita bisa mencari tahu apa yang benar, melainkan keagamaan mencetuskan bahwa mereka sudah mengetahui apa yang benar dan oleh karena itu, religiusitas bisa dibilang sebagai bentuk tertinggi dari kecongkakan (arrogance).

Dimengerti juga bahwa itu tidak untuk bilang orang-orang beragama adalah orang yang mempunyai kecongkakan paling tinggi dan para peneliti adalah orang-orang yang paling rendah hati. Namun poin ini lebih bisa diringkas dengan dua pertanyaan berikut:

Apakah ada ajaran agama manapun yang menuntut pengikutnya untuk melepaskan diri mereka dari ajaran agama tersebut, sesaat mereka menemukan bahwa ajaran tersebut salah?

Apakah ada ajaran agama manapun yang menuntut pengikutnya untuk berhati-hati ketika mempelajari ajaran agama tersebut karena mereka mungkin bisa salah?

Saya tidak pernah melihat adanya suatu agama dimana itu kasusnya. Dan itu bukanlah suatu penemuan yang spektakuler juga karena suatu agama yang menuntut pengikutnya untuk mengikuti sains sama sekali bukanlah suatu agama. Pada titik itu, kita memanggilnya sains.

Hanya ada dua pilihan mengenai sikap disini: Entah seseorang mengganti pikirannya atau tidak ketika mereka menemukan diri mereka salah.

Jika agama memang ternyata menganjurkan para pengikutnya untuk mengikuti sains, maka mengapa masih ada agama?

Kenapa tidak melewati saja klaim-klaim agama dan segera melakukan sains?

Hasilnya seharusnya sama saja jika kasusnya adalah agama sebenarnya sealur dengan sains. Skenario terbaik yang anda dapat dari bidang agama adalah agama yang mengklaim berulang-ulang bahwa ajaran mereka sudah pasti benar, dan oleh karena itu, sikap yang ditunjukan oleh agama menghambat kita dalam mencari tahu apa yang benar dengan sains.

Dalam kata lain, sikap yang didorong oleh keagamaan tidak harmonis dengan sikap yang didorong oleh sains.

Hipotesis

There is a less familiar way in which a scientist can work out what is real when our five senses cannot detect it directly. This is through the use of a ‘model’ of what might be going on, which can then be tested. We imagine – you might say guess – what might be there.

Richard Dawkins
The Magic of Reality, Chapter 1: What is Reality? What is Magic?, Page 15-16

Suatu hipotesis (atau sebagaimana Richard Dawkins memanggilnya, suatu model) adalah suatu penjelasan yang diajukan berdasarkan informasi-informasi yang sudah ada yang mencoba untuk menjawab pertanyaan kita. Kata kuncinya disini adalah mencoba.

Kembali kepada contoh Coronavirus, katakanlah bahwa ada informasi-informasi baru yang kita tidak ketahui sekarang mengenai konsumsi wortel dan penyakit Corona dan bagaimana ada sejumlah pengidap penyakit Corona yang berhasil sembuh karena memakan wortel. Berdasarkan informasi itu, kita mungkin bisa berhipotesis bahwa memakan wortel bisa menyembuhkan Corona.

Dalam suatu hipotesis, kita sebagai para peneliti menebak apa yang mungkin menyebabkan suatu hal dari informasi yang kita punya sekarang. Kita menebak – dalam kasus tadi – bahwa mungkin dengan mengonsumsi wortel, kita bisa menyembuhkan Corona? Tentu saja, ini hal yang absurd untuk bilang sekarang karena kita tidak mengetahui apakah ini benar-benar kasusnya, namun ini membantu untuk mendemonstrasikan apa yang dimaksud dengan berhipotesis.

Namun, jika suatu hipotesis adalah suatu tebakan saja, bukankah itu berarti sains sama sekali tidak mengetahui apa yang dilakukannya?

Bagaimana sains mengetahui bahwa apa yang ia tebak benar atau salah?

Jawaban dari pertanyaan kedua adalah melalui eksperimentasi, namun sebelum memasuki topik itu, kita perlu mengerti mengenai apa yang namanya unsur falsifiability atau kemampuan bisa disalahkan suatu hipotesis. Suatu hipotesis, untuk bisa dianggap secara serius, harus bisa dibuktikan menjadi salah. Beberapa orang yang saya temui pernah bilang bahwa ini hal yang aneh, tetapi kasusnya sepertinya tidak jika kita mempertimbangkan kedua kasus berikut:

Kemarin Kamis-isme (Last Thursdayism) adalah ide bahwa alam semesta sebenarnya dibuat kemarin kamis, namun dengan penampilan sudah terbentuk miliaran tahun yang lalu.

Skenario otak dalam tangki (Brain in a vat scenario) adalah suatu ide bahwa otak kita sebenarnya telah dicabut dari tubuh asli kita dan sedang mengapung dalam suatu tangki penuh dengan cairan yang memperkenankan kita untuk hidup, namun semua saraf-saraf otak kita disambungkan ke suatu superkomputer yang memberikan kita semua rangsangan yang kita dapat persis seperti kehidupan nyata.

Saya tidak mengetahui apa ini sebenarnya suatu hal yang mengejutkan, namun kedua ide tersebut tidak bisa dibuktikan salah. Kalau tidak percaya, mari kita mencoba melakukan hal tersebut. Berpura-puralah bahwa anda adalah seseorang yang ingin membuktikan bahwa Kemarin Kamis-isme salah. Anda bilang ke saya, “Saya ingat apa yang saya lakukan kemarin selasa, jadi ini membuktikan bahwa alam semesta tidak terbuat pada Kemarin Kamis!” Aha, namun anda tetap salah karena seperti yang dibilang oleh Kemarin Kamis-isme, “… alam semesta sebenarnya dibuat kemarin kamis, namun dengan penampilan sudah terbentuk miliaran tahun yang lalu.” Jadi, memori anda juga sebenarnya dibuat kemarin kamis, namun anda hanya tidak menyadari hal itu karena memori anda adalah sebagian dari apa yang mempunyai penampilan yang lebih lama dari kemarin kamis.

Bukti apapun yang kita majukan yaitu sebagai contoh dalam bentuk sesuatu yang lebih tua dari kemarin kamis, bisa dijelaskan oleh ide kemarin kamis-isme, dan secara langsung, bukti apapun yang kita majukan, tidak bisa membuktikan ide kemarin kamis-isme salah. Hal yang sama terjadi pada skenario Otak Dalam Tangki. Kita tidak bisa membuktikan bahwa skenario itu belum terjadi.

Namun ada perbedaan antara membuktikan sesuatu belum terjadi dan membuktikan sesuatu sudah terjadi, dan inilah poin signifikan yang saya ingin anda ingat. Jika suatu ide sama sekali tidak bisa dibuktikan salah, maka ide tersebut juga berkemungkinan besar untuk tidak bisa dibuktikan benar. Suatu ilustrasi akan hal ini bisa kita lihat dari suatu analogi yang dibuat oleh seorang filsuf Inggris bernama Bertrand Russell. Analogi yang dipanggil sebagai Bertrand Russell’s Teapot atau sebagai The Teapot Analogy saja mengatakan,

Many orthodox people speak as though it were the business of sceptics to disprove received dogmas rather than of dogmatists to prove them. This is, of course, a mistake. If I were to suggest that between the Earth and Mars there is a china teapot revolving about the sun in an elliptical orbit, nobody would be able to disprove my assertion provided I were careful to add that the teapot is too small to be revealed even by our most powerful telescopes. But if I were to go on to say that, since my assertion cannot be disproved, it is intolerable presumption on the part of human reason to doubt it, I should rightly be thought to be talking nonsense. If, however, the existence of such a teapot were affirmed in ancient books, taught as the sacred truth every Sunday, and instilled into the minds of children at school, hesitation to believe in its existence would become a mark of eccentricity and entitle the doubter to the attentions of the psychiatrist in an enlightened age or of the Inquisitor in an earlier time.

Russell, Bertrand (1952). “Is There a God? [1952]”. In Slater, John G. (ed.). The Collected Papers of Bertrand Russell, Vol. 11: Last Philosophical Testament, 1943–68 (PDF). Routledge. pp. 542–548. ISBN 9780415094092.

Yang Russell sedang lakukan disini adalah menunjukan bahwa beban untuk membuktikan suatu klaim bukanlah pada pihak yang menerima klaim tersebut. Namun, ada pada pihak yang mengajukan klaim tersebut. Tentunya, di saat yang sama Russell juga menulis itu sebagai respon kepada suatu kritik dari bidang keagamaan ketika mereka menghadapi kritik dari orang-orang yang tidak percaya, atau orang-orang yang percaya bahwa agama salah,

Dimana buktinya bahwa tuhan itu tidak ada?

Jika kalian tidak bisa membuktikan tuhan itu tidak ada, maka tuhan itu ada!

Hal yang kita perlu fokuskan disini adalah implikasi dari konsep yang bernama beban pembuktian (burden of proof) ini. Semakin luar biasa, atau dalam konteks ini semakin tidak bisa dites, suatu klaim, maka klaim tersebut juga semakin tidak bisa dibuktikan benar. Ini karena bagaimana beban pembuktian bekerja yang menyatakan bahwa yang perlu mendukung suatu klaim adalah yang mengajukannya, bukan yang menerimanya.

Oleh karena itu, tebakan-tebakan yang dilakukan dalam sains bukanlah tebakan semata-mata seperti kita menebak angka loteri (yang secara teori seharusnya bisa dilakukan). Namun, tebakan-tebakan disini adalah tebakan terdidik (educated guess) yang dipastikan membawa unsur yang dinamakan sebagai falsifiability, verifiability (kemampuan untuk bisa dibenarkan), dan sebagai kombinasi dari kedua sifat tadi: testability (kemampuan untuk bisa diuji).

Disinilah saat kita masuk ke topik eksperimentasi atau uji coba.

Eksperimentasi

Suatu hipotesis, selain bisa dites, akan membawa implikasi-implikasi mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Implikasi-implikasi inilah yang disebut sebagai suatu prediksi. Dengan melihat prediksi tersebut, kita bisa memikirkan suatu lingkungan atau kondisi-kondisi khusus dimana seharusnya hipotesis tersebut menjadi nyata.

Jika kondisi-kondisi khusus yang kita pikirkan bisa secara keseluruhan diwujudkan dengan mengendalikan kondisi-kondisi yang ada, maka apa yang kita hadapi sekarang adalah suatu eksperimentasi terkontrol. Dalam suatu eksperimentasi terkontrol, kondisi-kondisi suatu sistem, atau apa yang akan kita mulai bilang sebagai variabel, dikelola sampai kita mendapatkan lingkungan yang diinginkan. Dengan memastikan variabel-variabel yang tidak bersangkutan (variabel kontrol) tidak mempengaruhi variabel yang kita uji (variabel independen), kita bisa dengan akurat melihat efek dari variabel yang kita uji, dan secara langsung, kita bisa melihat apakah hipotesis kita benar atau tidak.

Sebagai contoh, jika sebuah pil ditemukan bisa membunuh 10 dari 100 tikus, kita belum benar-benar mengetahui jika pil tersebut yang menyebabkan kematian dari 10 tikus tersebut. Bisa saja pil-pil yang kita berikan, khususnya kepada 10 tikus, terkontaminasi. Atau bisa saja 10 tikus tersebut saja yang tidak tahan akan efek pil tersebut.

Poinnya adalah ada banyak variabel yang harus kita pertimbangkan sebelum menegaskan bahwa pil tersebut berkemampuan untuk membunuh tikus.

Bagaimana jika kita memastikan bahwa semua pil yang kita berikan tidak terkontaminasi? Dan kita pastikan bahwa 100 tikus yang kita pakai dalam percobaan tidak terlalu berbeda dari satu sama lain? Dan kita pastikan bahwa tidak ada variabel lain yang mungkin mempengaruhi kematian tikus tersebut?

Inilah yang dimaksud dengan memastikan variabel-variabel yang tidak bersangkutan tidak mempengaruhi variabel yang kita uji.

Setelah kita melakukan hal itu, kita bisa mulai memberi pil-pil tadi kepada tikus-tikus yang baru. Jika hasilnya ternyata tidak ada tikus yang mati, maka bisa dibilang bahwa pil tersebut tidak bertanggung jawab atas kematian 10 tikus sebelumnya, melainkan ada satu / lebih dari satu faktor lain.

Namun, ada kalanya saat kita tidak bisa mengendalikan variabel-variabel, atau sangat susah untuk melakukan itu, untuk mencapai suatu lingkungan yang kita inginkan. Jika ini kasusnya, maka apa yang kita hadapi disini adalah suatu eksperimentasi alami dimana kita tidak bisa melakukan apa yang kita lakukan dalam suatu eksperimentasi terkontrol. Yang hanya bisa kita lakukan adalah fokus kepada aktivitas mengamati apa yang sudah ada, sudah terjadi, sedang ada, dan sedang terjadi. Dalam suatu eksperimentasi alami, bisa dibilang bahwa kita hanya bisa berharap bahwa lingkungan yang kita dapatkan untuk eksperimentasi merupakan sedekat-dekatnya dengan lingkungan yang kita inginkan.

Untuk contoh ini, kita bisa melihat bidang astronomi dimana secara praktis kita benar-benar tidak mungkin untuk mengendalikan banyak variabel.

Jika kita ingin menguji hipotesis, “bintang adalah awan-awan hidrogen yang runtuh”, kita tidak bisa memulai dengan segumpalan awan hidrogen yang besar, lalu menunggu milyaran tahun untuk awan tersebut membentuk suatu bintang.

Namun, dengan mengamati berbagai awan hidrogen di berbagai keadaan keruntuhan, dan implikasi lain dari hipotesis (misalnya, adanya berbagai emisi spektral dari cahaya bintang), kita dapat mengumpulkan data yang kita perlukan untuk mendukung hipotesis, “bintang adalah awan-awan hidrogen yang runtuh.”

Wikipedia, Experiment, Natural Experiments

Sesudah kita menjalankan eksperimen-eksperimen, kita akan mendapatkan hasil dari eksperimen tersebut. Dari sini, kita perlu melihat apakah hasil eksperimen ini selaras dengan prediksi yang kita buat tadi. Jika prediksinya ternyata salah, maka hipotesis/model kita salah dan kita sebaiknya menurunkan keyakinan kita kepada hipotesis tersebut. Jika kebalikannya yang benar, maka kita sebaiknya menaikkan keyakinan kita kepada hipotesis tersebut.

Secara praktis akan lebih kompleks dari penjelasan itu antara lain karena kita bisa harus menjalankan eksperimen itu, bahkan bisa dari tahap pertama lagi, berulang-ulang agar bisa cukup pasti bahwa kita tidak membuat suatu kesalahan dalam pelaksanaan penelitian ini.

Mengambil pisau ilmiah lagi, mari kita bandingkan ini dengan agama.

Skeptisisme dan Ketidakpastian Dalam Sains

Kritik yang paling sering saya temui terhadap sains dari pihak agama adalah bahwa sains selalu mengubah pikirannya dan tidak pernah pasti dalam keputusannya. Kalau ternyata ini merupakan kritik-kritik terbesarnya, maka sains sudah berhasil dalam mematikan keagamaaan.

Saya bilang ini karena skeptisisme dan ketidakpastian yang ada dalam sains adalah aset terbesar yang dimiliki oleh sains dan merupakan salah satu alasan terbesar mengapa peradaban manusia bisa mencapai sejauh ini. Sains, secara prinsip, membantah apapun yang diajukan di luar kerangkanya. Jika suatu ide mau diterima, maka ide tersebut harus masuk melalui jalan yang melelahkan, atau dalam kata lain, harus diuji coba. Jika suatu ide mau diyakini dengan kuat, maka ide tersebut harus mempunyai dukungan yang kuat juga.

Ini mengapa ketika ada suatu ajaran yang menuntut orang-orang untuk mempercayai keberadaan suatu mahluk yang maha kuat, maha mengetahui, dan dimana-dimana, tetapi respon dari ajaran yang sama terhadap kerangka sains adalah,

Kamu harus menerima tuhan ke dalam hatimu terlebih dahulu untuk mengetahui bahwa tuhan memang ada.

Ide tuhan berada di luar kerangka sains.

Saya akan tetap yakin dia ada, meskipun jika ada bukti bahwa tuhan tidak ada.

seharusnya tidak mengejutkan mengapa ide-ide tersebut tidak dianggap serius dalam komunitas sains.

Ini juga mengapa saya memilih untuk mengikuti sains dan mencoba untuk mempraktekan prinsip-prinsipnya ketika saya ingin membuat kesimpulan-kesimpulan penting. Saya akan terkejut jika lebih banyak orang yang memilih keyakinan seperti yang dipraktekan pada bidang agama ketika mereka menghadapi skenario seperti menyebrang jalan. Menurut saya, cukup normal bahwa kita melihat kanan kiri ketika menybrangi jalan daripada menutup mata kita dan berdoa bahwa kita akan sampai ke sisi lain.

Yah mungkin sisi lain dalam kata akhirat, namun apapun itu, dalam mayoritas kasus, saya tidak akan terkejut jika ada lebih banyak orang yang lebih memilih menjadi seorang empiris ketika menyebrangi jalan daripada memilih menjadi seseorang yang meletakkan nasibnya kepada kepercayan buta ke suatu ide. Dalam memilih untuk melihat kanan dan kiri ketika menyebrangi jalanan, kita di saat yang sama memeluk faktanya bahwa kita tidak pasti dalam penilaian kita akan situasi jalanan, dan juga kita mempertanyakan informasi apa yang paling bisa kita handalkan saat menyebrang. Apa sebenarnya ada mobil di bagian kanan? Atau apakah ada mobil di bagian kiri?

Sikap-sikap seperti itu muncul secara alami di pikiran kita. Namun jika kita melihat sisi keagamaan, apa yang banyak dilakukan adalah agama sangat suka sekali berada di posisi dimana mereka tidak perlu mempertanyakan apa-apa. Hal ini sebenarnya cukup ironis karena bahkan dengan preferensi mereka untuk yakin tanpa melihat bukti terlebih dahulu dengan ajaran mereka, keagamaan juga sering meminta persetujuan dari sains karena mereka mengetahui seberapa besarnya dampak yang bisa dibuat oleh sains ketika kesimpulan mereka terdukung oleh sains.

Inilah mengapa ada sejumlah pemeluk agama Islam yang sering menyebarkan naratif bahwa Quran telah meramal banyak penemuan sains. Padahal, tanpa sains mengkonfirmasi apa yang diramal, pemeluk-pemeluk tersebut tidak akan bisa mencari tahu jika ajaran mereka benar atau tidak. Kelicikan ini juga sering diperbesar dengan mengimplikasikan bahwa ajaran-ajaran yang telah dikonfirmasi sains adalah – di saat yang sama – menudukung klaim ketuhanan Islam.

Masalah yang ada pada menggunakan sains untuk mengafirmasikan suatu kepercayaan yang sudah ada adalah ini: Di dalam proses penelitian (dan kehidupan sehari-hari kita), ada suatu fenomena yang sudah didokumentasikan dengan baik yang bernama bias konfirmasi (confirmation bias) dimana seperti yang dijelaskan tadi, seseorang mempunyai kecendrungan untuk menginterpretasikan informasi sesuai dengan kepercayaan mereka yang sudah ada. Alasan mengapa ini buruk adalah karena ini bisa menyebabkan seseorang untuk mengesampingkan bukti yang menentang dengan kepercayaan tersebut. Dan sebagaimana sudah dijelaskan di awal artikel ini, ini sangat menentang apa yang ingin dicapai oleh sains. Sains adalah tentang merangkai suatu kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang ada, bukan tentang merangkai bukti berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang ada.

Jadi ketika ada sejumlah orang yang melakukan hal ini dengan bangga, yaitu memulai penelitian dengan niat untuk membuktikan kepercayaan yang sudah ada, saya akan curiga besar kepada sejumlah orang tersebut. Itu tidak berarti saya mengatakan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai suatu kesimpulan yang bernuansa religi, namun saya mengatakan hal yang sama seperti di bagian awalan artikel ini:

Kenapa tidak melewati saja klaim-klaim agama dan segera melakukan sains?

Hasilnya seharusnya sama saja jika kasusnya adalah agama sebenarnya sealur dengan sains.

Jadi… bagaimanakah sains bisa mencapai semua hal ini?

Sains – sebagai suatu usaha manusia untuk mencari apa yang paling mendekati kebenaran – adalah usaha manusia yang paling sukses karena metode-metode yang dipakai oleh sains untuk mencapai kesimpulan-kesimpulannya adalah metode yang sadar dengan seberapa bisanya manusia keliru. Dari kesalahan dalam pengamatan sesuatu sampai kesalahan dalam penginterpretasian apa yang kita amati, sains mendorong kita untuk menerima bahwa kasusnya adalah kita – sebagai manusia – tidak mengetahui semuanya.

Dari pengakuan ini, kita menjalankan suatu proses penelitian dimana kita juga didorong untuk bekerja sama dengan orang lain demi memastikan bersama-sama bahwa kita tidak melakukan suatu kesalahan entah dalam pengamatan kita atau dalam evaluasi kita. Ada suatu perasaan yang selalu muncul dari semua sisi ketika kita melakukan aktivitas apapun yang berbasis pada sains yaitu ketidakpastian. Kita tidak tahu dimana kita membuat kesalahan jadi kita double check, triple check, bahkan quadruple check apa yang kita sedang lakukan. Dari ini, gambaran tentang seorang peneliti bermantel putih yang tidak pernah yakin dalam apapun yang ia lakukan muncul dan diasosiasikan dengan sains dan para pelaksananya. Namun, setidak-tidak yakinnya mantel putih itu, ia sepertinya selalu mendapatkan hasil yang selalu dihandalkan. Setidak-tidak yakinnya para peneliti, pemerintah masih menghandalkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika untuk memprediksi cuaca. Setidak-tidak yakinnya para peneliti, seorang dokter masih menghandalkan medical sciences untuk menolong pasien. Setidak-tidak yakinnya para peneliti, kurang lebih semua negara di bumi ini tidak akan menolak jika bisa mengembangkan pertahanan nuklir mereka sendiri.

Yah, jika anda tidak melewatkan seluruh artikel ini langsung ke bagian ini, anda akan tahu bahwa apa yang sebenarnya terjadi adalah pertama-tama, si mantel putih melakukan 1000 kesalahan terlebih dahulu, lalu ia menemukan 1 hal yang benar. Ini tentunya memang hanya hiperbola, namun searah dengan kasusnya.

An expert is someone who knows some of the worst mistakes that can be made in his subject, and how to avoid them.

From the original German, “Ein Fachmann ist ein Mann, der einige der gröbsten Fehler kennt, die man in dem betreffenden Fach machen kann, und der sie deshalb zu vermeiden versteht”, in Der Teil und das Ganze: Gespräche im Umkreis der Atomphysik (The Part and the Whole: Conversations in the Atomic Physics) (1969, 2001), 247. Excerpt in magazine article, ‘Kein Chaos, aus dem nicht wieder Ordnung würde,’ Die Zeit (22 August 1969), 34. English version in Werner Heisenberg and Arnold J. Pomerans (trans.), Physics and Beyond: Encounters and Conversations (1971), 210.

Kasusnya adalah sains hampir identik dengan membuat kesalahan. Dengan membuat kesalahan – atau hipotesis yang ternyata tidak dapat dihandalkan – sains bertambah kuat karena sekarang ia mengerti jika ia menggunakan hipotesis ini, atau melakukan sesuatu melalui cara ini, hasilnya akan tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan.

Jadi, untuk menjawab tesis dari artikel ini sesingkat mungkin, sains bisa melakukan semua ini karena telah banyak kesalahan yang dilakukan dan telah banyak pelajaran yang dipelajari. Ini semua sangat berbeda dalam bidang agama.

“You’re so sure of your position,
But you’re just close-minded,
I think you’ll find that
Your FAITH in science and tests,
Is just as blind as the
faith of any fundamentalists,”

Wow, that’s a good point,
Let me think for a bit.
Oh wait, my mistake,
That’s absolute bullshit.


Science adjusts its views
Based on what’s observed.
Faith is the denial of observation,
so that belief can be preserved.

Tim Minchin’s Storm the Animated Movie
https://www.youtube.com/watch?v=HhGuXCuDb1U&t=328s

Dalam bidang agama, pengakuan bahwa manusia tidak mengetahui segalanya dibuang. Tidak ada – di dunia ini – suatu agama dimana ajarannya bilang bahwa sebelum pengikutnya percaya kepada klaim-klaim faktual yang diberikannya, mereka perlu melihat buktinya dulu. Tidak ada suatu agama – di dunia ini – yang mengatakan jika pengikutnya melihat ada suatu kesalahan kepada suatu ajarannya, maka pengikutnya lebih baik berhenti percaya kepada ajaran tersebut.

Ada suatu perbantahan yang cukup sering diajukan bahwa banyak peneliti yang percaya kepada suatu agama entah Islam, Kristen, atau agama lain yang membawa dengannya konsep suatu makhluk bernama Tuhan. Untuk menentang perbantahan ini, saya punya suatu pertanyaan. Ketika peneliti-peneliti ini melakukan sains, apakah mereka berdoa daripada melakukan penelitian mereka? Masalahnya dengan perbantahan ini adalah peneliti-peneliti yang biasanya membawa-bawa agama untuk alasan apapun, bukanlah seorang peneliti karena mereka mengikuti agama mereka, tetapi walaupun mereka mengikuti agama mereka. Saya tidak bilang bahwa mereka bukanlah peneliti yang benar namun yang saya bilang adalah apa yang mereka teliti dan bagaimana mereka meneliti berkemungkinan besar untuk tidak berhubungan sama sekali dengan kepercayaan mereka pada suatu agama.

Dengan semua itu, saya tidak bisa menangkal bahwa memang ada percobaan-percobaan untuk membuktikan bahwa tuhan itu ada, namun ada kesalahan besar yang saya sering lihat dari percobaan-percobaan ini. Di artikel selanjutnya, saya ingin memberi beberapa saran kepada mereka yang berpikir bahwa bukti mereka cukup untuk membuktikan keberadaan tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: