KETIDAKSADARAN MANUSIA TERHADAP NUANSA ARTI SUATU ISTILAH, KONSEP, ATAU GAGASAN

Sudah lama saya tidak aktif untuk membaca blog-blog lain di platform ini, namun ternyata saya sadar bahwa sepertinya lebih baik jika saya tetap berada dalam keadaan tersebut. Tidak memakan waktu yang lama untuk saya menjumpai suatu sosok yang cukup saya kenal yaitu kisah-kisah orang yang menceritakan bagaimana mereka dapat keluar dari jurang ateisme atau – dengan istilah yang saya lebih sering dengar – delusi ateisme. Membaca judulnya saja melonjakan neuron-neuron saya untuk kembali membentuk salah satu kritik terbesar yang saya punya terhadap mereka yang membuat argumentasi apapun terhadap ateisme, bahwa istilah ini tidak hanya membawa satu arti ataupun satu interpretasi saja. Hal ini sepertinya juga terjadi dengan bagaimana kebanyakan orang memandang konsep Satanisme dan Komunisme.

Ada banyak aliran atau pengertian-pengertian dari istilah Satanisme dan Komunisme, namun sejumlah manusia lebih memilih untuk tidak sadar kepada arti-arti alternatif tersebut. Ini entah dalam bentuk ketidaktahuan kepada faktanya arti tersebut adalah arti alternatif dari suatu istilah dan/atau dalam bentuk ketidaktahuan kepada faktanya bahwa arti-arti tersebut ada. Dan oleh karena itu, orang-orang ini hanya lebih mau menggunakan satu pengertian tertentu saja, dari pengertian yang konvensional, akademis, ataupun pengertian lain yang mereka miliki.

Seperti yang anda lihat nanti, intensitas preferensi orang-orang untuk memilih arti yang konvensional atau eksepsional dalam kasus Komunisme dan Satanisme menunjukan suatu kasus yang lebih parah daripada Ateisme, namun ketiga instansi tersebut menimbulkan jenis efek yang – pada dasarnya – sama. Di bagian akhir artikel ini, saya ingin membicarakan mengapa efek tersebut merupakan salah satu hal yang paling negatif bagi suatu diskusi atau debat.

Saya juga akan memberikan apa yang menurut saya beberapa saran untuk menanggulangi masalah ini di diskusi-diskusi yang anda laksanakan di masa depan.


Ketika saya menyebut diri saya sebagai seorang ateis, yang saya maksud adalah seperti ini:

Ada orang-orang yang bilang bahwa suatu keberadaan yang dinamakan Tuhan itu ada, namun saya belum mengetahui alasan-alasan yang cukup baik untuk percaya kepada apa yang mereka bilang.

Secara esensi, inilah pengertian posisi saya (yang saya pegang) sebagai seorang ateis. Dalam maksud, saya memegang posisi dimana saya sendiri belum melihat bukti, alasan, atau dukungan yang – menurut saya – cukup terhadap ide bahwa suatu keberadaan – yang bersifat supernatural, maha kuat, dan maha mengetahui – itu nyata atau ada.

Ini juga pengertian yang diutarkan oleh banyak organisasi ateis dan sekuler paling besar seperti Atheist Alliance International, American Atheists, dan Center For Inquiry. Untuk organisasi ateis yang lebih lokal, kita juga bisa melihat bahwa pengertian yang saya berikan juga mirip, jika bukan sama, dengan organisasi Indonesian Atheists. Jika kita ingin menunjuk ke tokoh-tokoh yang lebih bisa kita tunjuk, kita bisa melihat bahwa pengertian saya juga dipegang oleh Richard Dawkins, Matt Dillahunty, dan Bertrand Russell.

Dengan itu, saya merasa bahwa sepertinya ada suatu siklus yang ganas pada mayoritas diskusi, debat, dan percakapan yang saya ikut sertakan. Tidak kurang dalam pidato atau ceramah-ceramah yang saya lihat dari sisi agama, yakni perbedaan dan/atau keambiguan pengertian yang mereka punya mengenai ateisme. Jika saya harus buat seperti definisi ateisme yang lebih muncul di pengalaman saya, akan menjadi:

Ada orang-orang yang bilang bahwa suatu keberadaan yang dinamakan Tuhan itu ada, namun saya bilang kebalikannya; Tuhan itu tidak ada, dan orang-orang sebelumnya salah.

Menurut saya, sama sekali tidak masalah bagi orang-orang yang mau menggunakan arti tersebut untuk mengartikan ateisme seperti itu. Namun kritik saya adalah untuk orang-orang tersebut menjadi lebih sadar bahwa itu bukanlah satu-satunya arti ateisme sebagaimana masyarakat mengartikannya.

Jadi, jika anda bertemu seseorang yang menggunakan arti yang berbeda seperti sebagai contoh arti sebelumnya, janganlah memaksakan arti yang anda ketahui kepada orang-orang tersebut. Ini bukan berarti anda tidak boleh memperkenalkan arti anda kepada orang lain, hanya saja salah satu pihak di pertemuan ini harus melakukan salah satu dari ketiga aksi:

  • Mencocokan arti kepada orang-orang yang benar
  • Memperbarui pengertian terhadap istilah tersebut
  • Merubah istilah anda dengan menambahkan sesuatu yang bisa mengklarifikasikan pengertian yang ingin diperjelas dalam istilahnya.

Untuk bersikap adil ke aksi ketiga, sebenarnya memang sudah ada usaha-usaha untuk menambahkan dan/atau memperjelas istilah ateisme.

Antony Flew – seorang filsuf Inggris yang terjeram kontroversi dari komunitas ateis setelah ia merevisi posisi ateismenya menjadi deisme – mengakui bahwa di pemakaian bahasa kesehari-harian, istilah ateis dimengerti sebagai seseorang yang menuntut akan ketidakadaanya mahluk yang dipanggil Tuhan. Meskipun dengan itu, ia ingin istilah tersebut dimengerti lebih seperti pengertian pertama yang saya bilang.

Whereas nowadays the usual meaning of ‘atheist’ in English is ‘someone who asserts that there is no such being as God’, I want the word to be understood here much less positively.

Flew, Antony. “The Presumption of Atheism.” Canadian Journal of Philosophy, vol. 2, no. 1, 1972, pp. 29–46. JSTOR, http://www.jstor.org/stable/40230372

Richard Dawkins – seorang figur terkenal dalam apa yang sering dipanggil sebagai gerakan New Atheist – mengilustrasikan kemungkinan ada atau tidak adanya Tuhan bersama dengan tingkat keyakinan kita, pada suatu skala yang terdiri dari 7 kategori dimana kategori paling akhir; Strong Atheist, adalah kategori yang secara esensi benar-benar yakin bahwa Tuhan memang tidak ada. Meskipun dengan nama itu, Dawkins lebih menyangkutkan skala ini kepada ide agnostisme atau – sebagaimana Dawkins sepertinya mengartikan istilah tersebut – posisi dimana seseorang antara belum bisa menentukan jika Tuhan ada atau tidak, atau menuntut bahwa kita tidak bisa mencari tahu Tuhan itu ada atau tidak.

1. Strong theist. 100% probability of God. In the words of Carl Jung: “I do not believe, I know.”

2. De facto theist. Very high probability but short of 100%. “I don’t know for certain, but I strongly believe in God and live my life on the assumption that he is there.”

3. Leaning towards theism. Higher than 50% but not very high. “I am very uncertain, but I am inclined to believe in God.”

4. Completely impartial. Exactly 50%. “God’s existence and non-existence are exactly equiprobable.”

5. Leaning towards atheism. Lower than 50% but not very low. “I do not know whether God exists but I’m inclined to be skeptical.”

6. De facto atheist. Very low probability, but short of zero. “I don’t know for certain but I think God is very improbable, and I live my life on the assumption that he is not there.”

7. Strong atheist. “I know there is no God, with the same conviction as Jung knows there is one.”

“The Poverty of Agnosticism.” The God Delusion, by Richard Dawkins, Black Swan, 2016, pp. 73.

Matt Dillahunty – presiden dari Atheist Community of Austin dan salah satu host dari acara TV, Atheist Experience – juga setuju bahwa seringkali banyak pembela agama (religious apologist) yang membawa arti ateisme kedua ke dalam diskusi daripada membawa arti yang pertama. Dan meskipun begitu, ia juga mengakui bahwa di komunitas sekulerpun belum ada persetujuan yang benar-benar pasti mengenai apa itu sebenarnya seorang ateis itu. Berikut adalah video dimana ia menjelaskan hal tersebut,

(Sayangnya ia juga membicarakan topik ini sehingga saya bisa habis materi yang saya bisa omongi di artikel ini, namun tetaplah menonton videonya).

(Sumber: Channel Matt Dillahunty, Atheist Debates – You’re not an atheist, you’re an agnostic)

Namun, walaupun dari adanya usaha untuk menjembatani pengertian-pengertian yang berbeda ini, tentu saja tidak semua orang sesensitif Flew, Dawkins, ataupun Dillahunty terhadap pengertian-pengertian alternatif dari istilah ateisme. Saya penasaran mengapa ini kasusnya.

Saya bisa membayangi beberapa hal yang mungkin merupakan tanda-tanda penting untuk kita semua bisa mencari tahu jawabannya:

  1. Orang-orang tidak sadar bahwa suatu arti alternatif bisa dipakai untuk mendeskripsikan suatu konsep atau istilah.

Ini adalah satu hal yang menurut saya perlu kita jadikan titik awal investigasi kita. Orang-orang tidak sadar, dalam arti, mereka tidak tahu bahwa mereka bisa mengakui keberadaan pengertian alternatif mengenai suatu istilah atau konsep. Ini juga berarti bahwa walaupun mereka mungkin mengetahui suatu arti alternatif, orang-orang ini tidak tahu bahwa arti tersebut adalah arti alternatif dari suatu istilah atau konsep tertentu.

Sebagai contoh, saya akan memperkenalkan anda ke suatu konsep yang bernama burden of proof (beban pembuktian). Eh, memperkenalkan merupakan kata yang salah karena menurut saya hampir semua orang mengetahui konsep ini, namun hanya sepertinya seringkali melupakan seberapa relevannya konsep ini saat diskusi atau debat biasa.

Untuk itu, saya akan menggunakan contoh yang saya gunakan di artikel saya sebelumnya yaitu Di Mana Pisau Ilmiah Menusuk Keagamaan, yang pada seksi “Hipotesis”, saya memperkenalkan suatu konsep yang bernama Kemarin Kamis-isme.

Kemarin Kamis-isme (Last Thursdayism) adalah ide bahwa alam semesta sebenarnya dibuat kemarin kamis, namun dengan penampilan (fisik yang membuat semua seperti) sudah terbentuk miliaran tahun yang lalu.

https://rationalwiki.org/wiki/Last_Thursdayism

Bayangkan jika orang A datang kepada anda dan bilang bahwa ide Kemarin Kamis-isme adalah suatu hal yang benar. Menurut anda, bagaimana caranya untuk kita mencari tahu kebenaran dari pernyataan tersebut? Satu hal yang mungkin anda pikirkan sekarang adalah faktanya bahwa anda mempunyai banyak ingatan mengenai kejadian-kejadian yang lebih tua daripada hari kamis kemarin. Oleh karena itu, pastinya anda bisa menyimpulkan bahwa alam semesta yang anda tinggali tentunya minimal lebih tua daripada kemarin kamis? Tidak.

Ide Kemarin Kamis-isme yang saya perkenalkan secara langsung menyatakan bahwa penampilan fisik dari alam semesta seperti sudah terbentuk miliaran tahun yang lalu atau lebih tua dari kemarin kamis. Dan dari ini, kita harus ingat bahwa ingatan kita juga bagian dari alam semesta. Ini sebanding dengan mencoba membuktikan bahwa alam semesta lebih tua dari kemarin kamis dengan menunjuk bahwa ada tanaman yang anda tanam kemarin Rabu. Tanaman tersebut masih bagian dari alam semesta seperti ingatan anda. Dan menurut Kemarin Kamis-isme, kedua hal tersebut sama. Mereka hanya tampaknya terbuat pada kurun waktu yang lebih lama dari kemarin kamis, namun aslinya mereka terbuat pada kemarin kamis.

Seperti yang mungkin anda perhatikan, pendekatan yang kita pakai ke ide Kemarin Kamis-isme membuat ide tersebut menjadi tidak bisa dibuktikan tidak benar. Namun dengan itu, apakah kita berarti mengucapkan ide tersebut benar? Tidak juga.

Saat-saat inilah kita membawa konsep beban pembuktian ke perhatian kita. Jika asumsi kita adalah, “Semua hal benar sampai mereka dibuktikan tidak benar”, kita bisa menemui diri kita di suatu situasi yang aneh.

Dari asumsi ini, kita bisa bilang bahwa ide Kemarin Kamis-isme benar karena belum dibuktikan salah. Namun kita harus sadar bahwa Kemarin Kamis-isme bukanlah satu-satunya ide yang berjenis “tidak bisa dibuktikan tidak benar”. Kita juga bisa mempertimbangkan ide baru yaitu Kemarin Rabu-isme, Kemarin Selasa-isme, Kemarin Senin-isme, dan seterusnya. Bahkan kita bisa meningkatkan skalanya bukan hanya menjadi hari, namun juga jam, menit, ataupun detik. Sejam yang lalu-isme, Semenit yang lalu-isme, dan Sedetik yang lalu-isme membawa sifat yang sama seperti Kemarin Kamis-isme, yaitu sifat bahwa ide-ide tersebut tidak bisa dibuktikan salah.

Dengan mempertimbangkan itu, kita sekarang bisa memikirkan ulang kembali jika asumsi, “Semua hal benar sampai mereka dibuktikan tidak benar” sebagai suatu prinsip. Dikarnakan faktanya adalah kita bisa memegang ide apapun yang tidak bisa dibuktikan salah dengan asumsi itu, kita bisa mengatakan bahwa itu adalah suatu asumsi yang kurang bisa dihandalkan demi mencari tahu jika gagasan Kemarin Kamis-isme benar atau tidak.

Bandingkan dengan prinsip kontra yaitu, “Semua hal tidak benar sampai mereka dibuktikan benar”, dan kita bisa melihat perbedaannya. Orang A, yang menyatakan ide tersebut, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk membuktikan kebenaran idenya. Kita, sebagai pendengar, tidak perlu mencari tahu bukti bahwa Kemarin Kamis-isme salah, melainkan kita hanya mempertimbangkan apakah alasan-alasan yang diberi oleh orang A cukup atau tidak, untuk mendukung kebenaran dari ide Kemarin Kamis-isme. Jika orang A tidak bisa memproduksi bukti yang cukup, maka kita bisa bilang bahwa idenya belum dibuktikan benar dan kita bisa menunda untuk memputuskan bahwa ide itu benar atau tidak sampai waktunya datang bahwa seseorang dapat membuat suatu argumen yang baik yang mendukung kemarin kamis-isme.

Kuncinya disini adalah fungsionalitas dari asumsi yang kita ambil ketika kita mempertimbangkan kebenaran suatu gagasan. Jika asumsi yang kita ambil menambah lebih banyak kebingungan dan kontradiksi, sebagaimana asumsi pertama telah mendemonstrasikan, maka kita bisa bilang bahwa asumsi tersebut adalah asumsi yang kurang bisa dihandalkan untuk mencari tahu apa yang paling benar dalam suatu percakapan, diskusi, dan/atau debat. Dan saya baru saja mendemonstrasikan bahwa prinsip, “Semua hal tidak benar sampai mereka dibuktikan benar”, mempunyai nilai fungsional yang lebih besar daripada prinsip, “Semua hal benar sampai mereka dibuktikan tidak benar.”

Dari situ, seharusnya kita tidak terkejut ketika prinsip kedua tersebut dipakai dalam dunia nyata. Ini paling jelas bisa dilihat – dan paling mudah dimengerti – ketika kita ke ilmu hukum dimana beban pembuktian digunakan sebagai suatu kewajiban legal yang dimiliki oleh suatu pihak untuk memberikan bukti yang cukup demi mendukung posisi mereka.

Di ilmu hukum Indonesia, konsep ini dinyatakan dengan jelas di bidang Hukum Perdata sebagaimana dikatakan di Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata).

Setiap orang yang mengaku mempunyai suatu hak, atau menunjuk suatu peristiwa untuk meneguhkan haknya itu atau untuk membantah suatu hak orang lain, wajib membuktikan adanya hak itu atau kejadian yang dikemukakan itu.

Pasal 1865, Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata)

Di ilmu hukum Amerika, konsep ini dinyatakan dengan jelas di suatu kamus istilah-istilah hukum yaitu, Black Law’s Dictionary. Namun, kali ini dinamakan dengan bahasa latinnya yakni, ACTORI INCUMBIT ONUS PROBANDI.

Actori incumbit onus probandi. The burden of proof rests on the
plaintiff (or on the party who advances a proposition
affirmatively.)

“Actori Incumbit Onus Probandi.” Black’s Law Dictionary: Definitions of the Terms and Phrases of American and English Jurisprudence, Ancient and Modern, by Henry C. Black and Joseph R. Nolan, West Publ. Co., 1990, p. 34.

Tentunya, saya tidak mengimplikasikan bahwa semua atau mayoritas orang di muka bumi ini mengetahui konsep ini dikarnakan di pemakainnya di ilmu hukum. Namun, saya cukup yakin bahwa ketika anda membaca deskripsi dari konsep beban pembuktian, anda antara sudah mengetahui apa maksud saya atau mempunyai sedikit angan-angan.

Kalau saya mendukung suatu ide mengenai realita, maka saya harus bisa membuktikan bahwa ide tersebut selaras dengan realita.

Ketika kita dituntut melakukan sesuatu, satu retorika yang akan kita sering pakai langsung adalah, “Apa buktinya kalau saya X?” Dan menurut saya, ini tidak terlalu jauh dari nalar umum yang dimiliki oleh banyak orang.

Meskipun dengan begitu, kasusnya disini adalah ada orang-orang yang lebih memilih untuk bersifat selektif dengan prinsip ini. Mereka akan menangguhkan prinsip “Semua hal tidak benar sampai dibuktikan benar” ketika menghadapi topik-topik tertentu dan menganggap topik yang mereka pertimbangkan tidak perlu diaplikasikan dengan prinsip tersebut. Ini terjadi entah karena mereka berpikir bahwa prinsip ini tidak dibutuhkan untuk kepercayaan tersebut atau dikarnakan mereka berpikir bahwa prinsip ini telah dipenuhi. Kendati, kasus kedua lebih menampakkan suatu hal yang lebih berhubungan dengan sistem episemologi seseorang daripada prinsip beban pembuktian.

Saya harus perjelas bahwa saya tidak tahu alasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa masalah ketidaksadaran terhadap penggunaan arti alternatif ini secara langsung disebabkan karena orang-orang mempunyai motif tersembunyi seperti ingin mengacaukan diskusi atau ingin menggambarkan orang-orang Ateis di gambaran yang menyesatkan. Tidak susah untuk membayangkan hal yang lebih simpel dan sepertinya lebih berkemungkinan terjadi dalam kasus-kasus ini.

Untuk melihat mengapa, kita bisa membayangkan bahwa sebab dari ketidaksadaran orang-orang adalah,

2. Orang-orang tidak pernah mengetahui adanya pengertian-pengertian alternatif.

Tidak jauh dari imajinasi bahwa mungkin seseorang tidak pernah mendidik dirinya bahwa ateisme bisa mempunyai arti seperti arti yang saya punya. Dalam pengalaman saya, saya menemukan bahwa kebanyakan orang melompat langsung ke pertanyaan, “Apa buktinya Tuhan tidak ada?” atau “Jadi… kamu percaya Tuhan gak ada?” dengan nada kebingungan.

Ini menyarankan bahwa orang-orang ini mungkin tidak mempunyai terlalu banyak pengalaman dengan konsep Ateisme yang saya punya atau lebih mempunyai pengalaman dengan konsep Ateisme sebagaimana konsep itu diartikan seperti arti yang kedua. Dan ini seharusnya juga tidak mengejutkan jika kita pertimbangkan seberapa taboonya untuk seseorang membuka dirinya sebagai seorang ateis di negara seperti Indonesia. Namun, itu topik untuk lain hari.

Saya ingin kita fokus kepada ide bahwa pengalaman seseorang dengan suatu istilah akan membentuk persepsinya di interaksi-interaksi yang ia miliki di masa depan dengan istilah itu. Untuk itu, saya akan membandingkan masalah yang ada di istilah ateisme dengan masalah yang ada di istilah komunisme yang – seperti saya bilang di awal – mempunyai intensitas yang lebih tinggi.

Saya bisa mengingat kembali suatu perbincangan yang saya punya dengan salah satu guru saya di SMA kelas 10. Entah mengapa, topik perbincangan tersebut mendadak berubah menjadi peristiwa G30S atau yang juga disebut sebagai Thirtieth of September Movement dimana guru saya mengatakan bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) membunuh beberapa perwira tinggi tentara Indonesia. Hanya karena penasaran saja akan pemahaman guru saya mengenai komunisme, saya bertanya memang apa itu seorang komunis, dan apa itu komunisme. Guru saya langsung mengatakan,

Komunis adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan (Allah) itu tidak ada. Komunisme itu idenya bahwa yang ada itu cuma hal-hal yang bisa dipegang, dirasakan, dilihat, atau diindrakan. Oleh karena itu, orang-orang komunis itu kan juga kejam dan keji, mereka tidak punya perasaan.

Guru Saya

Tentunya, kutipan yang saya beri adalah satu bentuk simplifikasi demi menjaga kejelasan poin saya. Nyatanya, guru saya menggunakan berbagai istilah untuk mendeskripsikan apa itu seorang komunis dan apa itu komunisme; Materialis dan ateis yang menjadi istilah-istilah utama yang ia gunakan secara bergantian. Jadi, bisa dibilang penjelasan yang lebih akurat dari mulut guru saya adalah,

Komunis adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan (Allah) itu tidak ada. Mereka adalah ateis. Komunisme itu idenya bahwa yang ada itu cuma hal-hal yang bisa dipegang, dirasakan, dilihat, atau diindrakan. Jadi, pada intinya, komunisme itu materialisme. Oleh karena itu, orang-orang komunis itu kan juga kejam dan keji, mereka tidak punya perasaan.

Guru Saya

Ini adalah salah satu momen dimana saya sadar bahwa pengertian-pengertian yang kita punya mengenai suatu konsep, ide, atau istilah mungkin sama sekali tidak ada persamaannya dengan pengertian konvensional dan/atau pengertian akademis suatu istilah. Saya anjurkan anda untuk membuka kamus arti manapun, bahkan untuk membuka wikipedia saja, dan saya cukup yakin bahwa pengertian yang diberikan oleh guru saya tidak sama seperti apa yang diibilang oleh kamus-kamus tersebut. Kita bisa melakukan itu sekarang,

Paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunisme

Communism (from Latin communis, “common, universal”) is a philosophical, social, political, economic ideology and movement whose ultimate goal is the establishment of a communist society, namely a socioeconomic order structured upon the ideas of common ownership of the means of production and the absence of social classes, money, and the state.

Wikipedia (English Version), communism

Communism, political and economic doctrine that aims to replace private property and a profit-based economy with public ownership and communal control of at least the major means of production (e.g., mines, mills, and factories) and the natural resources of a society.

Encyclopedia Brittanica, communism

Tetapi, hanya karena suatu pengertian tidak sama bukan berarti itu tidak berhubungan.

Sebagai catatan saja, disini saya menggali ke suatu topik yang sejujurnya benar-benar di luar kompetensi saya. Relasi antar agama dan komunisme adalah suatu topik yang mempunyai terlalu banyak nuansa dan kompleksitas bagi saya, dan saya tidak nyaman untuk bilang bahwa saya mendiskusikannya dengan cukup dalam suatu seksi di suatu artikel yang fokus kepada sesuatu yang lebih fundamental. Dengan saya bilang itu, saya harus mengakui bahwa komunisme – dan/atau implementasi-implementasi dari komunisme – tidaklah asing dari ide-ide yang ateistik atau praktis-praktis yang ateistik. Ateistik, disini, berarti yang berhubungan dengan salah satu definisi Ateisme yang saya bilang sebelumnya atau dengan ekstrapolasi dari salah satu definisi sebelumnya.

Di Perpustakaan Kongres (Library of Congress), kita bisa menemukan suatu arsip yang merinci kampanye-kampanye Uni Soviet yang mengandung unsur anti-agama. Satu kampanye yang disebut dalam arsip tersebut adalah suatu rencana aksi melawan suatu grup clergy (klerus) dan pengikut-pengikutnya yang bernama “Black Hundreds” (Ratusan Hitam).

Grup tersebut menentang keputusan pemerintah untuk mengambil properti-properti berharga yang katanya ingin menggunakan barang-barang tersebut sebagai dana bantuan famine (kelaparan). Lenin, yang merupakan kepala pemerintahan pada saat itu, mengusulkan penangkapan dan pengadilan yang cepat. Aksi ini diikuti dengan penembakan sejumlah besar pihak klerus dan borjuis.

We must pursue the removal of church property by any means necessary in order to secure for ourselves a fund of several hundred million gold rubles (do not forget the immense wealth of some monasteries and lauras).

https://www.loc.gov/exhibits/archives/ae2bkhun.html | Letter From Lenin

Disini saya penasaran. Apakah peristiwa-peristiwa seperti ini yang mungkin mempengaruhi pengertian-pengertian seperti yang ada di pikiran guru saya?

Saya tidak akan terkejut jika ini kasusnya. Peristiwa yang baru saja saya ceritakan juga bukan satu-satunya contoh dari akibat yang sering dikaitkan ke suatu ide atau praktek yang bernama state atheism (ateisme negara). Banyak negara komunis (atau lebih tepatnya marxis-leninis) mempunyai praktek ini dimana suatu bentuk ateisme diterapkan ke pemerintahan negara tersebut.

Salah satu negara terbesar yang pernah mempunyai praktek ini adalah Uni Soviet yang sengaja – walaupun tidak secara resmi – mengejar untuk merendahkan religiusitas serendah mungkin di dalam perbatasannya dan menciptakan suatu archetype (pola dasar) manusia Soviet baru yang Ateis.

Using these sources it is possible to suggest that religious policy up until the late 1980s comprised three main elements:

A socialization process aimed at the creation of the new Soviet (atheist) man;

the administrative and legislative regulation of religious bodies with the ostensible intention of eventually seeing them disappear;

coping with the responses of believers to official policies, if necessary by repressive means.

Anderson, John (1994). Religion, State and Politics in the Soviet Union and Successor States. Cambridge, England: Cambridge University Press. pp. 3. ISBN 0-521-46784-5.

Melihat ini semua, menurut saya tidak susah untuk melihat mengapa banyak orang, termasuk guru saya, yang mengasosiasikan ateisme secara langsung dengan sifat anti-agama dan juga dengan definisi kedua. Mungkin kasus-kasus dari Uni Soviet atau sejarah negara-negara Eropa Timur bukan yang secara langsung menjadi penyebab mengapa guru saya memegang ide-ide tersebut.

Mungkin persepsi kultural lah yang terbentuk dari beragam sebab, yang menyebabkan terbentuknya pengertian-pengertian negatif terhadap istilah atau makna dari istilah seperti komunisme.

Ini, saya percaya tidak terlalu jauh dari kesimpulan aslinya.

Jika kita melihat sejarah United States of America (Amerika Serikat), ada suatu periode dimana kemasyarakatan mereka mempunyai salah satu prasangka terkuat mengenai istilah dan konsep komunisme. Sebelum saya menjelaskan hal ini, saya harus juga menjelaskan gambaran besar dari periode ini dan kondisi seperti apa yang kita hadapi.

Periode ini dikenal sebagai The Second Red Scare (Ketakutan Merah Kedua) dan berlangsung setelah perang dunia kedua usai, atau lebih tepatnya saat periode Perang Dingin. Perang Dingin sendiri adalah suatu topik yang – lagi lagi – di luar skala artikel ini, namun – dari yang saya pelajari – intisari dari latar perang ini adalah Uni Soviet – bukannya memerdekakan negara-negara Eropa Timur setelah pendudukan kekuatan Nazi – malah menduduki negara tersebut dan menggabungkan mereka ke dalam Uni Soviet. Hal ini dianggap salah satu bagian awal dari rantai sebab-akibat yang menaikkan ketegangan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Tidak lupa juga bahwa presiden Amerika sebelum itu, Harry Truman, juga telah menandatangani suatu perintah langsung untuk menyelidiki pekerja yang disangka sebagai seorang “totaliter, fasis, komunis, atau subversif” atau juga yang “… ingin merubah bentuk pemerintahan Amerika Serikat melalui cara yang inkonstitusional.”

3. The Loyalty Review Board shall currently be furnished by the Department of Justice the name of each foreign or domestic organization, association, movement, group or combination of persons which the Attorney General, after appropriate investigation and determination, designates as totalitarian, fascist, communist or subversive, or as having adopted a policy of advocating or approving the commission of acts of force or violence to deny others their rights under the Constitution of the United States, or as seeking to alter the form of government of the United States by unconstitutional means.

Executive Order. No. 9835, 1947.
https://www.trumanlibrary.gov/library/executive-orders/9835/executive-order-9835

Hal terkahir yang kita perlu ketahui adalah seorang senator yang bernama Joseph McCarthy. Mengapa? Karena periode ini, yang dipanggil sebagai Ketakutan Merah Kedua, juga dikenal sebagai era McCarthyism (McCarthisme) karena aksi dari senator ini.

Sebelum Korean War (Perang Korea) dimulai, Senator McCarthy menyampaikan di suatu pidato bahwa ia mempunyai suatu daftar nama-nama anggota Communist Party of the United States of America (Partai Komunis Amerika Serikat) yang bekerja di Department of the State. Implikasi dari klaim ini adalah bahwa musuh-musuh negara Amerika sedang bekerja dalam pemerintahan dan mereka bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan negeri, terutama mengenai isu terhadap negeri-negeri luar, ke arah yang tidak baik bagi Amerika. Harus diingat bahwa ini bukan satu-satunya instansi dimana sekelompok orang dituduh sebagai seorang komunis atau seorang simpatisan, namun hanya salah satu dari banyak kejadian dimana praktek yang dinamakan McCarthyism ini dilaksanakan di periode ini. Oleh karena itu, praktek ini juga sering dipanggil sebagai suatu witch hunt (perburuan penyihir).

Dari ketiga instansi tersebut, tidak susah untuk melihat persepsi kultural yang ada. Dari instansi paling pertama yaitu aksi Uni Soviet terhadap Eropa Timur mungkin meninggalkan impresi bahwa orang-orang komunis adalah mereka yang menetap di tanah negara lain. Dari instansi kedua yaitu Perintah Eksekutif No. 9835 mungkin meninggalkan impresi bahwa orang-orang komunis sama atau sebanding dengan mereka yang mau merubah Amerika melalui cara yang unkonstitusional. Dari instansi ketiga yaitu aksi Senator McCarthy dan juga perilaku-perilaku yang sama mungkin meninggalkan impresi bahwa ancaman komunisme ini adalah ancaman yang aktif bagi Amerika.

Secara keseluruhan, tidak susah untuk membuat koneksi bahwa jika kita ambil seorang supporter McCarthy dari periode ini dan kita tanya dia mengenai pengertiannya mengenai komunisme atau siapa itu para komunis, deskripsi yang ia berikan akan mengandung unsur-unsur yang mungkin fokus pada hal-hal yang menyimpang dari sebagaimana kamus-kamus mendefinisikannya. Mungkin orang tersebut akan mengartikan komunisme sebagai suatu ide yang mendukung imperialisme karena Uni Soviet pada saat itu menduduki negara-negara lain. Mungkin orang tersebut akan mengartikan komunisme sebagai ide yang mendorong pelengseran pemerintahan Amerika sebagaimana diimplikasikan di Perintah Eksekutif 9835. Keberadaan sentimen-sentimen ini bisa kita tarik dari beberapa hal.

  • Dua tahun setelah pidato yang diberi oleh Joseph McCarthy, ia mendapat 54,2% (870.444 suara) untuk pemilu Wisconsin sehingga partai Republican berhasil memegang pemilu Tahun 1952 tersebut.
  • Ia juga mendapat dukungan dari komunitas Katolik Amerika Serikat yang merupakan sekitar 20% dari total suara nasional. Ini dilanjutkan dengan pertemanannya dengan salah satu keluarga terkuat di Amerika Serikat yaitu Keluarga Kennedy yang juga dibilang cukup terpandang di antara para katolik.
  • Di tahun 1954, suatu pungutan suara Gallup menyatakan bahwa McCarthy mempunyai hampir setengah dari semua orang Amerika memegang opini yang positif mengenai McCarthy.

Suatu argumen mungkin bisa dibuat bahwa kebanyakan orang pada saat itu tidak memegang ide-ide McCarthy sekuat yang kita bayangkan sekarang. Lagipula kita tidak mempertimbangkan bahwa di tahun yang sama, pada bulan Juni, ada suatu pungutan suara lagi yang menunjukan bahwa dukungan yang dimiliki McCarthy sebelumnya jatuh ke 34% dari 50% yang sebelumnya ditemukan. Mereka yang memegang opini negatif terhadap McCarthy juga berjumlah sekitar 29%. Namun meskipun jika kita pertimbangkan hal ini dalam hipotesis kita, kita masih mempunyai alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa McCarthy mempunyai dukungan dalam witch hunt nya. Mungkin Richard Rovere dalam bukunya, Senator Joe McCarthy, benar bahwa banyak orang yang biasanya skeptis terbawa-bawa dalam retorika McCarthy sehingga orang-orang menyimpulkan bahwa memang ada alasan yang baik di balik ini aksi-aksi McCarthy. Analogi yang digunakan oleh Rovere lebih tepatnya adalah,

…he (McCarthy) sent up such vast and billowing clouds of smoke that many men and women who were not abnormally gullible became convinced that there must be a fire beneath it all.

“What He Was and What He Did 1.” Senator Joe McCarthy, by Richard Halworth Rovere, University of California Press, 1995, pp. 21–22.

Bagaimanapun juga, fakta McCarthy mempresentasikan komunis dan komunisme, sebagai suatu ancaman, dan berhasil, sulit untuk diragukan. Oleh karena itu, saya hampir yakin bahwa sentimen-sentimen potensial yang saya katakan dipegang, setidaknya jika bukan sebagai kepercayaan yang diberikan kepada orang lain, akan sebagai kecurigaan yang dipegang pendukung-pendukung McCarthy.

Tentu, kemungkinan pengertian-pengertian seperti ini dari permukaannya tidak ada hubungannya dengan definisi-definisi yang diberikan oleh KBBI, Merriam-Webster, dan juga Encyclopedia Brittanica. Namun, sebagaimana saya mengatakan, yang penting disini bukanlah bagaimana istilah-istilah seperti komunisme diartikan secara konvensional, akademis, ataupun bagaimana kata-kata ini diartikan pertama kali oleh pelopornya atau oleh orang-orang, melainkan yang lebih penting disini adalah apa yang membuat orang-orang mengartikan atau mengasosiasikan suatu istilah atau ide kepada hal yang lain. Dan dalam konteks komunisme dalam era McCarthyisme, itu adalah persepsi masyarakat pada saat itu yang menciptakan suatu solidaritas dalam pandangan orang-orang mengenai istilah dan konsep komunisme.

Dengan semua itu saya bilang, tetap saja bahwa faktanya adalah kondisi-kondisi dunia sudah berubah. Keberadaan internet memperbolehkan orang-orang, seperti saya sendiripun diperbolehkan, untuk mengetik suatu istilah di platform seperti Google atau Wikipedia dan menemukan arti, sentimen, dan konsepsi komunisme yang berbeda dari yang ada saat era McCarthyisme. Sebagian besar penelitian yang saya lakukan mengenai topik ini, saya melakukannya melalui Google dan Wikipedia. Oleh karena ini semua, saya tidak bayangkan bahwa kasusnya adalah akan terlalu susah untuk mayoritas orang di dunia ini yang memiliki akses internet untuk mendapatkan informasi-informasi mengenai pengertian suatu istilah seperti istilah ateisme.

Kalau begitu, mengapa malah kasusnya masih ada orang-orang – seperti guru saya – yang mempunyai persepsi terhadap istilah-istilah seperti komunisme layaknya era McCarthyisme? Mengapa masih ada orang-orang yang berpikir bahwa ateisme secara langsung berarti kepercayaan bahwa Tuhan tidak ada atau pada intinya suatu klaim yang mengatakan Tuhan tidak ada?

Disini kita masuk ke alasan ketiga, dan menurut saya salah satu fondasi yang penting dari masalah ketidaksadaran terhadap nuansa arti ini.

3. Orang-orang tidak peduli dengan pengertian-pengertian alternatif.

Berbeda dengan kedua poin besar sebelumnya, saya tidak akan menjelaskan mengapa orang tidak peduli dengan langsung. Kepedulian adalah suatu hal yang kita berikan dalam kondisi-kondisi tertentu. Fakta bahwa ada suatu semut dekat kita mungkin tidak cukup untuk kita pedulikan, namun kita segera memberikan kepedulian ketika semut tersebut merambat ke kaki kita dan menggigit. Rasa sakit membuat kita peduli akan semut tersebut dan mendorong kita untuk mengambil suatu aksi seperti membelai kaki kita atau memukul semut itu. Hal ini adalah satu demonstrasi bagaimana kepedulian bekerja secara umum. Kita peduli ketika ada alasan yang cukup untuk peduli.

Dengan itu, bagaimana caranya kita mengetahui kondisi-kondisi yang tepat untuk seseorang peduli dengan nuansa suatu istilah atau konsep? Kita bisa menjawab ini dengan melihat ke orang-orang yang peduli dengan pengertian-pengertian alternatif suatu istilah dan mencari perbedaan yang relevan antara mereka dan orang-orang yang tidak peduli.

Saya pernah mendapat beberapa kesempatan untuk berbicara dengan beberapa orang yang masing-masing memanggil diri mereka sebagai seorang satanis. Berkebalikan dengan bagaimana satanisme biasa di media-media diartikan, orang-orang yang saya temui mengklaim bahwa faktanya satanisme yang mereka praktekan sama sekali berbeda dengan impresi yang saya dapatkan. Saat itu, mereka menjelaskan apa yang mereka percayai. Dan dalam percakapan bersama mereka masing-masing, saya menemukan bahwa satanisme – berdasarkan pengertian orang-orang ini – bisa diklasifikasikan menjadi berikut:

Satanisme Teistik yang mengatakan bahwa Satan adalah suatu keberadaan yang benar-benar ada dan pantas disembah.

Ini adalah apa yang sering digambarkan di media populer. Sekumpulan orang yang mempunyai jubah gelap dan menggambar pentagram (bintang berujung lima) untuk menyembah setan. Meskipun bagian menyembah setannya saja yang sepertinya akurat, tipe Satanisme ini adalah yang paling sering digambarkan sebagai musuh utama masyarakat ketika orang-orang menggunakan istilah satanis sebagai suatu alat polemic (retorika penyerangan suatu posisi) dimana – seperti dalam kasus Senator McCarthy dengan istilah komunisme – istilah Satanis dipakai untuk mengimplikasikan pemegangan suatu posisi yang dipandang buruk.

Di bawah adalah satu doa yang menggambarkan bentuk kepercayaan ini (namun suatu hal yang saya temui secara independen dari interaksi saya):

AVE SATANA!

Hail, Satan,
Lord of Darkness,
King of Hell,
Ruler of the Earth,
God of this World!

God Who invites us to become as gods!
Muse of our civilization,
Dread Enemy of its tyrant god!
Satan, mighty Liberator,
Bearer of true Light!

God of our flesh,
God of our minds,
God of our innermost Will!

O mighty Lord Satan,
teach us to become strong and wise!
Teach us to vanquish the enemies
of our freedom and well-being!

REGE SATANA!

“Invocation to Satan”. http://theisticsatanism.com/invocation.html

Yang kedua adalah Satanisme Ateistik yang menggunakan karakter Satan sebagai suatu simbol tidak untuk obyek penyembahan, melainkan sebatas simbol saja untuk fungsi lain yakni seperti untuk representasi dari kepercayaan-kepercayaan mereka.

Orang yang saya temui secara khususnya adalah apa yang dipanggil sebagai LaVeyan Satanist. Meskipun simbolismenya masih ada, filosofi dan ide-ide yang dianjurkan oleh kepercayaan ini jauh berbeda dari Satanisme Teistik. Anton LaVey, pendiri dari Gereja Satan yang merupakan sumber dari bentuk Satanisme ini, adalah seorang advokat berat dari individualisme dan hedonisme dan iapun tidak segan untuk mengekspresikan filosofinya melalui ajarannya. Berikut adalah sembilan pernyataan yang dianggap sebagai garis besar kepercayaan Satanisme LaVeyan:

1. Satan represents indulgence instead of abstinence.

2. Satan represents vital existence instead of spiritual pipe dreams.

3. Satan represents undefiled wisdom instead of hypocritical self-deceit.

4. Satan represents kindness to those who deserve it, instead of love wasted on ingrates.

5. Satan represents vengeance instead of turning the other cheek.

6. Satan represents responsibility to the responsible instead of concern for psychic vampires.

7. Satan represents man as just another animal who, because of his “divine spiritual and intellectual development”, has become the most vicious animal of all.

8. Satan represents all of the so-called sins, as they all lead to physical, mental, or emotional gratification.

9. Satan has been the best friend the Church has ever had, as he has kept it in business all these years.

“Prologue.” The Satanic Bible, by Anton LaVey, Avon Books, 1969, p. 25.

Itu semua adalah sekilas dari kemungkinan mengenai seberapa bernuansanya suatu topik, yakni dalam rangka Satanisme. Dan kita bisa menjadikan itu titik investigasi kita mengapa orang-orang peduli dengan nuansa suatu istilah.

Dari permukaan kita bisa mengatakan bahwa simbol Satan sendiri memang tidak diperlukan untuk memegang kepercayaan-kepercayaan yang bersifat individualistik, hedonistik, ataupun naturalistik. Dan bahkan menurut saya cukup aneh untuk seseorang yang ingin mempresentasikan dirinya sebagai hal-hal tersebut untuk melakukannya dalam salah satu cara yang provokatif yaitu dengan mengasosiasikan dirinya dengan Satanisme.

Namun, saya kemudian sadar bahwa sepertinya saya lah yang tidak menangkap poin yang ingin dibuat oleh sang LaVeyan ini.

Saya menanyakan dia mengenai tujuannya mengambil persona Satanis dan ia pun menjawab bahwa sifat provokatifnya tersebut adalah mengapa ia seorang Satanis LaVeyan. Suatu motif dibelakang aksi ini adalah keinginannya untuk orang-orang memikirkan topik-topik yang berhubungan dengan agama seperti keberadaan Tuhan, moralitas, dan lain-lain. Ini adalah suatu momen dimana saya sadar bahwa kita berdua tidak terlalu berbeda karena saya juga ingin orang-orang lebih aktif dalam topik-topik seperti agama, moralitas, filosofi, dan lain-lain.

Dikarnakan juga bahwa faktanya adalah istilah-istilah ini berhubungan dengan posisi-posisi yang dipegang oleh orang dalam suatu topik atau subjek, kepedulian kita terhadap istilah-istilah tersebut, dari yang konvensional ke yang tidak konvensional, juga berhubungan besar dengan kepedulian kita terhadap topik atau subjek tersebut.

Hal ini bisa diilustrasikan dengan pertanyaan, “Bisakah kasusnya orang-orang akan tidak peduli dengan arti-arti dari istilah yang mereka gunakan jika mereka peduli dengan bagaimana orang lain melihat posisi mereka di topik yang berhubungan dengan istilah tersebut?”

Sebagai contoh untuk menggambarkan lebih lanjut, bayangkan jika ada seseorang yang namanya Andi. Ia adalah seorang pemeluk agama Islam sehingga ia pun rajin sholat dan lain-lain. Pada suatu hari, ia bertemu dengan Baba yang mengetahui Islam sebatas apa yang disensasionalisasikan oleh media massa yakni pemeluk Islam adalah teroris. Andi, yang melihat Baba menjelaskan pengertiannya mengenai Islam, merasa kaget sehingga ia mencoba menjelaskan bahwa kepercayaan Islam yang ia miliki tidak membawanya ke kesimpulan-kesimpulan yang bersifat terorisme. Ini adalah salah satu bentuk seseorang yang peduli dengan bagaimana orang lain melihat posisi mereka sehingga ia secara langsung juga akan peduli tentang arti-arti dari suatu istilah, yakni dalam kasus ini istilah Islam.

Sama juga dalam kasus sang Satanis LaVeyan. Ia peduli dengan perbedaannya dengan Satanis yang Teistik karena itu bukanlah posisi yang ia pegang, namun sayangnya yang sering berada di pikiran kebanyakan orang ketika kata Satanisme terdengar. Oleh karena itu, kita bisa bilang ia peduli dengan nuansa arti suatu istilah, yakni dalam kasus ini istilah Satanisme.

Dengan itu, mengapa mereka peduli dengan apa yang mereka pedulikan adalah suatu percakapan yang terlalu menyimpang dari topik utama kita. Jika saya pikirkan mengenai suatu persamaan antara orang yang peduli nuansa arti Satanisme, orang yang peduli nuansa arti Komunisme, dan orang yang peduli nuansa Ateisme, satu atribut yang sama dari semua kasus itu adalah topik-topik yang mereka pedulikan berhubungan dengan suatu aspek hidup yang sudah dipedulikan lebih awal daripada istilah tersebut.

Dalam kasus orang yang mengaku bahwa ia adalah seorang Satanis LaVeyan, aspek hidup yang berhubungan bisa kita sebut sebagai aspek etika pribadi. Dalam kasus orang yang mengaku bahwa ia adalah seorang komunis, aspek hidup yang berhubungan bisa kita sebut sebagai aspek sosial ekonomi. Dalam kasus orang yang mengaku bahwa ia adalah seorang ateis, aspek hidup yang berhubungan bisa kita sebut sebagai aspek keagamaan.

Pada intinya, sepertinya kalau mengapa orang-orang mempedulikan topiknya adalah yang sendirinya suatu topik yang memperlukan pemikiran lebih mendalam daripada satu seksi artikel saja.


Dengan semua itu, saya sayangnya tidak bisa mendiskusikan lebih lanjut mengenai sebab-sebab mengapa fenomena ketidaksadaran ini terjadi. Ketiga sebab yang saya sajikan di artikel ini adalah beberapa hal yang menurut saya pantas kita verifikasi melalui pengalaman-pengalaman kita sendiri jika kita ingin mengetahui dengan lebih pasti. Bisa dibilang bahwa mereka adalah suatu model informal untuk menjelaskan mengapa fenomena ini terjadi daripada suatu model ilmiah yang asli.

Namun meskipun begitu, saya lebih tertarik ke bagian teks ini dimana saya akan membicarakan mengenai satu efek negatif dari fenomena ini terhadap diskusi-diskusi yang kita laksanakan. Ini bukan hanya karena bagian ini lebih mudah dijelaskan, namun juga karena memiliki penjelasan yang jauh lebih bisa diuji kebenarannya dengan pengalaman anda sendiri.

Untuk memulai, saya akan memberi suatu pertanyaan untuk merangkum masalah dari seksi ini:

Apa efek ketidaksadaran terhadap nuansa suatu istilah, konsep, atau gagasan terhadap suatu diskusi?

Dan mengapa efek tersebut negatif?

Suatu diskusi, secara konvensional, diartikan sebagai suatu percakapan dimana para partisipan memberi opini mereka masing-masing mengenai suatu masalah. Jika berbeda dari satu sama lain, mereka akan mencoba untuk mencari tahu apa yang membedakan opini tersebut dan menyatukan opini mereka sehingga suatu persetujuan ditemui mengenai masalah yang mereka bicarakan yang semua pihak anggap bahwa persetujuan ini sudah paling benar.

Tentu saja, deskripsi tersebut adalah suatu hal yang sangat idealistis karena tidak semua diskusi mengenai satu masalah saja, tidak semua diskusi tertarik untuk mencari tahu perbedaan dalam opini masing-masing pihak, tidak semua diskusi mencari tahu fokus untuk mencari tahu apa yang paling baik bagi semua pihak untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan tentunya tidak semua diskusi mempunyai pihak-pihak yang sudah sebelumnya mempertimbangkan masalah diskusinya. Namun meskipun itu, ini adalah apa yang secara umum kita harapkan dari suatu diskusi.

Sebanyak-banyaknya saya tidak suka menarik pengertian kamus, kita bisa melihat bahwa ini adalah salah satu pengertian terbesar yang diberikan oleh kamus-kamus kita.

pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diskusi

the activity in which people talk about something and tell each other their ideas or opinions

Cambridge Dictionary. DISCUSSION

consideration of a question in open and usually informal debate

Merriam-Webster. Discussion

Satu hal yang perlu kita benar-benar ambil adalah mengenai tujuan dari suatu diskusi. Suatu diskusi memang tidak harus fokus demi mencari tahu solusi suatu masalah. Bisa saja diskusi yang anda miliki berfungsi demi menghibur saja. Atau hanya demi suatu tugas sekolah. Namun, diskusi yang proyek ini inginkan adalah diskusi yang fokus untuk mencari apa yang paling benar bagi suatu topik atau apa yang paling berguna demi menyelesaikan suatu masalah. Dan oleh karena itu, diskusi yang proyek ini laksanakan memperlukan suatu unsur untuk melancarkan proses diskusi ini, ataupun bahkan pertama-tamanya untuk menjadikan diskusi suatu kemungkinan yang bisa ada.

Bayangkan anda bersama seorang teman akan mendiskusikan tentang film-film Marvel. Anda berbincang-bincang dengan lawan bicara anda, membandingkan Marvel dengan DC, dan-lain-lain. Namun, pada suatu titik di diskusi ini, teman anda bilang bahwa semua film Marvel jelek karena ia benci dengan karakter Captain America sebagai protagonis. Anda bingung. Tentunya, film-film Marvel tidak hanya mengandung karakter Captain America, dan tentunya ia bukanlah satu-satunya karakter utama dalam Marvel Cinematic Universe (Jagat Sinematik Marvel). Anda tanyakan hal ini kepada dia, dan dia pun kaget. Ternyata, anda menemukan bahwa teman anda belum melihat film-film Marvel selain film-film Captain America saja. Dan karena terbatasnya pengalaman teman anda dengan film-film Marvel, ia berasumsi bahwa hanya film Captain America sajalah yang merupakan film-film Marvel.

Sebelum anda menanyakan hal itu ke teman anda, tanyalah sekarang ke diri anda: Apakah mungkin untuk anda mengevaluasi argumen apapun yang diberi oleh teman anda dengan adil demi mendukung kesimpulan bahwa film-film Marvel jelek?

Ini mengungkapkan unsur yang saya maksud yakni kejelasan.

Jika suatu topik yang anda bahas saja belum dimengerti sama bagi semua pihak diskusi, maka agak susah untuk anda membicarakannya selayaknya teman anda membicarakannya. Di saat yang sama, hal ini lah yang menjadi efek yang saya maksud dari ketidaksadaran terhadap nuansa.

Tidak sadarnya seseorang dengan nuansa arti suatu istilah membatasi dia ke konteks tertentu saja sehingga suatu konflik, sebagaimana terjadi di contoh tadi, bisa terjadi dimana pengertian anda dan pengertian dia bertabrakan.

Dengan itu, saya bilang efek ini adalah suatu hal yang negatif dikarnakan, secara langsung ataupun tidak langsung, menghambat dan bahkan bisa memberhentikan usaha untuk mencapai tujuan diskusi kita. Dalam Teras blog ini, saya menulis,

Kami ingin mengkritik diri kami masing-masing dalam rangka membantu satu sama lain mencapai kesimpulan yang benar dan membantu mengenai topik-topik yang penting bagi kita.

Grupkapital.id

Dan saya benar-benar mengidentifikasikan diri saya sendiri dan proyek ini ke pernyataan itu. Kalau mengapa ini suatu tujuan yang seharusnya kita semua inginkan dalam bentuk apapun, tentunya karena tujuan itu menurut saya suatu tujuan yang paling bisa mendekatkan kita ke apa yang paling benar dan membantu. Untuk mengapa saya berpikir bahwa kebenaran adalah suatu hal yang seharusnya kita prioritasikan, anda bisa melihat artikel paling pertama saya yaitu AGAMA BERSEMBUNYI DI BALIK TIRAI TOLERANSI dimana saya membicarakan tentang mengapa kita tidak seharusnya menghargai kepercayaan-kepercayaan faktual yang dianjurkan oleh agama untuk kita percayai.

Sekarang, dengan mengetahui ini, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan, ataupun setidaknya menanggulangi, masalah ketidakjelasan ini?

Sebelumnya saya sudah menyarankan untuk kita melakukan satu dari tiga hal ketika mendapatkan masalah ini. Entah kita mencocokan arti istilah kita ke hal-hal yang cocok, mengganti istilah kita, atau kita memodifikasi istilah kita sehingga menjadi lebih jelas. Ini tetap menjadi sesuatu yang menurut saya pantas kita laksanakan demi meminimalisir kesalahpahaman yang timbul dari ketidakjelasan suatu istilah. Namun ini tidaklah suatu hal yang anda harus lakukan setiap saat.

Tetap ingat bahwa tujuan kita dalam mencoba untuk menanggulangi masalah ini adalah untuk mencapai kejelasan antarpihak dalam suatu diskusi. Jika anda menemukan suatu hal yang lebih membantu yang bukan dari ketiga hal tadi, maka anda sebaiknya melakukan hal yang anda temukan itu. Dengan itu, saya juga mempunyai beberapa saran lanjutan yang merupakan suatu ekstensi dari poin saya tadi untuk melakukan ketiga hal.

  • Jika anda merasa ada yang aneh dengan penggunaan suatu istilah, hentikan yang sedang berbicara dan mintalah dia untuk mengklarifikasikan apa yang dia maksud dengan istilah tersebut

Dalam diskusi yang anda lakukan dengan orang lain, anda mungkin menemukan bahwa memang anda seringkali tidak bisa menghandalkan orang lain untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan suatu istilah/konsep/gagasan saat dia sedang membuat poin yang berdasar pada istilah tersebut. Jika anda sering menemukan diri anda di situasi ini, satu hal yang anda seharusnya lebih lakukan adalah segera mencari arti dari hal tersebut.

Saya bilang ini utamanya demi menghindari sesuatu yang bernama equivocational fallacy atau fallacy of equivocation (keliruan equivokasi).

Keliruan equivokasi adalah keliruan yang muncul dalam suatu argumen ketika suatu istilah digunakan dalam lebih dari satu arti tanpa mengklarifikasikannya untuk mendukung suatu poin. Satu contoh yang paling mudah dilihat (dan juga favorit saya) adalah sebagai berikut:

Annoying customers are a headache

Aspirin can help you get rid of a headache

Aspirin can help you get rid of annoying customers

https://effectiviology.com/equivocation/#Examples_of_the_equivocation_fallacy
  • Pelajari dasar dari topik yang anda akan bicarakan dan juga pastikan bahwa anda mengetahui arti-arti konvensional, akademis, dan lain-lain

Meskipun saran ini sebenarnya bergantung pada topik apa yang anda bicarakan, anda umumnya seharusnya sudah mengerti topik macam apa yang anda bicarakan dan apa yang pada dasarnya sudah umum diketahui dalam diskusi-diskusi lain. Ini saya sarankan agar anda bisa menunjuk kepada instansi-instansi dimana pengertian seseorang terlalu terlepas dari bagaimana orang lain mendefinisikannya sampai di suatu poin dimana pengertian yang dianut oleh seseorang tersebut sama sekali tidak membantu dalam suatu diskusi.

Sebagai contoh, tidak ada yang mencegah seseorang untuk menukar definisi istilah mobil dengan istilah motor. Namun, seberapa bergunanya penukaran definisi itu tidak ditentukan oleh satu orang saja. Jadi ketika anda bertemu dengan orang ini dan berbincang, anda bisa menunjukan bahwa definisi yang dianut oleh orang ini sebaiknya tidak dipakai karena bukannya akan memperjelas diskusi, namun malah memperumitnya.

  • Dan saran saya yang paling akhir (yang juga berfungsi sebagai penutup artikel ini), pilihlah diskusi yang anda akan ikuti

Dalam kata lain, janganlah ceroboh dalam keputusan anda untuk berpartisipasi dalam suatu diskusi. Ini berurusan dengan tujuan besar kita yakni untuk mencari kesimpulan yang paling benar dan paling berguna.

Pada intinya, anda harus bisa mengukur nilai dari suatu diskusi tanpa berpartisipasi terlalu mendalam di diskusi tersebut.

Jika kita bisa mengetahui masa depan kita dalam suatu diskusi dan menemukan bahwa ternyata dalam diskusi tersebut kita lebih fokus mencoba untuk memperjelas poin lawan bicara anda daripada membahas poin tersebut, dan anda di masa depan masih tidak mengerti, maka menurut saya yang anda seharusnya lakukan sekarang adalah menyerah dari diskusi tersebut. Saya bilang ini dikarnakan kodrat dari realita dibelakang diskusi-diskusi ini.

Tidak semua orang berkemampuan menjelaskan suatu poin. Anda juga akan bertemu dengan orang yang kurang bisa menangkap suatu poin. Dan utamanya, momen-momen dimana anda curiga dengan motif orang tersebut akan muncul. Apakah ia jujur dengan poinnya, ataukah dia hanya mencoba untuk membuang waktu anda?

Permasalahannya adalah waktu, energi, dan tekad anda terbatas, dan tidak bisa dihabiskan untuk menggapai semua tujuan besar yang anda inginkan, yang kali ini adalah untuk memperjelas poin seseorang atau memperjelas poin anda.

Jika tujuan anda, seperti yang dibilang tadi, untuk mencari kesimpulan yang paling benar dan paling berguna, maka waktu, energi, dan tekad seharusnya anda tidak habiskan ke setiap orang yang anda hanya tidaksetujui. Malahan ketiga hal tersebut, selayaknya dana suatu bisnis, harus dihabiskan ke hal-hal yang memaksimalkan pembelajaran anda dan meminimalisir kerugian intellektual anda. Yang anda harus perhatikan adalah lebih tepatnya biaya peluang anda.

Waktu, energi, dan tekad yang anda habiskan ke orang X bisa saja anda habiskan untuk membaca hal-hal yang lebih jelas ataupun berdiskusi dengan orang-orang yang sudah anda kenal lebih sanggup untuk memperjelas suatu istilah, konsep, atau gagasan. Jadi, pada esensinya, jika anda ingin menghindari atau meminimalisir pertemuan anda dengan ketidakjelasan dalam suatu diskusi, janganlah memasukki suatu diskusi yang anda cukup pasti akan membawa anda hal-hal yang tidak jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: