PENDING: ALAM SEMESTA

Pencipta: Ria Dara

Pembaca mungkin sering melihat atau mendengar naratif-naratif takjub ke kebesaran alam semesta. Entah dari perspektif agamawi yang seringkali menggunakan skala alam semesta sebagai suatu bukti dari keagungan Tuhan atau dari perspektif peneliti-peneliti yang seringkali menyentuh topik besarnya alam semesta selayaknya seorang seniman, terpukau dengan apa yang ia temukan dalam alam semesta yang mereka teliti. Di artikel yang relatif pendek ini, saya tertarik untuk membicarakan mengenai perspektif yang kedua.

Lebih tepatnya, perspektif yang saya maksud adalah yang mengatakan bahwa kita, para manusia, tidak sepenting yang kita kira dalam skala yang diberikan oleh alam semesta. Pembaca sendiri mungkin pernah melihat video-video yang mendukung hal ini dengan suatu perbandingan yang semakin lama anda tonton semakin susah anda bayangkan.

Universe Size Comparison 3D, Harry Everett

Maka dari itu tidak susah untuk membayangkan bahwa perbandingan ini seringkali memicu perspektif yang bisa diinterpretasi secara nihilistik dan / atau apatistik mengenai keberadaan manusia dan apa yang kita lakukan di alam semesta ini. Ini bisa dicerminkan dari apa yang Carl Sagan, seorang figur dan peneliti yang sangat terkenal dalam komunitas ilmiah, pernah katakan mengenai foto Bumi yang diambil oleh satelit jarak Voyager 1:

Pale Blue Dot

Consider again that dot. That’s here. That’s home. That’s us.

On it, everyone you love, everyone you know, everyone you ever heard of, every human being who ever was, lived out their lives. The aggregate of our joy and suffering, thousands of confident religions, ideologies, and economic doctrines, every hunter and forager, every hero and coward, every creator and destroyer of civilization, every king and peasant, every young couple in love, every mother and father, hopeful child, inventor and explorer, every teacher of morals, every corrupt politician, every “superstar,” every “supreme leader,” every saint and sinner in the history of our species lived there-on a mote of dust suspended in a sunbeam.

Sagan, Carl (1997). Pale Blue Dot. United States: Random House USA Inc. p. 6-7. ISBN 9780345376596.

Saya berpikir bahwa merupakan suatu hal yang tidak mengejutkan jika seseorang bisa mengerti mengapa Sagan mengatakan hal itu. Maksudnya, ya lihat saja. Di foto itu, bumi hanya selayaknya satu atau dua pixel. Dibandingkan alam semesta, yang saya cukup yakin lebih besar daripada apa yang ditunjukan foto itu saja, kita hanya merupakan suatu butir pasir di gurun sahara. Jadi, mungkin saja para nihilis dan apatis yang muncul dari kenyataan ini mempunyai suatu poin?

DUA MASALAH

Meskipun saya harus setuju dengan sentimen yang dibawa oleh mereka yang menjadi nihilistik dan apatistik karena perbandingan tersebut, saya juga merasa bahwa sentimen mereka terlalu ditekankan.

Dalam rangka seberapa pentingnya aktivitas kita, coba ingat kembali apa yang kita pikirkan sebelum kita sadar mengenai skala manusia dibanding dengan alam semesta. Anda mungkin saat itu sedang memikirkan tentang seberapa enaknya jika anda pergi ke Jepang untuk mencoba daging Miyazaki Wagyu, atau sesuatu yang lebih serius seperti apa Universitas yang anda seharusnya masukki, atau mungkin mengenai karir anda. Dan setelah melihat gambar Pale Blue Dot anda merasakan suatu perasaan dikecilkan dan dikurangi karena anda sadar bahwa hal-hal yang anda pikirkan tadi tidak ada maknanya dalam gambaran alam semesta.

Saya percaya bahwa disinilah kita membuat suatu lompatan dalam penyimpulan kita. Menurut saya ada dua masalah dengan lompatan ini.

Masalah pertama menyentuh bagian fundamental dari kesimpulan itu, yakni satu bentuk dari argumen tadi yang mendukung sikap nihilisme dan apatisme melalui dasar bahwa apa yang kita lakukan tidak mempunyai nilai apapun di alam semesta. Masalah kedua adalah dengan kesimpulannya sendiri bahwa apa yang kita lakukan tidak mempunyai nilai, dan di seksi ini saya mendukung bahwa kita malah seharusnya menjadi lebih bernilai dan bermakna.

Dengan itu, saya akan memulai dari masalah yang pertama.


MASALAH PERTAMA

Bumi sangat kecil dibandingkan dengan alam semesta. Oleh karena itu, apapun yang manusia lakukan di bumi sama sekali – secara objektif – tidak berarti.

Itu adalah salah satu bentuk sentimen tadi. Tentunya, apa yang pembaca akan temui tidak akan sejelas atau sesimpel itu untuk dibaca, namun simplifikasi itu cukup untuk kritik ini.

Di bentuk sentimen ini, kita akan menemukan yang namanya arti objektif atau nilai objektif yang menjadi pacuan dari mengapa apapun yang kita lakukan tidak berarti. Pacuan ini menurut saya kurang meyakinkan karena kodrat dari konsep nilai atau arti dan juga kodrat dari konsep objektivitas.

KODRAT DARI SUBJEK DAN OBJEK

Nilai, sebagaimana kita menggunakan istilah itu dalam konteks ini, adalah suatu hal yang hanya bisa dilakukan secara subjektif. Ketika anda mengatakan bahwa anda sangat suka bermain Minecraft, anda di saat yang sama mengatakan bahwa Minecraft mempunyai suatu nilai untuk anda. Ini berlaku untuk hal lain ketika anda juga mungkin mengatakan bahwa anda suka mempelajari suatu subjek, ingin memakan suatu makanan tertentu, mau masuk suatu Universitas, dan seterusnya. Mereka semua adalah pernyataan-pernyataan yang menyatakan keberadaan suatu nilai bagi anda.

Sekarang coba bayangkan konsep nilai tanpa seorang subjek. Mungkin sedikit susah. Bahkan, anda seharusnya tidak bisa melakukan hal ini (jika bisa tentunya silahkan jelaskan di seksi komen karena saya sangat penasaran mengenai hal ini). Sehingga, nilai adalah suatu konsep yang hampir sama dengan kepedulian sebagaimana saya jelaskan di artikel saya sebelumnya. Kepedulian tidak akan ada tanpa seseorang yang memberikannya, nilai juga sama. Nilai tidak akan ada tanpa seseorang yang memasangnya ke suatu hal lain.

Kodrat tersebut bertentangan dengan apa yang objektif, yakni suatu hal yang tetap secara independen dari persepsi siapa atau apapun. Satu thought experiment dimana konsep ini diuji adalah suatu hipotetis dimana suatu pohon jatuh di tengah-tengah hutan, namun tidak ada siapapun yang melihatnya. Apakah dalam skenario tersebut kita masih bisa mengatakan pohon tersebut jatuh?

Secara objektif, pohon tersebut memang jatuh. Namun dalam skenario itu juga, kita tidak bisa mengatakan bahwa pohon tersebut itu jatuh. Dalam maksud, ada perbedaan antara mengetahui sesuatu terjadi dan apa yang terjadi sebenarnya. Mirip halnya dengan nilai.

Nilai adalah suatu hal yang murninya kita laksanakan secara subjektif. Jadi ketika seseorang mengatakan, “Bumi sangat kecil dibandingkan dengan alam semesta. Oleh karena itu, apapun yang manusia lakukan di bumi sama sekali – secara objektif – tidak berarti”. Itu cukup aneh karena itu sebanding dengan mengatakan bahwa anda ingin membuat suatu segitiga yang mempunyai empat titik atau suatu keberadaan yang tidak ada.

Dalam menerapkan kontradiksi itu kembali ke masalah yang kita punya, kita bisa mengatakan sebagai suatu balasan bahwa pernyataan, “Bumi sangat kecil dibandingkan dengan alam semesta. Oleh karena itu, apapun yang manusia lakukan di bumi sama sekali – secara objektif – tidak berarti” merupakan sendirinya suatu pernyataan yang tidak berarti karena ketika kita merujuk ke suatu alam semesta, yang kita bicarakan adalah sebanding dengan batu. Suatu batu tidak mempunyai kapasitas untuk peduli. Sama halnya alam semesta yang berada di luar sana (tentunya kecuali jika kita merujuk ke kemungkinan bahwa ada suatu kehidupan di luar sana, namun inipun juga hanya bagian dari alam semesta yang kita maksud, bukan alam semesta itu sendiri).


MASALAH KEDUA

Namun, bagaimana jika kita sudah mengakui kesalahan dalam bentuk sentimen sebelumnya, tapi tetap saja merasa nihilistik dan apatistik?

Kasusnya sekarang bukan lagi berurusan dengan suatu gagasan mengenai suatu nilai objektif, namun benar-benar hanya nilai yang kita pasangkan terhadap fakta bahwa bumi sangat kecil dibandingkan dengan besarnya alam semesta. Dalam maksud, yang kita fokuskan sekarang adalah mengenai perasaan yang kita dapatkan ketika mengetahui bahwa kita amat kecil.

Dan disini, saya mendekatkan masalah ini dengan cara yang lebih personal.

SUATU PERSELISIHAN PRIBADI DENGAN GAGASAN INI

Dari kecil, saya tumbuh sangat terlindungi dari dunia ini. Saya tidak pergi ke taman, saya tidak pergi ke rumah tetangga saya, sayapun juga tidak pernah mengetahui siapa tetangga saya. Sejauh-jauhnya saya pergi, saya masih menetap di lokasi tertentu yang jarang sekali saya tinggalkan. Di Mekah saat saya Umrah, saya jarang sekali pergi dari hotel saya. Di Singapore saat saya liburan, sama halnya, saya jarang sekali pergi dari kamar hotel saya. Saat saya pergi pun, biasanya saya selalu ke tempat-tempat yang selalu sama yakni mall atau suatu shopping centre sehingga bagi saya penawaran untuk bepergian bersama keluarga saya merupakan penawaran yang sangat menjengkelkan. Kontrol saya pada dasarnya tidak ada untuk ketika saya bepergian, entah di lingkungan perumahan yang saya tinggali ataupun di tempat-tempat luar ketika saya secara teknis sedang bepergian.

Banyak ingatan yang saya punya mengenai saat saya kecil bertumpu pada antara satu dari dua hal. Entah saya di sekolah atau saya di kamar menggunakan internet atau memainkan suatu permainan. Di internet itulah dimana saya pada dasarnya mendapatkan satu kesempatan dimana penjelajahan dibawah kontrol saya sendiri bisa saya laksanakan. Tentunya, penjelajahan yang saya lakukan bukanlah penjelajahan dunia fisik, namun dunia maya. Dan disini juga dimana saya mendapatkan kebanyakan pengetahuan saya.

Hak istimewa untuk bisa lahir di posisi seperti ini telah membuat saya susah membayangkan hal-hal apapun yang berhubungan dengan lokasi nyata. Saya tidak pernah mengingat jalan apapun, saya juga tidak pernah mengetahui bagaimana orang-orang bisa mengingat alamat mereka, dan tentunya saya juga tidak pernah mengetahui bagaimana untuk merespon ketika teman-teman saya bertanya, “Eh, kamu tahu tempat X, kan? Itu lho, yang ada di Jalan Y, di samping Z, dll…”. Dan interaksi-interaksi inilah, entah dengan teman atau tidak, yang membuat saya sadar akan suatu hal, yakni “dunia” yang saya tinggali sangat berbeda dengan “dunia” yang orang lain mungkin tinggali.

Di dunia saya, lokasi-lokasi nyata bukanlah seperti selayaknya benar-benar suatu lokasi. Karena saya tidak mempunyai pengalaman yang cukup dengan lokasi-lokasi nyata untuk membayangkan mereka. Mereka bagi saya selayaknya suatu dimensi lain yang ada begitu saja, namun saya tidak akan pernah capai. Bahkan dengan melihat gambar-gambar mereka saja, saya masih merasa terputus dari fakta bahwa saya ada di planet yang sama dengan lokasi-lokasi itu. Selebihnya, “menara gading” yang saya tinggali ini bukanlah suatu tempat yang saya pilih untuk saya tinggali selayaknya seorang biksu setelah melihat apa yang sering dipanggil sebagai dunia asli. Saya, secara harfiah, sangat jarang melihat dunia asli.

Dari pengalaman-pengalaman itu, saya mulai sadar bahwa saya sendiri belum terlalu merasakan bagaimana dunia itu sebenarnya. Sehingga ketika seseorang, atau dalam kasus ini saya sendiri, mulai merasa nihilistik dan apatistik terhadap skala alam semesta kita, satu hal yang saya bingung adalah mengapa kita baru merasakan hal itu ketika mempelajari skala alam semesta? Apakah kita begitu terbiasanya dengan skala bumi ini?

Peta Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di akhir 1945. Warna biru muda menunjukan negara anggota, sementara warna biru tua menunjukan koloni-koloni negara anggota. Abu-abu menunjukan negara-negara yang bukan bagian dari PBB pada saat itu. Kredit: Clam15, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:United_Nations_Member_States-1945.png

Ada hampir 200 anggota dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara tersebut sendirinya mempunyai wilayah sendiri dengan kekhususan dan aspek-aspek yang berbeda. Dan hal ini sepertinya kurang menangkap perhatian kita?

Di mata saya, seharusnya kita – secara pribadi masing-masing – sudah merasakan nihilisme dan apatisme ketika kita belajar mengenai keberadaan bola dunia yang menunjukan negara-negara yang ada. Walaupun situasi yang kita hadapi ketika mengenal besarnya alam semesta merupakan suatu bentuk drastis dari situasi yang kita hadapi ketika mengenal besarnya bumi, kasusnya tetap bahwa kedua situasi tersebut menunjukan kita suatu perbandingan spasial antara manusia dan lingkungannya secara ekstrim.

Dalam kasus perbandingan spasial antara alam semesta dan manusia, kita bisa merujuk ke pidato “Pale Blue Dot” yang ditulis oleh Carl Sagan tadi. Semua aktivitas manusia, dalam jenis apapun, dilaksanakan di titik biru pucat yang kita panggil “Bumi” ini. Dan oleh karena itu, hal-hal yang kita lakukan tidak akan terlalu mempengaruhi alam semesta yang kita tinggali. Dalam perspektif yang samalah dimana saya merasa bahwa suatu argumen yang mirip bisa dibuat mengenai perbandingan antara besar bumi dan besar lingkungan sekitar yang kita masing-masing tinggali sekarang.

SIKAP YANG SALAH TEMPAT

Sikap kita mencerminkan fokus kita sebenarnya. Sebagai contoh, jika saya mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan nilai bagus di suatu ujian, namun saya tidak belajar sama sekali untuk ujian itu, bisa dibilang bahwa fokus saya sebenarnya bukanlah untuk mendapatkan nilai bagus di ujian tersebut.

Sama halnya jika kita mengatakan bahwa kita merasa nihilistik dan apatistik mengenai seberapa bisanya kita mempengaruhi alam semesta kita. Disini, suatu implikasi langsung yang bisa kita tarik adalah kemauan kita adalah untuk bisa mempengaruhi alam semesta dalam skala yang lebih besar. Dari ini, menurut saya sikap apatistik dan nihilistik yang kita ambil merupakan suatu sikap yang salah demi mencapai tujuan kita.

Di artikel saya yang berjudul, “STOISISME: HIDUP DENGAN PENDERITAAN DAN KECEMASAN”, saya merekomendasikan salah satu sikap yaitu sikap yang selayaknya dipakai oleh seorang insinyur atau programmer yang ingin mencapai suatu tujuan. Sikap ini lebih tepatnya dimana seseorang fokus terhadap apa yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.

Disini, saya merekomendasikan hal yang sama, dengan suatu tambahan. Kita bukan hanya fokus terhadap menjadi suatu pengaruh yang besar di alam semesta ini, tapi kita juga melakukannya melalui membudadayakan sikap takjub, penasaran, dan semangat terhadap usaha ini.

Sikap takjub karena ekspektasi kita mengenai seberapa besarnya alam semesta salah. Semua konsepsi dulu yang kita punya mengenai alam yang kita tinggali telah ditantang dalam skala yang begitu hebat. Sikap penasaran karena ada banyak sekali hal yang masih bisa kita ketahui mengenai alam ini. Kita bahkan belum bisa menjawab dengan cukup pertanyaan mengenai apakah ada alien atau tidak. Sikap semangat karena alam kita tidak sekecil yang kita kira. Masih ada banyak hal yang masih bisa kita lakukan dan rasakan di dunia ini.

Sehingga waktu kita disini berarti begitu banyak karena ketika kita mati, biaya peluangnya berkemungkinan akan lebih besar dari yang kita kira. Kita tidak hanya akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kehidupan, namun kita juga akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari manusia yang mungkin akan melihat bagaimana kita akan mempengaruhi alam semesta.


Apollo 11 saat pertama kali meluncur dari Bumi dengan niat menuju ke Bulan

Dalam skala waktu sejarah manusia, fakta bahwa kita berhasil menyentuh bulan, secara fisik, bukanlah suatu berita yang tua. Tahun 1969 lah dimana Amerika Serikat berhasil mengkomandoi suatu misi yang dikenal dengan Apollo 11 dimana kita melihat astronot-astronot terkenal yakni Neil Armstrong dan Buzz Aldrin. Di bumi, manusia mendengar ucapan dari Neil Armstrong yang berbunyi:

That’s one small step for (a) man, one giant leap for mankind

Neil Armstrong
Apollo 11: One Small Step on the Moon for All Mankind

Mengabaikan apa niat Neil sebenarnya dalam kata-katanya, yaitu bahwa orang-orang kurang bisa mendengar bagian yang dikurungnya, kita mempunyai suatu kutipan yang menurut saya sangat kuat, namun seringkali saya – dan orang lain – kucilkan. Dikucilkan dalam rangka bahwa kita sering mengenal kata-kata tersebut hanya sebagai suatu hal yang keren saja untuk didengar. Namun, melihat sudah berapa lamanya spesies kita ada dan seberapa seringnya kita bisa menemukan situasi dimana kata-kata seperti itu bisa diucapkan, kutipan itu merupakan suatu kata-kata yang sangat kali jarang bisa didengar ataupun dikatakan.

Seperti yang sudah kita tetapkan tadi, alam semesta adalah suatu hal yang sangat besar. Saking besarnya, imajinasi kita sulit untuk tidak ketinggalan dalam menkonsepsualisikan skala alam semesta tanpa menggunakan angka atau suatu cara ukuran tertentu. Dan pembaca sekarang berkemungkinan besar merupakan bagian dari generasi dimana kita bisa melihat langkah-langkah awal kita untuk menjelajahi kebesaran yang kita panggil alam semesta ini. Bahkan saya tidak akan terkejut jika menemukan sejumlah orang yang memanggil aksi ini sebagai suatu aksi religi atau aksi yang suci, walaupun ini sendiri sebenarnya suatu topik untuk lain waktu. Pada intinya, kita cukup beruntung untuk bisa mensaksikan, atau setidaknya sedekat-dekatnya mungkin dalam menyaksikan, permulaan ini.

Permulaan ini penting selayaknya kita mengatakan bahwa seorang bayi yang baru saja bisa berjalan baru saja mengalami momen yang penting. Memang benar bahwa kita tidak secara langsung berarti akan terus menerus mencoba untuk mengejar antariksa, namun hal ini adalah suatu demonstrasi langsung bahwa kemungkinannya ada untuk melakukan hal-hal lain seperti ini. Dan fakta bahwa kemungkinannya ada, seberapa kecil atau besarnya itu dari pendaratan kita di bulan, seharusnya menjadi ingatan di diri kita masing-masing bahwa ada yang namanya alam semesta di luar bumi kita.

Bahkan sesungguhnya suatu argumen lain yang mirip bisa kita buat untuk menyimpul artikel ini. Ada suatu alam yang lebih besar dari apa yang bisa kita bayangkan disini. Entah ini dalam skala seorang shut-in dengan lingkungan rumah tangganya, seorang pribumi dengan negara-negara lain, ataupun dalam skala daratan dan lautan yang sering dibilang belum banyak kita ketahui. Intinya adalah kita harus mengingat bahwa ada lingkungan yang lebih besar dari lingkungan kita sendiri, dan bukankah menjadi suatu hal yang sia-sia jika kita membiarkan mereka menunggu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: