PELAJARAN YANG SAYA DAPATKAN DUA BULAN LALU MENGENAI MEMBACA BUKU

Pencipta: Ria Dara

Dua bulan lalu saya menyelesaikan sekitar 4 buku non-fiksi. Masing-masing menelusuri topik-topik yang berbeda. Dan ada beberapa, atau lebih tepatnya lima, hal yang saya sadari setelah selesai.

Kesadaran-kesadaran ini, yang akan saya rujuk sebagai pelajaran-pelajaran, bukan mengenai topik-topik yang saya pelajari, melainkan mengenai aktivitas membaca buku sendiri. Saya cukup yakin bahwa pelajaran-pelajaran ini bukanlah sesuatu yang langka untuk ditemukan. Namun saya percaya bahwa mereka tetap akan membantu orang-orang dalam proses mereka membaca juga jika mereka juga mengetahui hal-hal ini. Saya juga akan menghubungkan pelajaran-pelajaran tersebut dengan buku-buku yang saya sudah baca di bulan November dan Desember sebagai konteks dibelakang mengapa saya percaya pelajaran-pelajaran ini akan membantu anda dalam proses pembacaan anda sendiri.

Sehingga, janganlah heran jika anda menemukan seksi-seksi dimana sepertinya saya banyak menceritakan latar belakang dari suatu pelajaran. Bahkan saya dorong anda untuk mencari paralel-paralel dari pengalaman anda membaca suatu buku dengan pengalaman yang akan saya ceritakan nanti. Kemungkinanannya adalah jika ada banyak hal yang mirip, seharusnya semakin relevan juga pelajarannya bagi anda.

LATAR BELAKANG PELAJARAN PERTAMA

Buku pertama yang saya baca di bulan November sebelumnya adalah The Dictator’s Handbook yang dikarang oleh dua ilmuwan politik bernama Bruce Bueno De Mesquita dan Alastair Smith. Ini merupakan suatu buku yang menjelaskan cara kerja kebanyakan, jika bukan semua, pemerintahan dan politik di dunia ini melalui perspektif yang cukup unik, yakni sesuatu yang bernama Teori Selektorat (selectorate theory). Dan dalam rangka konten buku tersebut, saya cukup terpikat dengan perspektif yang dipersembahkan, yang pada intinya mencoba untuk menjawab pertanyaan: “Mengapa banyak pemimpin yang melakukan aksi dan aktivitas yang immoral?” dengan jawaban: “Karena semua pemimpin ingin tetap berkuasa, dan bertambah kuat dalam kuasanya. Dan aksi dan aktivitas tersebut membantu mereka tetap memegang kekuatan yang mereka punya, atau meningkatkan kekuatan mereka.”

Sampul Buku Dictator’s Handbook

Untuk memberi latar lebih lanjut, saat itu sudah cukup lama saya tidak memegang suatu buku, setidaknya secara fisik. Dan saya sangat ingin mengembalikan kebiasaan membaca saya entah bagaimana caranya karena saya juga sudah mendapatkan buku-buku fisik baru yang – sebagai bahan bacaan umum saja – sangat menarik untuk saya mulai baca, dan dalam prosesnya juga membangun kembali kebiasaan membaca saya.

Dengan itu, The Dictator’s Handbook merupakan buku lama yang saya sudah punya. Saya hanya belum pernah menyelesaikan buku ini. Dan saya juga baru sadar mengapa ini kasusnya ketika saya menyelesaikan hampir sekitar 50 halaman yang terdiri dari bagian Pengenalan (Introduction) dan Bab Pertama dari buku tersebut. The Dictator’s Handbook, walaupun cukup simpel dalam konsep dasarnya, tidak mempunyai tingkat simplisitas yang sama dalam penulisannya.


Konsep Dasar Teori Selektorat (Berdasarkan The Dictator’s Handbook)

Ada tiga kelompok/dimensi orang-orang yang mempengaruhi para pemimpin. Pertama-tama, ada Selektorat Nominal atau nama lainnya interchangables yang setidaknya mempunyai semacam bentuk suara dalam pemilihan seorang pemimpin. Di Amerika Serikat, ini adalah semua orang yang mempunyai hak untuk memberikan suara dalam suatu pemilu. Kedua, ada Selektorat Asli atau nama lainnya influentials yang benar-benar mempunyai kekuatan untuk memilih suatu pemimpin. Di Cina, ini adalah semua anggota Partai Komunis Cina yang mempunyai kekuatan untuk memberikan suara untuk memilih pemimpin baru. Ketiga, ada suatu subset dari Selektorat Asli yang bernama Koalisi Pemenang. Kelompok inilah yang diperlukan oleh seorang pemimpin agar bisa tetap berkuasa. Untuk Kerajaan Francis di abad ke-17, ini terdiri dari bawahan-bawahan langsung Louis XIV yang merupakan sejumlah petugas-petugas militer, sejumlah pegawai senior negeri sipil, dan beberapa bawahan lainnya.


Dari konsep dasar ini, The Dictator’s Handbook menerapkannya ke berbagai fenomena-fenomena di sejarah dan kejadian-kejadian politik sekarang untuk menjelaskan bagaimana orang-orang mendapatkan posisi seorang pemimpin, bagaimana orang tersebut mempertahankan posisinya, dan berbagai aspek dan fenomena politik lainnya. Dan disinilah kompleksitas buku tersebut muncul.

Namun pengertian ini semua tidak ada di kepala saya ketika pertama kali – sejak lama – memegang buku tersebut. Justru, saat itu saya cukup naif untuk berpikir bahwa saya bisa membuka suatu buku dan membaca terus menerus selayaknya saya membaca suatu artikel atau postingan-postingan blog pada umumnya.

Selebihnya, saya juga memutuskan untuk juga menggunakan suatu aplikasi di ponsel saya untuk membantu “mencatat hal-hal penting” yang saya temukan ketika membaca. Ini bukannya membantu situasi saya, malah memperburuknya. Karena tidak hanya saya kurang mengerti bagaimana suatu buku itu terstruktur, saya juga tidak mempunyai kriteria yang jelas mengenai apa yang harusnya saya catat dan yang seharusnya saya tidak catat.

Dan gabungan dari dua faktor tersebut, setidaknya pada pembacaan pertama saya, hampir membuat saya berhenti membaca dalam 50 halaman pertama dari buku ini, walaupun saya sebenarnya tertarik dengan topik dan tesis yang dipersembahkan oleh buku ini. Karena ini juga saya akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang saat itu merupakan hanya pilihan yang berdasar dari kejengkelan saya mengenai fakta bahwa saya tidak pernah menyelesaikan buku tersebut. Dan keputusan ini adalah untuk membaca apa yang saya bisa dengan cepat, dan memaksa diri saya untuk membaca terus menerus walaupun jika saya kurang mengerti suatu bagian atau seksi. Saya juga karena keputusan ini meninggalkan upaya saya untuk mencatat ulang apa yang saya sudah baca di setiap sesi.

GENERALISASI

Setelah beberapa puluh halaman melakukan hal itu, saya mulai merasa bahwa buku ini tidak seburuk yang saya kira. Suatu arus kata-kata mulai masuk ke akal saya dengan lancar dan rasa kejengkelan saya juga sudah mulai menghilang, digantikan lama-lama dengan fokus dan rasa terpikat orisinil saya ketika memegang buku ini. Pada saat ini jugalah saya mulai mendapatkan logika dan asumsi-asumsi dari buku ini yang menjadi fondasinya untuk menerapkan Teori Selektorat ke kasus-kasus dan skenario yang dikaji oleh buku tersebut.

Selagi mencoba untuk mengabaikan kosa kata dan tata bahasa Inggris yang saya kurang terbiasa, saya sadar bahwa saya menggunakan suatu trik ketika membaca dengan cepat setiap kali sesi membaca saya. Trik ini muncul dari pengalaman saya juga membaca novel-novel dan cerita-cerita fiksi Online dimana saya akan mengambil suatu paragraf, dan mencoba untuk meringkasnya di kepala saya menjadi satu atau dua atau tiga kalimat. Ini adalah apa yang saya maksud dengan generalisasi. Namun cara saya melakukannya di The Dictator’s Handbook mencapai taraf yang lebih ekstrim dari sebelumnya.

Ekstrimitas di kasus saya adalah sebagai berikut:

Saya akan membaca terus menerus melampaui berbagai paragraf dalam 2 – 3 menit dan – di saat yang sama – memberikan pernyataan-pernyataan umum di setiap paragraf yang saya selesaikan. Jika suatu paragraf mencoba untuk mendemonstrasikan suatu poin yang dikatakan di paragraf sebelumnya, maka saya akan melakukannya seperti, “X adalah seperti kasus Y” dimana X adalah poin yang sedang didemonstrasikan dan Y adalah contoh yang digunakan untuk membandingkan poin X. Dan setelah melakukan ini beberapa kali sampai saya menyelesaikan suatu bagian, bab, atau seksi, maka saya juga akan menggeneralisasikan seksi tersebut menjadi dua atau tiga atau empat kalimat di kepala saya. Sebagai contoh dari hal ini, bab 2 di The Dictator’s Handbook bisa dibilang salah satu bagian favorit saya karena ternyata bagi saya paling mudah digeneralisasi.

Bab 2 membuka dengan kisah seorang sersan Liberia yang bernama Samuel Doe. Ia dikatakan membunuh presiden Liberia dan mengambil posisi kepemimpinan yang setara sebagai pemimpin Liberia, bersama dengan bawahan-bawahannya.


Paragraf Pertama dari The Dictator’s Handbook, Bab 2: Coming to Power

FOR CENTURIES, “JOHN DOE” HAS SERVED AS THE placeholder name assigned to unidentified nobodies. And while his first name may have been Samuel, not John, in every other respect Liberia’s Sergeant Doe was just such a nobody until April 12, 1980. Born in a remote part of Liberia’s interior and virtually illiterate, he, like hundreds of thousands of others in his predicament, moved out of the West African jungle in search of work. He headed tothe capital city, Monrovia, where he found that the army held great opportunities even for men, like him, who had no skills. One of these opportunities presented itself when Doe found himself in President William Tolbert’s bedroom on April 12. As the president slept, he seized the day, bayoneted the president, threw his entrails to the dogs, and declared himself Liberia’s new president. Thus did he rise from obscurity to claim the highest office in his land.

(Page 21, The Dictator’s Handbook, Paperback, ISBN: 9781610391849)


Dari kasus ini – yang tentunya dikisahkan lebih lanjut daripada satu paragraf itu saja di bukunya – The Dictator’s Handbook mengambil beberapa kesimpulan dari cara seseorang bisa menjadi pemimpin di suatu kelompok/kesatuan politik seperti suatu negara.

Ini paling mudah digeneralisasi karena bukunya sendiri yang secara eksplisit memberi tahu kita poin-poin utamanya apa saja dalam satu paragraf. Dan sebelum anda membaca bagian khusus yang secara eksplisit melakukan hal itu, saya ingin anda mencoba untuk menebak apa konsep-konsep utama apa yang saya rujuk dari tadi.


Doe had no idea what a president was supposed to do and even less idea of how to govern a country. What he did know was how to seize power and keep it: remove the previous ruler; find the money; form a small coalition; and pay them just enough to keep them loyal. In short order, he proceeded to replace virtually everyone who had been in the government or the army with members of his own small Krahn tribe, which made up only about 4 percent of the population. He increased the pay of army privates from $85 to $250 per month. He purged everyone he did not trust. Following secret trials, he had no fewer than fifty of his original collaborators executed.

(Page 22, The Dictator’s Handbook, Paperback, ISBN: 9781610391849)


Tidak lebih dari 2 kalimat, The Dictator’s Handbook menyatakan poin-poin utama apa yang akan ditelusuri lebih lanjut di Bab 2. Yakni menyingkirkan suatu pemimpin, mencari sumber uang, membentuk suatu koalisi kecil, dan membayar mereka agar mereka tetap setia. Dengan inilah saya menggeneralisasikan seksi awal di Bab 2 ini. Dan saya melakukan hal yang mirip, jika bukan sama, di seksi-seksi selanjutnya.

Dari teknik membaca ini, saya harus tekankan bahwa fokusnya adalah untuk menyelesaikan buku secepat mungkin selagi mempertahankan pesan-pesan atau konsep-konsep utama yang ingin dikomunikasikan oleh buku tersebut. Tidak untuk ingat detil-detil kecil atau contoh-contoh kasus yang dipakai oleh buku tersebut. Saya rasa jika anda ingin melakukan hal itu, maka harus bergantung keapda teknik lain.

Namun dari ini, saya berhasil membaca keseluruhan dari The Dictator’s Handbook. Dengan teknik yang tidak terlalu mempedulikan detil-detil kecil, hanya poin-poin besar dan merasionalisasikannya ke suatu model pikiran yang kohesif dan koheren, saya berhasil menyelesaikan buku yang saya frustrasikan karena tidak pernah saya selesaikan sebelumnya, dalam waktu total 14 jam dan 54 menit yang berlangsung dalam periode 2 setengah minggu. Tidak terlalu mengesankan, tetapi sangat berharga demi memberi saya pelajaran tadi.

Dan dari penyelesaian buku inilah saya bisa lanjut ke buku saya lanjutnya. Ini menyangkut topik yang lebih ringan, karena jujur saja saya cukup lelah dan “patah hati” dalam membaca The Dictator’s Handbook dari semua penerapan-penerapan teori politiknya ke dunia politik nyata.

Di buku selanjutnya ini, saya sadar bahwa mungkin ada suatu kesalahpahaman yang saat waktu itu saya kira kecil di pengalaman saya di buku pertama. Namun kesalahan ini menjadi cukup besar ketika saya memulai pembacaan buku kedua.

Published by Ria Dara

Saya gemar untuk berdiskusi, berdebat, dan belajar.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: