BANYAK SARAN DEMI MEMPERBAIKI DISKUSI KITA

Kita semua memiliki opini atau kepercayaan mengenai realita yang kita tinggali. Ketika seseorang membicarakan opini-opini tersebut, inilah apa yang kita panggil dengan aktivitas diskusi.

Aktivitas tersebut bisa dilaksanakan oleh satu atau lebih individu. Dan mempunyai tujuan untuk mencapai semacam kesimpulan baru mengenai topik pembicaraannya. Bisa dikatakan juga bahwa diskusi adalah suatu aktivitas pertukaran dan pengkritikan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi baru yakni suatu kesimpulan.

Di artikel ini, saya akan mencoba menggunakan pengalaman diri saya melaksanakan aktivitas tersebut, dan juga menggunakan pengalaman-pengalaman orang lain, untuk memberi anda beberapa hal yang bisa anda coba inkorporasikan terhadap diskusi-diskusi yang anda miliki. Sehingga ambillah saran-saran yang akan saya beri sebagai semacam posibilitas-posibilitas yang anda bisa ambil untuk bereksperimentasi nanti saat anda benar-benar melakukan suatu diskusi/debat/percakapan dengan seseorang mengenai apapun.

Saran-saran ini bisa berupa suatu teknik, filosofi, ataupun suatu sikap yang bisa anda terapkan untuk membuat proses diskusi tersebut semakin efektif dan efisien dalam mencapai kesimpulan yang baru.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa anda terapkan dalam retorika anda agar diskusi-diskusi yang anda miliki mengenai apapun bisa lebih efektif.

STEELMANNING (MEMBAJA-KAN)

Steelman, atau steelmanning, adalah memastikan sebaik-baiknya bahwa anda memiliki persepsi argumen yang dipersembahkan oleh teman bicara anda seakurat mungkin, atau anda mempunyai bentuk paling “bagus” dari argumen tersebut. Beda dari “persepsi yang akurat” dengan “persepsi yang bagus” sebenarnya tidak terlalu jauh, namun sesuatu yang berbeda.

Suatu persepsi yang “akurat” adalah persepsi yang tepat mengenai suatu argumen, dan sesuai dengan apa yang interlokutor anda niatkan. Sementara suatu persepsi yang “bagus” adalah persepsi yang mungkin lebih logis atau “benar” mengenai suatu argumen dari apa yang pembuat argumen tersebut niatkan.

Alasan mengapa memastikan bahwa kita mempunyai gambaran yang “benar” atau “baik” menyangkut argumen seseorang adalah karena ini meningkatkan pemahaman antara dua pihak diskusi/percakapan tersebut, dan menurunkan peluang untuk kesalahpahaman yang bisa terjadi. Semakin pahamnya semua sisi mengenai satu sama lain, semakin mudahnya semua orang untuk melemparkan kritik-kritik atau respon-respon yang relevan. Dan semakin relevannya kritik/respon yang masing-masing pihak terima, semakin meningkat juga kualitas kritik/respon tersebut untuk kita pertimbangkan.

Agar bisa lebih mengkonsepsualisasikannya, kita akan melihat beberapa contoh dari kedua jenis “steelmanning” tersebut. Pertama-tama, kita akan mencoba membawa suatu kasus dimana seseorang mungkin seharusnya menggunakan teknik steelmanning tersebut.

Kemudian kita akan melihat beberapa penerapan-penerapan “steelmanning” terhadap satu kasus.

KASUS

A: Saya percaya pada keberadaan Tuhan karena ada banyak hal di dunia ini yang sangat ajaib dan sangat mustahil jika itu semua bukanlah hasil ciptaan Tuhan

Di kasus tersebut, ada seorang individu bernama A yang menyatakan bahwa ia memepercayai adanya suatu Tuhan. Ia menyatakan lebih lanjut bahwa ia memegang kepercayaan tersebut karena ia menganggap dunia sebagai “ajaib”, dan juga karena ia berpikir bahwa semua (yang ada di dunia) merupakan suatu imposibilitas tanpa intervensi Tuhan sebagai pihak yang menciptakan.

Metode 1: Mengulangi argumen A dalam kata-kata anda sendiri seakurat mungkin

Anda: “Oh, jadi alasan anda percaya adalah bahwa dunia ini sangat ajaib, dan juga bahwa apapun yang ada di dunia tidak mungkin untuk bisa berhasil diciptakan tanpa campur tangan Tuhan?”

Ini mungkin terlihat atau terdengar aneh. Memangnya apa gunanya untuk mengulang kata-kata orang lain kalau kita sudah mendengar apa yang mereka katakan?

Bukankah lebih baik jika kita langsung membalas apa yang orang A bilang saja tanpa basa basi agar bisa menghemat waktu, dan membuat percakapan itu menjadi lebih efisien?

Dengan mengulang argumen seseorang dalam suatu percakapan sendiri, anda menunjukan secara langsung kepada interlokutor anda bahwa argumen yang ia persembahkan itu sudah jelas. Atau jika ternyata anda – dalam pengulangan argumen tersebut – ternyata salah mengenai sesuatu, maka ia bisa mengklarifikasi langsung kepada bagian yang anda kurang mengerti.

Apapun hasilnya, maka pada akhirnya interlokutor tidak hanya bisa mendapatkan untung untuk mengoreksi pengertian yang anda punya mengenai argumen yang ia buat.

Namun juga ia bisa mendapatkan impresi bahwa anda telah mengerti argumen yang ia sudah buat. Adanya impresi itu baik untuk anda karena ini juga berarti akan ada impresi lebih besar bahwa anda mendengarkan apa yang ia katakan pada umumnya. Anda tidak hanya mendengarkan bagian argumen tadi saja, namun juga bagian-bagian lainnya.

Semakin baiknya, karena ia semakin merasa terdengar, Interlokutor anda akan terdorong dalam rangka persepsinya agar menjadi positif terhadap anda. Peluang anda dianggap sebagai seorang “musuh” atau seseorang yang tidak enak untuk berbincang-bincang akan menurun.

Ada asumsi yang cukup simpel yang menyebabkan mengapa peluang anda dianggap sebagai suatu pihak yang tidaklah antagonistis: Seorang “musuh” tidak akan mau mendengar kata-kata saya.

Sehingga kalau dalam bentuk deduksi menjadi berikut:

1. Seorang musuh tidak akan mau mendengar kata-kata saya.

2. X mendengarkan kata-kata saya.

Kesimpulan: X bukan musuh.

Sehingga, ketika anda dianggap sebagai seorang pendengar yang baik, anda akan dianggap juga sebagai seseorang yang bukanlah musuh.

Akibat lebih lanjutnya adalah bahwa interlokutor anda akan semakin mendengarkan anda dan juga semakin mau untuk berbicang lebih lanjut mengenai topik yang sedang dibicarakan bersama adna. Anda jadi bisa lebih membawa poin-poin lain untuk didiskusikan dan interlokutor anda akan nyaman-nyaman saja untuk membicarakan hal itu.

Dan paling pentingnya, ia akan lebih mempertimbangkan apa yang anda katakan terhadap mereka. Jika anda setuju dengan suatu poin, maka mereka akan merasa senang. Jika anda menentang suatu poin, maka mereka akan merenungkan kritik tersebut lebih lanjut. Ini semua mungkin untuk terjadi jika anda tidak dilabelkan sebagai seorang “musuh” di kepala mereka. Dan mengulang argumen adalah cara yang cukup baik untuk mencapai tujuan tersebut.

Grafik 1.1 Proses Akibat Pengulangan Argumen Interlokutor Anda

Metode 2: Mengulangi argumen A dalam kata-kata sendiri dengan “sebagus” mungkin

Ini sedikit susah untuk secara non-intuitif dijelaskan.

Namun seperti yang dibilang tadi, ini pada intinya adalah mencoba untuk melampaui ekspektasi interlokutor anda dalam rangka kelogisan atau kebenaran dari argumen yang ia buat. Berikut adalah kemungkinan respon yang bisa anda beri yang termasuk dalam kategori metode kedua ini, khususnya dalam kasus yang sama:

Anda: “Oh, iya. Jadi maksud yang kamu bilang itu adalah dunia ini sangat indah gitu ya dengan adanya banyak sekali hal yang memikat kita. Dan juga banyak sekali hal yang tidak bisa kita jelaskan. Sehingga, kamu menyimpulkan berdasarkan dua alasan tersebut bahwa harus ada Tuhan yang menciptakan hal-hal tersebut?”

Perbedaan metode kedua ini ada pada fakta bahwa kita pada dasarnya menggunakan persepsi kita sendiri untuk “menebak” apa yang interlokutor kita percayai dengan asumsi yang semurah hati mungkin. Meskipun seringkali kita dibilang bahwa asumsi adalah suatu hal yang buruk, di perkara ini, asumsi kita gunakan sebagai suatu hal yang efektif karena kita tidak hanya menebak berdasarkan asumsi-asumsi kita, melainkan kita juga menampilkan ke interlokutor kita bahwa kita ingin mengecek asumsi-asumsi tersebut.

Orang-orang tidak suka dinilai dengan salah atau buruk. Sehingga melakukan hal ini bisa memberi impresi yang baik ke orang lain bahwa kita adalah orang yang peka terhadap perasaan dan pemikiran mereka.

Metode 3: Mempertanyakan bagian-bagian yang kurang jelas bagi anda

Ini secara teknis tidak termasuk sebagai aksi “membaja-kan”, namun mempertanyakan hal-hal yang belum anda berhasil mengerti pada umumnya akan membantu anda untuk mengerti suatu argumen. Dan dengan lebih mengertinya anda, anda juga akan semakin bisa untuk “membaja-kan” suatu argumen.

Maksudnya “ajaib” apa?

Dunia dalam konteks ini apa maksudnya, maaf?

Tuhan dalam konteks ini apa (dan siapa spesifiknya) maksudnya, maaf?

STOISISME

Jika anda familiar dengan buku Filosofi Teras oleh Henry Manmpiring, atau dengan filosofi yang dibicarakan dalam buku tersebut yang paling pertama diajarkan oleh Zeno dari Citium, atau yang paling terkenal dipraktekan oleh Kaisar Roma Marcus Aurelius, maka anda seharusnya bisa menebak apa poin saya disini. Namun bagi kalian yang belum tahu, mari kita telusuri terlebih dahulu filosofi ini, sehingga kita juga akan bisa melihat relevansinya dalam suatu diskusi.

Stoisisme adalah filosofi yang diikuti pertama kali oleh sekumpulan orang yang berkumpulan di agora (tempat berkumpul) kota Athena, yakni suatu tempat bernama Stoa Poikile (Teras Terlukis), maka kenapa nama filosofi mereka stoisisme. Salah satu dari perkumpulan tersebut adalah seseorang yang bernama Zeno. Ia adalah individu yang bertanggung jawab atas awalnya tersebarnya filosofi ini.

Filosofi yang diajarkannya pada saat itu mencakup berbagai aspek ilmu seperti logika, fisika, dan etika, dimana masing-masing bidang memiliki kegunaan spesifiknya. Aspek filosofi Zeno yang kita ingin fokuskan disini adalah fisika dimana Zeno menyatakan bahwa alam semesta adalah suatu “kesatuan” materil yang berakal yang menjadi wadah semua hal yang ada. Gagasan ini kemudian diperluas oleh muridnya yakni Chrissipus yang menekankan bahwa setiap bagian dari alam semesta pastinya akan bergantung dengan bagian-bagian lainnya, sehingga menciptakan jaringan ketergantungan antara bagian-bagian alam semesta. Dari sinilah konsep Stoisisme Modern muncul dimana Chrissipus pula mengatakan bahwa Etika itu berdasar pada Fisika, dan “tidak ada cara yang lebih senonoh untuk mendekati subjek kebaikkan dan keburukkan pada kebajikan atau kebahagiaan daripada melalui kodrat segala hal dan administrasi dari alam semesta.”

Kita, sebagai individu, dari alam semesta yang amat sangat luas tidak bisa melakukan segala hal. Namun, yang bisa kita lakukan adalah sedikit potensi-potensi aksi yang bisa kita pilih untuk lakukan sebagai individu. Dan itulah yang harusnya kita fokuskan dalam hidup kita.

Aplikasi dari filosofi ini dalam konteks diskusi cukup simpel. Kita ingin diskusi-diskusi yang kita laksanakan berkualitas dalam rangka semua partisipan belajar dari satu sama lain, dan tidak mempermusuhkan satu sama lain. Berarti kita seharusnya pertimbangkan semua aksi yang kita akan lakukan secara pribadi dalam suatu diskusi dan dampak-dampaknya. Jikalaupun kita dicela duluan, janganlah kita merespon dengan celaan balik karena itu berkemungkinan besar akan membuat interlokutor kita semakin mau untuk mencela kita lagi.

Agar bisa lebih mengkonsepsualisasikan hal ini, kita akan melihat sebuah contoh lagi.

KASUS

Anda: “Sebagai orang Muslim, saya percaya bahwa babi merupakan hewan yang tidak pantas untuk dikonsumsi siapapun karena Al-Quran mengajarkan bahwa babi mengandung zat yang tidak baik bagi tubuh manusia.”

B dan C: “Sebagai orang Non-Muslim, kita percaya bahwa orang Muslim seperti anda tidak pantas untuk didengarkan oleh siapapun.”

Ini adalah kasus yang jatuh ke dalam kategori Ad Hominem. Pada intinya, daripada menghadapi opini Anda dalam kasus itu, B dan C malah menyerang karakter/watak anda sebagai seorang Muslim.

Metode 1: Jangan lanjutkan percakapan/diskusi dengan mereka

Sesuai dengan filosofi Stoisisme yang tadi kita kaji singkat, kita harus fokus dengan apa yang kita bisa lakukan. Dan walaupun memutuskan diskusinya cukup kontraintuitif dengan suatu diskusi yang efektif, kita juga harus memikirkan tentang energi yang akan kita habiskan untuk meyakinkan/membujuk orang B dan C di kasus tadi untuk mempertimbangkan opini dan kepercayaan kita secara serius.

Jika interlokutor kita menunjukan suatu sikap yang cukup bertentangan terhadap anda secara personal, maka cukup memungkinkan bahwa percakapan yang akan anda miliki dengan interlokutor tersebut akan juga menjadi terfokus tidak pada isu pembicaraan yang asli yang menyangkut poin-poin anda dan argumen-argumen anda, melainkan akan terfokus pada menghina satu sama lain. Anda harus membuat interlokutor anda mengerti dulu bahwa sikap ini sama sekali tidak produktif, dan jika anda tidak terlalu bisa, maka metode pertama inilah yang anda harus ambil.

Metode 2: Menyatakan ke B dan C bahwa pernyataan mereka tidak kontributif terhadap topik yang sedang dibahas

Anda: “Kita bertiga disini ingin bertukar opini dan argumentasi secara produktif. Dan respon kalian barusan itu bukanlah suatu hal yang produktif untuk dilakukan. Bagaimana kalau kalian ganti respon kalian agar percakpana tidak menjadi kita teriak-teriak saja?”

Sudah cukup jelas bahwa respon B dan C ke Anda dalam kasud tadi adalah suatu respon yang negatif. Mereka tidak mau untuk menghadapi poin dan argumen yang dibawa oleh Anda. Jika B dan C mungkin masih membawa niat untuk mempunyai percakapan yang produktif, menjelaskan dengan langsung bahwa respon mereka tidaklah produktif punya potensi untuk mengerti dan meminta maaf, atau setidkanya menjadi mau untuk mendengarkan dan menghadapi argumen Anda.

Metode 3: Memperlakukan respon B dan C seperti suatu respon yang senonoh yang belum kita mengerti

Anda: “Oh, memangnya ada apa dengan argumen saya barusan sampai kalian berdua gak mau dengerin saya?”

Bayangkan bagaimana kita biasanya memperlakukan respon seseorang dalam suatu diskusi yang serius. Ketika kita tidak mengerti apa maksud orang tersebut, kita pastinya akan segera langsung meminta dia mengelaborasikan responnya tersebut. Dan hasil yang kita dapatkan adalah apa yang kita harapkan, yakni suatu elaborasi.

Kita bisa mengeksploitasi hal yang sama untuk menghubungkan pencelaan yang dilakukan oleh B dan C dengan opini/argumen yang kita punya. Spesifiknya, hubungan yang ada adalah B dan C, jika mereka benar-benar sungguh-sungguh dengan pencelaan mereka, mempunyai opini mereka tentang kita. Opini itu juga pastinya mempunyai alasan-alasan yang mungkin bisa mereka jelaskan. Dan dengan mendalami opini tersebut, kita bisa mengarahkan fokus pertanyaan kita dengan apa yang kita bilang barusan yang bermasalah bagi mereka sehingga mereka memberi opini mereka tentang argumen kita daripada menyampingkannya saja.

KEHORMATAN PROPORSIONAL

Dalam suatu diskusi, anda tentunya akan menghadapi momen-momen dimana anda dicela (seperti di kasus yang kita gunakan tadi di seksi Stoisisme). Anda harus sadar bahwa energi anda terbatas dan disinilah dimana kehormatan proporsional menjadi suatu hal yang bisa sangat berguna.

Kehormatan Proporsional adalah mengatur asumsi-asumsi anda mengenai interlokutor anda sebelum dan saat suatu diskusi. Pengaturan asumsi ini dilakukan sesuai dengan apa yang interlokutor anda lakukan di masa lalu sebelum diskusi tersebut terjadi, dan juga apa yang interlokutor anda lakukan saat diskusi tersebut sedang dilaksanakan.

Ketika interlokutor anda menunjukan melalui aksi-aksinya bahwa ia tidak terlalu tertarik untuk berdiskusi dengan serius, dan terus menerus mencela anda meskipun sudah kita coba jelaskan bahwa ia tidak membantu diskusinya, maka kita seharusnya segera mengatur asumsi-asumsi kita bahwa ia adalah seseorang yang bisa kita ajak diskusi/debat yang produktif.

Dengan menghormati orang lain secara proporsional dengan aksi-aksi mereka, anda bisa memilih seberapa “ekstrimnya” anda ingin merespon ke aksi-aksi buruk yang mereka lakukan ke anda. Mungkin anda menemukan bahwa interlokutor anda itu memang juga menginginkan diskusi yang produktif, sehingga anda tidak memberhentikan keterlibatan anda dalam diskusi tersebut dan hanya menjelaskan dengan sopan bagian dimana anda merasa interlokutor anda itu kurang benar, daripada hanya langsung membentaknya.

KASUS

Anda: “Jadi, aku percaya bahwa HAM itu adalah hal yang sangat penting untuk dipertahankan bagi semua manusia.”

B: “Oh, kenapa percaya itu?”

Anda: -5 menit menjelaskan- “Jadi, karena itulah aku percaya bahwa HAM itu penting.”

B: “Hah. Tadi kamu gak bilang bahwa kamu percaya HAM itu penting…”

Kasus ini adalah sesuatu yang bernama Gaslighting. Gaslighting pada umumnya adalah ketika pihak X mencoba menanamkan keraguan di pikiran pihak Y agar mereka harus bergantung dengan naratif pihak X. Dalam konteks diskusi, gaslighting dilakukan dalam bentuk mengganti kata-kata seseorang dengan kata-kata lain, atau dengan simpelnya meragukan suatu pihak mengenai apa yang mereka bilang. Di contoh kasus ini, kita bisa melihat bahwa B berkemungkinan mencoba untuk meng-gaslight Anda dengan mengatakan bahwa anda tadinya tidak mengatakan bahwa HAM itu adalah suatu hal yang penting.

Metode 1: Jika Anda biasanya memiliki percakapan-percakapan yang produktif dengan B, maka jelaskan dengan sopan dan baik

Anda: “Oh, tadi perasaan aku kayanya bilang deh, mungkin kamu gak denger saja kali, atau aku kurang jelas tadi bilangnya. Aku juga jelasin tentang kenapa HAM itu penting barusan.”

Metode 2: Jika Anda biasanya memiliki percakapan-percakapan yang sia-sia dengan B, maka jelaskan dengan JAUH LEBIH sopan dan baik

Anda: “Maaf, aku berarti kayanya kurang jelas saja tadi. Aku bilang kok.”

Metode 3: Jika Anda biasanya teriak-teriak dengan B, maka berhentilah (atau bentak aja jika kamu emang lagi pengen berantem verbal)

Anda: “Ya dengerin lah anjing. Udah gua bilang kok. Kali-kali pakai kupingnya ya.”

Anda: “Maaf, saya harus berhenti dulu bicaranya dengan anda.”

KONTEMPLASI DIRI

Bagian keempat dan akhir ini palingan adalah bagian yang paling mudah untuk kita semua mengerti dan praktekan, namun bagian yang paling susah untuk dikuasai sepenuhnya.

Pada intinya, kontemplasi diri adalah seperti apa yang namanya sudah implikasikan, yakni aksi dimana kita memikirkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan diri kita. Ini sangatlah berguna dengan alasan yang sama mengapa diskusi adalah suatu hal yang sangatlah berguna untuk ada. Kita melakukan diskusi karena kita ingin mencari tahu apakah ada suatu keliruan dalam suatu argumen yang kita miliki, atau apakah ada hal lebih yang bisa kita pelajari. Kontemplasi diri juga mempunyai tujuan yang sama. Hanya saja kita tidak melakukannya dengan orang lain. Sehingga bisa dikatakan bahwa kontemplasi diri adalah juga pada dasarnya “diskusi dengan diri sendiri”.

Tentu, dalam konteks ini, yang dimaksud adalah kontemplasi mengenai diskusi-diskusi yang kita miliki, utamanya mengenai apa yang seharusnya bisa kita lakukan lebih atau kurang sehingga diskusi tersebut bisa menjadi lebih efektif dan efisien. Jika kita mencoba untuk mengingat kembali suatu diskusi panas yang pernah kita laksanakan di masa lalu, kita mungkin bisa berhipotesis untuk masa depan – jika mengalami kondisi-kondisi yang mirip – hal-hal yang bisa kita lakuakan agar diskusinya tidak sepanas itu.

KASUS

Anda: “Dua hari yang lalu, saya pernah ada diskusi dengan A yang sangat inefektif. Kita berdua hanyalah mencela satu sama lain, dan memvalidasikan opini masing-masing saja tanpa melihat pandangan pihak oposisi kita.”

Metode 1: Membuat waktu (dan tempat) khusus dimana anda fokus memikirkan argumen yang anda miliki dan juga argumen yang interlokutor anda miliki

Ketika anda mulai untuk kontemplasi diri, suatu waktu dan tempat khusus untuk melakukan hal itu akan membuat prosesnya menjadi lebih nyaman dan tidak terganggu.

Mula-mula anda memulai melakukan ini, anda mungkin akan membawa beban-beban emosional karena “sesi mencela” yang terjadi dua hari lalu berkemungkinan untuk membawa kepribadian anda dalamnya. Dan kita semua secara alami tidak ingin untuk dijelek-jelekkan, atau direndahkan. Sehingga untuk anda bisa mulai memikirkan tentang bagaimana cara membuat diskusi-diskusi nanti di masa depan lebih baik, anda harus menghilangkan beban-beban emosionalnya terlebih dahulu.

Biasanya, beban-beban emosional yang ada datang dari fakta bahwa “diskusi” dua hari lalu itu tidaklah konklusif bagi anda mengenai siapa yang sebenarnya “benar” dalam rangka argumentasinya. Satu cara untuk menghilangkan ini bukanlah untuk mengabaikan emosi-emosi anda, melainkan untuk menghadapinya dengan cara fokus terlebih dahulu dengan argumen-argumen asli yang ada dua hari yang lalu.

Janganlah segera mengasumsikan bahwa anda benar. Cobalah kaji dengan semurah hati mungkin argumen dari diri anda, dan argumen yang diberi oleh A pada diskusi itu. Biarkanlah jika memang ia mengatakannya dengan dengki atau dengan mencela anda, pentingnya disini adalah anda berhasil mengkaji argumen anda dan argumen dia. Kemudian eksaminasilah masing-masing alasan yang anda punya untuk percaya dengan kesimpulan yang anda punya, dan eksmanisasilah masing-masing alasan yang A punya untuk percaya dengan kesimpulan yang ia punya. Apakah argumennya masuk akal sehingga bisa mencapai kesimpulannya?

Jika setelah kontemplasi ternyata anda benar, maka baguslah. Anda sekarang bisa senang dan menjelek-jelekkan A di hati anda sebanyak mungkin agar anda bisa merasa tentram dan nyaman. Jika setelah kontemplasi ternyata A yang benar, maka rubahlah pikiran anda. Tidak apa-apa jika ini berarti A benar. Ini berati anda menemukan suatu kesalahan, yang merupakan hal yang bagus untuk siapapun lakukan. Yang penting adalah bahwa Anda benar sekarang.

Sekarang, anda bisa fokus dengan sikap anda.

Metode 2: Membuat waktu (dan tempat) khusus dimana anda fokus memikirkan cara anda berinteraksi dengan interlokutor anda yang bisa membuat diskusi tersebut menjadi hanya mencela satu sama lain

Karena anda sudah mengetahui siapa yang “benar” dari antara dua orang di diskusi itu, anda sekarang harus fokus dengan fakta bahwa diskusi tersebut tidaklah efektif. Mengapa diskusi tersebut menjadi semacam kontes untuk mencela satu sama lain?

Semacam rekaman atau catatan bisa sangat berguna untuk hal ini karena anda bisa mencari momen-momen spesifik dimana adanya hostilitas yang muncul. Namun jikalaupun tidak ada, cobalah ingat hal-hal paling awal ketika ada terjadi rasa permusuhan antara A dan Anda. Atau jika anda kurang bisa mengingat itu, cobalah mengingat momen-momen dimana anda “memulai” atau “membalas” suatu celaan yang dilempar oleh A.

Poinnya disini adalah jika anda berhasil menemukan momen-momen tersebut, segera catatlah dalam semacam kertas/buku/notepad agar di masa depan anda bisa mengingatkan diri anda untuk tidak melakukan itu. Lebih baiknya lagi, anda mungkin bisa mengkomunikasikan kesalahan ini dengan A agar kalian berdua bisa bekerja sama untuk tidak melakukan kesalahan tersebut lagi.

Published by Ria Dara

Saya gemar untuk berdiskusi, berdebat, dan belajar.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: