ANALISIS PERCAKAPAN: DENGAN SEORANG SATANIS TEISTIK

Pencipta: Ria Dara

STRUKTUR

Untuk memulai analisa ini, saya harus memperkenalkan dan memperjelas apa sebenarnya itu arti dari menganalisa sesuatu dalam konteks ini dan juga apa yang saya “analisa” dari interaksi saya. Arti analisa disini merujuk ke dua hal, yaitu analisa dengan arti istilah dekonstruksi, dan juga analisa dengan arti istilah kritik.

Pertama-tama, saya pada dasarnya mencoba untuk menjelaskan ulang kepercayaan interlokutor saya. Dan alasan-alasan yang dia miliki demi mencapai kesimpulan tersebut.

Pada dasarnya, di seksi Dekonstruksi ini, saya berusaha untuk menjawab dua pertanyaan dasar:

(1) Apa yang dipercayai oleh interlokutor saya? (Kepercayaan dari Interlokutor)

(2) Apa sebab-sebab yang ia identifikasikan demi kepercayaannya tersebut? (Proses Pikir dari Interlokutor

Kedua, saya pada dasarnya juga memberi tanggapan saya akan proses pikir yang dimiliki oleh interlokutor saya untuk mencapai kepercayaan yang ia miliki, dan juga mengenai bagaimana ia menjelaskan poin-poin yang ia miliki. Sehingga, bisa juga dikatakan bahwa saya menjawab empat pertanyaan, dimana pertanyaan ketiga dan keempat disini adalah:

(3) Apakah interlokutor saya mempunyai alasan-alasan yang baik untuk percaya kepada apa yang ia percayai? (Tanggapan terhadap Proses Pikiran Interlokutor)

(4) Apakah interlokutor saya menjelaskan kepercayaan yang ia miliki dan proses pikir yang ia miliki dengan baik? (Tanggapan terhadap Percakapan)

Tentu, produk aslinya akan lebih kompleks dan seringkali lebih “buram” dari sekedar menjawab kedua pertanyaan tersebut saja. Lebih baik anda memperlakukan keempat pertanyaan tersebut sebagai garis akhir yang kita ingin capai. Dimana kita berkemungkinan untuk gagal mencapai satu, dua, atau bahkan semua garis akhir tersebut. Karena sangat berkemungkinan, dalam proses menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita menemukan rintangan entah dalam cara interlokutor saya menjelaskan kepercayaannya (retorika), atau dalam kepercayaannya sendiri yang kurang jelas (konsep).

Untuk kata-kata terakhir saja, saya menekan bahwa saya tidak ingin mengevaluasi / menganalisa interlokutor saya khususnya. Namun, saya ingin menganalisa kepercayaan dan proses pikir dan retorika yang mereka ekspresikan di percakapan tersebut bersama saya. Tidak sekalipun saya ingin pembaca merasa bahwa saya mengejek, mencela, atau merendahkan mereka, atau bahkan mencapai kesimpulan bahwa interlokutor saya pantas untuk mendapatkan perlakuan itu. Jika saya sekalipun melakukan ini, ini berarti saya telah melanggar tujuan saya dalam berinteraksi dengan interlokutor-interlokutor saya, yakni untuk memperbaiki kepercayaan-kepercayan dan proses-proses pikiran yang kita miliki masing-masing. Hal yang saya lakukan adalah suatu koperasi antara diri saya dan interlokutor saya, bukan suatu pertempuran. Jika kasusnya saya telah melakukan hal-hal tersebut, atau berkontribusi untuk hal-hal tersebut di sini ataupun di artikel manapun yang saya punya, atau di interaksi serius manapun yang saya laksanakan, maka saya mohon untuk menunjukan hal itu agar saya bisa langsung mempertimbangkan hal tersebut.

Dengan selesainya klarifikasi itu, saya bisa lanjut ke analisa saya.


DEKONSTRUKSI: PROSES PIKIR

SS mempercayai bahwa ada suatu mahluk / keberadaan yang bernama Satan (atau Lucifer). Mahluk ini memiliki suatu peran aktif dalam melindungi manusia agar tidak punah.

Alasan utama yang ia punya untuk mempercayai akan keberadaan Satan adalah pengalaman pribadinya berinteraksi dengan figur Satan itu sendiri. Pengalaman pribadi ini lebih tepatnya melalui penggunaan suatu hal yang bernama Mediasi dan juga suatu keadaan pikiran spesial untuk berdoa / ibadah. Dalam keadaan ini, pikirannya dideskripsikan sebagai bebas dan damai. Ketika ia “memasuki” keadaan tersebut, SS bisa mendengar suara yang ia identifikasikan sebagai Satan.

Ia mengetahui bahwa suara itu adalah suara Satan karena pengikut-pengikut Satan yang ia temui mengatakan bahwa Satan lebih mudah untuk dihubungi daripada tuhan-tuhan yang ada di agama lain. Ia pertama kali menjadi seseorang yang cocok untuk dipanggil satanis ketika ia mencoba saran yang diberi oleh pengikut-pengikut Satan yang ia temui dan benar-benar menemui Satan.

Meskipun begitu, SS mengidentifikasikan bahwa Lompatan Iman merupakan deskripsi yang cukup akurat untuk melihat alur pikiran yang ia gunakan untuk tiba di kesimpulan bahwa (1) ada suatu mahluk bernama Satan dan (2) Satan berbicara kepada SS.

Sebagai suatu ekstensi dari kepercayaannya terhadap Satan, SS juga mempunyai kepercayaan terhadap suatu fenomena yang bernama Sihir. Fenomena ini adalah suatu hal yang bisa ia laksanakan atau manfaatkan dengan “menaikkan”, “memprogram”, dan “mengarahkan” suatu objek bernama Energi. Dan fenomena ini juga sepertinya apa yang bagi SS salah satu hal yang membedakan Satanisme Teistik (apa yang ia percayai) dengan Satanisme Ateistik.

Dimana Satanisme Teistik merupakan suatu kepercayaan yang mengandung Satan sebagai suatu mahluk/keberadaan yang sederajat dengan Tuhan di agama-agama lain dan unsur supernaturalitas, Satanisme Ateistik baginya merupakan kepercayaan-kepercayaan yang tidak mengandung aspek pertama, namun mengandung unsur supernaturalitas ke suatu taraf tertentu saja. Selebihnya lagi, alasan mengapa divisi ini ada bagi SS antara definisi Satanisme Teistik dan Satanisme Ateistik merupakan karena keberadaan yang bernama Satan yang ia percayai menginginkan manusia untuk mendapatkan kekuatan-kekuatan tertentu.

SS mempercayai akan kemanjuran dan efektivitas sihir ini karena reprodusibilitas (kemampuan untuk mendapatkan hasil tertentu berulang-ulang kali) yang ia lihat dengan menggunakan sihirnya tersebut. Keterangan lebih lanjutnya mengenai reprodusibilitas ini sebagai berikut:

Ada suatu permainan perjudian dimana pemain membeli suatu tiket selayaknya permainan loteri. Dalam permainan ini, seseorang bisa mendapatkan 1 Euro sampai ke 500 Euro. SS menggunakan suatu “mantra Uang” dan sepertinya ia mendapatkan 400 dalam percobaan pertama ia membeli tiket. Kadang-kadang, ia “mematikan” mantra tersebut dan ia hampir tidak ada pendapatan sama sekali. Sepertinya SS percaya ada suatu relasi kausal antara matinya mantra uang tersebut dan ia tidak mendapatkan uang pada permainan tersebut.

KRITIK: PROSES PIKIR

Sebelum saya memberi tanggapan saya terhadap kepercayaan yang dipegang oleh SS, menurut saya perlu diperhatikan bahwa ada dua kepercayaan dengan argumen mereka masing-masing yang diperkenalkan oleh SS dalam interaksinya dengan saya.

Pertama-tama, ada kepercayaannya mengenai keberadaan Satan. Dan kedua, ada juga kepercayaannya mengenai keberadaan Sihir.

Walaupun SS merasa bahwa kepercayaannya kepada Satan berhubungan dengan konsep Sihir yang ia perkenalkan, hubungan tersebut kurang jelas untuk dievaluasi sebagai bagian dari proses pikir yang ia miliki demi mencapai kesimpulan bahwa Satan itu ada. Yang SS nyatakan adalah ia merupakan seorang Satanis Rohaniah yang menurutnya berarti ia juga percaya dengan keberadaan Sihir, dan bahwa Satan ingin manusia mendapatkan kekuatan-kekuatan tertentu.

Ini sama sekali tidak mengimplikasikan apapun mengenai apakah Sihir merupakan salah satu alasan dibalik kepercayaan SS kepada keberadaan Satan, hanya bahwa ia memegang kepercayaan bahwa Satan itu suatu mahluk yang nyata dan Sihir merupakan suatu fenomena yang nyata dan Satan ingin manusia mendapatkan kekuatan-kekuatan tertentu, yang dalam konteks ini merupakan Sihir.

Sehingga, mengapa saya mengevaluasi kedua kepercayaan tersebut dalam seksi mereka masing-masing.

KEPERCAYAAN SS TERHADAP KEBERADAAN SATAN

Ada tiga (atau empat) masalah yang ingin saya tunjukkan. Dua masalah ini ada ketika SS merujuk ke pengalaman pribadi yang ia miliki sebagai suatu alasan utama mengapa ia percaya terhadap keberadaan Satan. Dan satu ada pada bagaimana ia mendeskripsikan keseluruhan dari proses pikirnya. Sementara satu lagi merupakan suatu keambiguan yang diciptakan oleh SS mengenai proses pikirnya (sehingga mengapa saya juga agak bingung untuk menghitungnya sebagai suatu masalah atau tidak).

Masalah pertama adalah ia sudah mempercayai Satan sebelum ia memiliki pengalaman pribadi tersebut. Jika ia sudah mempercayai keberadaan Satan sebelum ia bertemu Satan secara langsung, maka tidak bisa dibilang bahwa pengalaman pribadi tersebut merupakan alasan utama mengapa ia mempercayai keberadaan Satan. Ketidaklogisan proses pikir ini ada dalam kita percaya kepada X karena kita percaya kepada X. Proses pikir itu membawa kita ke suatu kesimpulan melalui kesimpulan itu sendiri. Ini dipanggil juga sebagai pemikiran yang melingkar atau circular reasoning. Kelingkaran ini merupakan suatu masalah karena pada nyatanya kita bisa membenarkan semua kepercayaan. Selama suatu pemikiran atau proses pikiran yang kita punya sudah mengasumsikan kesimpulannya dalam alasan-alasan yang ada, kita bisa mengatakan bahwa kesimpulan itu benar.

Mungkin salah satu contoh paling terkenal dari hal itu adalah pada situasi-situasi bernama Catch-22 (situasi-situasi yang tidak bisa kita hindari hasil akhirnya). Dalam novel yang ditulis Joseph Keller yang mempunyai nama Catch-22 (yang merupakan juga asal istilah tersebut), dikatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghindari pertempuran udara adalah dengan mengaku gila. Namun, dikatakan juga bahwa jika seseorang ingin menghindari pertempuran, maka ia juga membuktikan bahwa dirinya sebenarnya tidak gila. Karena siapa yang waras mau ikut bertempur? Sehingga semua orang akan tetap harus ikut bertempur, mau tidak mau. Disini, hal yang melingkar bukan secara langsung suatu proses pikir, melainkan pada aturan yang ada dalam suatu sistem. Sistem tersebut membawa kita dari poin A (kita harus bertempur) ke poin B (kita tidak ingin bertempur) ke poin A lagi (kita harus bertempur karena kita tidak ingin bertempur). Sama halnya dalam kasus SS dimana ia mulai dari poin A (saya percaya bahwa saya pernah bertemu dengan Satan) ke poin B (saya percaya kepada keberadaan Satan) ke poin A lagi (saya percaya kepada keberadaan Satan karena saya percaya bahwa saya pernah bertemu dengan Satan).

Masalah kedua adalah SS, sebagaimana ia menjelaskan kepercayaan dan proses pikirnya, tidak mempunyai alasan yang cukup dan/atau baik untuk percaya kepada saran yang diberikan oleh pengikut-pengikut Satan yang ia temui. Hanya karena sekumpulan orang mengatakan bahwa suatu hal – yang dalam kasus ini menyangkut keberadaan Satan yang lebih mudah dicapai daripada keberadaan-keberadaan lain – benar, bukan berarti kasusnya bahwa pernyataan itu benar. Sepertinya kasusnya disini adalah SS telah mengasumsikan kebenaran saran-saran apapun yang diberi oleh pengikut-pengikut tersebut mengenai keberadaaan Satan dan cara-cara untuk menghubunginya. Ini berhubungan dengan masalah ketiga berikut.

Masalah ketiga adalah dengan gagasan lompatan iman yang diidentifikasikan oleh SS sebagai deskripsi yang cukup akurat untuk melihat alur pikiran yang ia miliki untuk tiba di kesimpulan bahwa ada suatu keberadaan bernama Satan dan ia telah berbicara dengan keberadaan tersebut. Suatu lompatan iman adalah hal yang secara langsung melewati atau meninggalkan rute akal/rasionalitas.

Ketika sesorang percaya kepada saudaranya untuk menjaga uangnya walaupun saudara tersebut sudah menipu berkali-kali, itu adalah lompatan iman. Ketika kita mencoba untuk menyebrangi jalan raya dengan menutup mata kita, itu adalah lompatan iman. Ketika kita percaya kepada suatu mahluk yang tidak bisa diobservasi melalui cara apapun, itu adalah lompatan iman. Intinya, lompatan iman adalah suatu konsep dimana seseorang berhenti mempedulikan alasan yang cukup untuk mempercayai sesuatu, dan tetap memilih untuk mepercayai hal tersebut. Dalam kata lain, “saya percaya karena saya percaya saja.”

Menerapkan pengertian itu ke kepercayaan SS, kita bisa mengatakan bahwa ia tidak mempunyai proses pikir yang bagus. Lagi-lagi, ini ada pada penerapan dari logika yang dimiliki SS jika kasusnya ia mempercayai keberadaan Satan karena lompatan iman. Ada banyak sekali kepercayaan yang bisa kita bilang sebagai benar jika logikanya adalah kita percaya “karena kita percaya saja”. Saya bisa bilang bahwa bumi itu kotak, bulat, dan juga datar adalah pernyataan yang benar di saat yang sama karena saya percaya saja. Saya juga bisa mengatakan bahwa Islam, Kristen, dan Judaisme benar di saat yang sama karena “saya percaya saja”. Kedua contoh kepercayan itu bisa dibilang benar karena kita memperlakukan logika SS sebagai logika yang “baik” untuk dipakai dan menerapkannya ke kepercayaan-kepercayaan lain yang bisa kita pikirkan. Sehingga mengapa suatu lompatan iman tidak bisa menjadi basis proses pikir yang reliabel.

Sekarang kita tiba di masalah keempat yang, secara spesifiknya, ada karena keberadaan tiga masalah sebelumnya. Jika kasusnya SS mempercayai keberadaan Satan karena ia memiliki suatu pengalaman yang merubahnya, namun juga di saat yang sama percaya karena apa yang diberi tahu oleh pengikut-pengikut Satan yang ia temui, tetapi juga percaya karena suatu lompatan iman, alasan manakah yang sebenarnya alasan yang mendukung kepercayaannya? SS tidak bisa mengatakan bahwa ia mempercayai keberadaan Satan karena lompatan iman, jika ia ternyata mengikuti apa yang dibilang pengikut-pengikut Satan tersebut atau karena suatu pengalaman yang ia miliki. Dua alasan lain juga tidak bisa menjadi pengganti lompatan iman karena mereka masih mempunyai masalah yang sama. Sehingga saya sebagai interlokutor SS bingung bagaimana menginterpretasi penjelasannya mengenai kepercayaannya kepada keberadaan Satan.

Inilah keambiguan proses pikir SS yang saya unjuk sebelumnya. Dengan adanya keambiguan ini, saya dan orang-orang lain menjadi tidak bisa mengevaluasi kepercayaan SS dengan adil dan koheren. Yang ada hanyalah suatu masalah yang bukannya secara langsung terkait dengan proses pikir SS, melainkan terkait dengan mengidentifikasi proses pikir itu terlebih dahulu, yang kita sama sekali tidak bisa lakukan karena keambiguan ini. Ini agak lucu karena saya mengatakan bahwa di seksi ini saya akan memberi tanggapan saya mengenai baik atau tidak baiknya proses pikir SS, namun cara SS menjelaskan proses pikirnya membuat diri saya secara teknis tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Dengan itu, kita mungkin masih bisa mengonstruksi suatu gambaran dimana argumen SS bisa dibilang sebagai jelas.

Memang benar-benar dalam ranah posibilitas, walaupun bukan dalam ranah probabilitas, bahwa apa yang dimaksud SS adalah sebagai berikut: “Saya percaya bahwa ada suatu keberadaan bernama Satan karena saya pernah memiliki suatu pengalaman bersama keberadaan tersebut dimana saya mengetahui bahwa pengalaman tersebut menunjukan adanya Satan karena saya mempercayai apa yang dibilang oleh beberapa pengikut Satan yang pernah saya temui di kehidupan nyata. Saya mempercayai kata-kata mereka melalui lompatan iman yang saya lakukan.”

Itu adalah suatu “rekonstruksi” yang saya buat mengenai argumen/proses pikir yang dimiliki oleh SS yang menurut saya lebih jelas dari bagaimana SS menjelaskannya sendiri. Namun, masalah dari saya melakukan adalah saya tidak mengetahui jika ini yang benar-benar dimaksud SS ada atau tidak. Orang lain pastinya akan bisa melakukan rekonstruksinya sendiri akan argumentasi SS dan tetap mencapai suatu bentuk dari proses pikiran SS yang lebih jelas daripada bagaimana SS jelaskan. Tapi lagi-lagi mereka tidak akan bisa mengetahui apakah ini yang dimaksud SS atau tidak.

Dan juga walaupun rekonstruksi itu merupakan suatu bentuk argumen yang jauh lebih jelas daripada bentuk yang diberikan oleh SS, bentuknya tetap masih tidak logis karena masalah-masalah yang sama sebagaimana saya sudah jelaskan di atas (dari Masalah Satu sampai Masalah Tiga). Hanya karena sesuatu jelas, bukan berarti sesuatu itu logis ataupun koheren.

KEPERCAYAAN SS TERHADAP SIHIR

Satu masalah yang bisa diidentifikasikan langsung adalah kurangnya bukti atau alasan yang diberi oleh SS untuk mendukung gagasan bahwa ada sesuatu yang bernama Sihir dimana sihir adalah suatu kemampuan untuk memanipulasi sesuatu bernama “Energi”.

Energi memang merupakan suatu hal yang nyata secara ilmiah, tetapi energi yang sudah diketahui para ilmuwan sepertinya berbeda dari konsep energi yang dirujuk oleh SS. Sebagaiamana dunia ilmiah mengerti apa itu energi, hal yang kita panggil sebagai energi adalah suatu cara kita bisa mendeskripsikan atau menjelaskan berbagai fenomena alam yang terjadi seperti terbangnya suatu roket, jatuhnya suatu kelapa, dan bahkan larinya suatu Cheetah. Ini bukan berarti energi itu hanya suatu konsep buatan, melainkan ini berarti energi adalah suatu konsep buatan dan hal-hal yang digunakan oleh para ilmuwan untuk diukur seperti massa, suhu/temperatur, bentuk, kecepatan, dan lain-lain. Berbeda dengan implikasi yang ada pada penjelasan SS yaitu bahwa energi merupakan suatu hal yang bisa kita manipulasi atau “program” untuk menciptakan efek-efek tertentu. Sehingga lumayan kurang jelas juga apa yang dimaksud oleh SS dengan istilah “energi”. Apakah mungkin energi dalam konteks tersebut merujuk ke suatu kekuatan supernatural yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu saja? Mungkin energi mempunyai suatu bentuk fisik yang ada, namun untuk memprogramnya kita memerlukan suatu kemampuan khusus agar menciptakan efek-efek yang kita mau? Sebab ini, bisa dikatakan juga bahwa energi saja bukannya tidak ada buktinya, namun tidak ada kejelasannya juga dalam pengertiannya.

Namun, ada satu hal yang ia berikan yang menyangkut kepada kemanjuran dari sihir ini. Yaitu percobaannya untuk menggunakan apa yang ia panggil sebagai suatu “mantra” dan keberhasilannya dalam memenangkan sekitar 400 Euro dalam sekali membeli tiket setelah ia mengaktifkan mantra tersebut. Masalahnya kali ini adalah pada kemungkinan bahwa SS mempunyai suatu kesalahpahaman mengenai analisis statistik.

Kita mengetahui ada yang namanya bias kognitif yang seringkali muncul pada proses pikir manusia ketika kita membuat suatu kesimpulan mengenai sesuatu. Mereka adalah keliruan-keliruan yang ada pada cara kita memproses informasi, dan lebih tepatnya dalam kita membentuk kesimpulan-kesimpulan mengenai berbagai hal. Dan salah satu jenis dari bias-bias kognitif tersebut, ada yang bisa disebut sebagai bias interpretasi.

Seperti apa yang diimplikasikan namanya, bias ini menyangkut dengan bagaimana kita membuat suatu kesimpulan mengenai bukti-bukti yang kita punya demi mendukung/menentang suatu gagasan. Dalam konteks SS, ia mempunyai hal-hal yang terjadi, seperti ia membeli tiket dan setelah itu langsung memenangkan 400 Euro, yang ia korelasikan dengan kejadian lain yaitu ia “menggunakan suatu mantra”. Dan oleh karena itu, ia berkata bahwa mantranya memiliki suatu efek pada kemenangannya. Masalahnya disini adalah ia (dan kita utamanya) tidak mengetahui jika mantra tersebutlah yang menyebabkan SS untuk memenangkan jumlah uang itu.

Ketika seorang peneliti membuat suatu eksperimen untuk menguji kemanjuran suatu obat, hal yang akan dilakukan olehnya adalah memisahkan subjek-subjeknya menjadi dua kelompok. Satu kelompok akan diberi obat asli yang ingin diuji (sampel) dan satu lagi akan diberi obat yang palsu, atau suatu placebo, walaupun mereka tetap dibilang akan mengonsumsi obat yang asli (kontrol). Ini karena adanya placebo effect yang bisa mempengaruhi hasil eksperimen tersebut jika para subjek penelitian mengetahui obat mana yang benar-benar bekerja dan mana yang palsu. Jika para peneliti tidak membuat suatu kelompok kontrol, maka akan susah untuk mengetahui seberapa manjurnya obat yang mereka uji coba. Sehingga, mengapa mereka memisahkan subjek-subjek eksperimentasi menjadi dua. Prinsip ini juga bisa kita terapkan kepada kesimpulan SS yang menyatakan bahwa mantranya membuat dirinya menang 400 Euro dalam loteri itu.

KRITIK: RETORIKA

Sebelum saya bisa memberi opini saya terhadap retorika yang digunakan oleh SS, saya ingin terlebih dahulu mengklarifikasi lebih lanjut apa yang akan saya lakukan di seksi ini. Agar cepat saja, saya tidak menunjukan setiap kalimat yang tidak jelas, setiap kata yang kurang tepat, ataupun setiap perumpamaan yang kurang setara. Jika saya melakukan hal ini, maka itu tidak saja memakan waktu yang sangat lama dan membuat anda bosan, namun juga akan tidak efisien karena dalam setiap retorika, seharusnya ada pola-pola besar yang bisa kita rujuk.

Dalam maksud, jika SS disini ternyata terlalu banyak menjelaskan suatu hal, maka bisa dibilang bahwa ini akan menjadi bagian apa yang saya panggil tadi pola-pola besar, dan maka pastinya akan saya kritik. Intinya maksud saya dari “pola-pola besar” adalah hal-hal yang paling berulang dilakukan oleh interlokutor saya. Dan jika kasusnya pola tersebut mengganggu efektivitas dan efisiensi poin dia, maka akan saya masukkan dalam kritik saya.

KETIDAKJELASAN

Dengan itu, satu pola yang akan saya rujuk sebagai poin saya di seksi ini adalah bahwa SS sepertinya mengasumsi bahwa saya mengenal dan mengerti istilah-istilah khusus yang ia gunakan untuk menjelaskan kepercayaannya.

Berikut beberapa contoh instansi dimana ia menggunakan istilah-istilah yang esoteris, dan sehingga saya harus meminta klarifikasi mengenai konsep-konsep istilah tersebut.


Instansi Pertama:


RD: Pengalaman pribadi? Apakah kamu bisa memberi tahu aku lebih banyak tentang ini?

SS: Melalui Mediasi dan pada dasarnya memasuki suatu Keadaan Berdoa memperbolehkan aku untuk berbicara kepada Iblis mengenai hal-hal seperti ini, maka ia sendiri yang mengatakannya.

RD: Huh, apa itu Mediasi dan Keadaan Berdoa yang kamu bicarakan itu? Apakah itu seperti suatu keadaan pikiran yang spesial?

SS: Susah untuk digambarkan, itu seperti suatu keadaan pikiran yang bebas dan damai yang kamu masuki.


Instansi Kedua:


RD: Aku mengasumsi bahwa yang kamu maksud dengan seorang Satanis adalah seseorang yang percaya kepada keberadaan Satan, apakah ini suatu deskripsi yang cocok?

SS: Aku seorang Satanis Rohaniah, jadi kamu bisa mengatakan bahwa aku juga percaya kepada “Sihir”.

RD: Oke, namun apakah Satanisme dengan sendirinya perlu mempunyai hal Sihir ini dalam definisinya? Aku berasumsi bahwa Satanisme hanyalah kepercayaan terhadap keberadaan suatu mahluk yang bernama Satan.

SS: Jika Satanisme Teistik disebutkan, maka Sihir akan dilibatkan karena Satan ingin kita mendapatkan kekuatan-kekuatan. Satanisme Ateistik juga percaya kepada Sihir sampai TARAF TERTENTU.


Instansi Ketiga:


RD: Apa yang kamu maksud ketika kamu mengatakan bahwa kamu menemukan Agamanya? Apa menurutmu sejumlah Lompatan Iman untuk Satanisme adalah satu deskripsi yang akurat untuk apa yang kamu telah lakukan, dimana setelah Lompatan Iman ini, kamu akhirnya berhasil untuk berbicara kepada Satan dan konversi, dan seterusnya?

SS: Benar, pada dasarnya Lompatan Iman. Itu satu cara yang baik untuk mengatakannya.

RD: Baiklah kalo begitu. Apakah tidak kasusnya bagimu bahwa orang lain yang menggunakan metode yang sama untuk tiba di agama mereka, sama-sama sahih dalam kepercayaan mereka kepada – sebagai contoh – Allah, Yesus, Wisnu, dan lain-lain?


Instansi Keempat:


RD: Kamu mengatakan ini bekerja?

SS: Ini memang benar bekerja.
Secara teknis, kamu bisa menggunakan Sihir ini untuk melukai orang-orang, ini dikenal sebagai Sihir Abu-Abu tapi aku tidak berurusan dengan itu.

RD: Bisakah kamu memberi suatu contoh di hidupmu dimana ini berhasil bekerja? Mungkin tentang contoh uang itu? Apakah kamu seorang miliarder, dimana sebelumnya kamu hidup dibawah Garis Kemiskinan, atau kapan sihir ini bekerja untuk mu jika kamu bisa memberi tahu?


Penjelasan (Bagaimana Empat Instansi Tersebut Mempunyai Asumsi)

Dalam instansi pertama, saya mempertanyakan istilah “Mediasi” dan “suatu Keadaan Berdoa” karena mereka dengan sendirinya tidak merujuk ke konsep umum spesifik manapun yang saya kenal.

Keadaan berdoa bisa merujuk ke berbagai jenis cara orang berdoa dari cara seorang Sunni Muslim berdoa ataupun cara orang Protestan Kristen berdoa. Sehingga yang kedua mungkin masih bisa dibilang untuk paling tidak lebih jelas dari “Mediasi”. Namun, kasusnya SS tidak menjelaskan cara seorang dia – seorang Satanis – berdoa, dan apakah ada perbedaan atau tidak dalam caranya berdoa. Jika ternyata kodratnya sama seperti cara orang lain berdoa, yakni mereka meminta sesuatu atau mengucapkan suatu ayat, maka seharusnya ia tidak usah menggunakan istilah “suatu Keadaan Berdoa”. Jika ternyata ada perbedaan, maka ia seharusnya lebih jelas dengan merujuk ke konsep ia berdoa.

Dalam intansi kedua, anda mungkin menebak bahwa Satanisme Teistik, Satanisme Ateistik, dan Satanisme Rohaniah adalah istilah-istilah yang saya anggap sebagai mempunyai asumsi. Namun itu sebenarnya tidak terlalu ambigu karena mereka masih merujuk ke sejumlah konvensi umum dalam menamakan suatu ide atau ideologi, yakni kita menambahkan “A-” ke suatu istilah untuk mengimplikasikan ketidakberadaan konsep yang mendasari ide tersebut. Melainkan yang ambigu adalah istilah “sihir” bagi saya. Sihir secara umum dimengerti sebagai kemampuan untuk mempengaruhi realita kita melalui cara-cara supernatural atau dalam kata lain, cara-cara yang misterius, yang lebih tepatnya berada di luar cara-cara natural atau ilmiah.

Ini sepertinya suatu masalah yang saya secara pribadi miliki dalam mengkonsepsualisikan apa itu sesuatu yang supernatural. Hal-hal yang natural seringkali diartikan sebagai objek-objek yang berada di “dalam” alam semesta kita. Ini berarti merujuk ke hal-hal yang dipengaruhi oleh aturan-aturan alam yang kita ketahui seperti gravitasi, elektromagnetisme, konservasi energi, dan seterusnya. Namun, apakah ini mengimplikasikan hal-hal yang berada di “luar” alam semesta kita, yakni objek-objek yang tidak dipengaruhi oleh aturan-aturan tadi, merupakan apa yang disebut sebagai supernatural?

Dalam instansi ketiga, yang memegang asumsi bukanlah SS, melainkan saya. Saya dengan sengaja saat percakapan itu menyisipkan istilah “lompatan iman” karena pengertian saya terhadap istilah itu adalah bahwa umumnya itu pada intinya adalah memegang suatu kepercayaan tanpa alasan yang bisa dilihat manapun. Atau “percaya karena percaya” saja. Tentu, ada artinya khusus di agama-agama tertentu, namun umumnya saya memegang asumsi bahwa “lompatan iman” itu adalah seperti yang saja jelaskan. Peran SS dalam instansi ini adalah ia sepertinya menerima bahwa ia “lompat iman” tanpa terlalu mengkonfirmasi terlebih dahulu saya memegang pengertian yang sama atas konsep itu.

Dalam instansi keempat, SS menyebut suatu konsep bernama “sihir abu-abu”. Saya sudah katakan terhadap instansi kedua bahwa sihir adalah sesuatu yang cukup ambigu dengan sendirinya. Namun sekarang SS memperkenalkan saya ke konsep “sihir abu-abu”, suatu jenis/tipe/kategori khusus dari sihir. Ini setara dengan saya memperkenalkan quantum physics (mekanika quantum) kepada seseorang yang masih tidak terlalu familiar dengan classical/newtonian physics (mekanika klasik/newton).

KESIMPULAN

Dalam rangka proses pikir/argumentasi, SS belum cukup logis logikanya. Ia membuat kesalahan krusial pada level paling dasarnya yakni menjustifikasikan kepercayaannya dengan kepercayaan lain yang belum terlalu mempunya justifikasi yang cukup, dan menjustifkasikna kepercayaan itu ke kepercayaan lain yang mempunyai kesalahan yang sama. Pada akhirnya, suatu struktur melingkarpun terbuat. Struktur melingkar ini bisa digunakan untuk menjustifkasikan segala kepercayaan apapun, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai logis.

Dalam rangka retorikanya, SS terlalu mengasumsi interlokutornya, saya, sebagai orang yang sudah familiar dengan konsep-konsep yang ia kenal. Kita berdua seharusnya lebih peka dengan hal ini dan menekan satu sama lain agar lebih mengerti terlebih dahulu daripada langsung bercakap-cakapan tentang konsep-konsep tersebut.

Published by Ria Dara

Saya gemar untuk berdiskusi, berdebat, dan belajar.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: