MUSIK MOZART MEMBUAT ANDA LEBIH CERDAS?

Artikel ini lebih dari 1 Halaman, Anda sedang membaca halaman 2

Lihat ke bawah dan Klik angka 1 untuk pergi ke halaman sebelumnya

REAKSI PUBLIK TERHADAP “MOZART EFFECT”

Dengan pengetahuan yang kita tahu sekarang, “The Mozart Effect” menjadi suatu istilah untuk mengilustrasikan suatu korelasi – yang disangka benar – antara mendengarkan karya-karya musik Mozart dengan naiknya kecerdasan kita (walaupun tidak terbatas pada itu saja). Satu manifestasi prevalen dari sentimen ini adalah seperti apa yang ditulis oleh Alex Ross, kritikus musik, di suatu artikel satu tahun setelah publikasi studi Rauscher, et al.

Jika masih ada keraguan dalam pikiran siapapun (bahwa Mozart telah menggantikan posisi Beethoven sebagai komposer terbaik di dunia), para peneliti di Center for the Neurobiology of Learning and Memory (Pusat untuk Neurobiologi dari Pembelajaran dan Ingatan) di University of California, Irvine, telah menentukan bahwa mendengarkan Mozart sebenarnya membuat kamu lebih cerdas

Ross, Alex. (August 28, 1994). ‘CLASSICAL VIEW; Listening To Prozac . . . Er, Mozart’, Section 2, Page 23. New York Times. Link: https://www.nytimes.com/1994/08/28/arts/classical-view-listening-to-prozac-er-mozart.html

Tentu, tidak hanya itu eksposur yang didapatkan oleh Rauscher dan kolega-koleganya. National Public Radio (NPR) melaporkan bahwa pada awalnya, apa yang diketahui sebagai “The Mozart Effect” dimulai dengan suatu cerita yang dipublikasikan oleh Associated Press (AP). Pemublikasian cerita itu membawa lebih banyak eksposur lagi dari pihak publik terhadap penelitian Rauscher dan kolega-koleganya, dan juga terhadap Rauscher, Shaw, dan Ky sebagai peneliti-peneliti dibalik studi tersebut. Untuk mengilustrasikan seberapa besarnya eksposur yang mereka dapatkan, Rauscher sendiri mengatakan bahwa ia sampai harus memperkerjakan seseorang untuk mengurus semua telpon yang ia dapatkan pada saat itu.


(Spiegel, Alix. (June 28, 2010). ‘Mozart Effect’ Was Just What We Wanted To Hear. National Public Radio. https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=128104580)


Namun, legenda dari “Mozart Effect” ini tambah diperbesar – dan bisa dibilang paling dibesarkan – melalui karya-karya Don Campbell. Ia dikenal sebagai orang yang paling influensial dalam membuat “The Mozart Effect” dikenal oleh jutaan-jutaan orang.

Karya pertamanya yang berurusan dengan hal tersebut mempunyai judul yang cukup sesuai dengan apa yang ia bicarakan.

Cover: The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit

Dalam The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit (Efek Mozart: Memanfaatkan Kekuatan dari Musik untuk Menyembuhkan Tubuh, Memperkuat Pikiran, dan Membuka Kunci Jiwa Kreatif), Campbell menggunakan berbagai pengalaman dan studi – termasuk studi Rauscher – untuk mendorong gagasan bahwa mendengarkan musik-musik (utamanya yang berjenis concerto seperti Piano Concerto No. 21 in C, The Marriage of Figaro, Piano Concerto No. 12 in A major, K. 414 (385p), dan Clarinet Concerto (K. 622)) tidak hanya bisa membuat seseorang bisa lebih cerdas, namun juga bisa membawa efek-efek positif lain antara lain seperti membuat pencernaan kita lebih lancar dan mendorong fungsi sistem kekebalan tubuh.

Meskipun cukup sulit untuk mengukur seberapa banyaknya buku itu terjual, Campbell mengatakan di websitenya bahwa bukunya ditranslasikan ke dalam 24 bahasa.

Melalui situs yang sama, ia juga membuat suatu bisnis online menjual CD musik yang dikatakan bisa mengaktifkan “Mozart Effect” kepada mereka yang mendengarkannya. Produk-produknya juga ia implikasikan bisa menyembuhkan – atau setidaknya – memperbaiki kondisi Dyslexia, Autisme, dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang dimiliki anak-anak.

Ini semua pada akhirnya membangun suatu “legenda ilmiah” yang diketahui secara umum. Sangat umum sampai legenda ini akhirnya berdampak pada operasi politik di Amerika Serikat, spesifiknya di Provinsi Georgia.

Pada 13 Januari 1998, Gubernur Zell B. Miller mengajukan suatu tambahan provisi dengan perlengkapan dan peralatan yang diberi rumah sakit kepada bayi-bayi yang baru saja lahir di provinsi Georgia. Dimana rumah sakit pada saat itu hanya memberi sejumlah tisu bayi, popok, dan instruksi menyusui dan mengimunisasikan bayi, Gubernur Miller ingin rumah sakit untuk juga menambahkan sebuah pita kaset atau CD yang berisi musik klasikal dalam perlengkapan tadi untuk setiap bayi yang baru lahir.

Dia katakan, “Tidak ada yang mempertanyakan bahwa mendengarkan musik dari usia yang sangat muda mempengaruhi pemikiran spasial (dan) temporal yang mendasari matematika dan teknik, dan bahkan catur,” Gubernur Miller lanjutkan, “Membuat bayi itu mendengar musik yang menenangkan membantu trilliun-trilliun koneksi otak untuk berkembang.”

Dielaborasikan dalam suatu laporan penelitian oleh Office of Legislative Research (OLR) bahwa Gubernur Miller meminta legislatur Georgia, yaitu Georgia General Assembly (Majelis Umum Georgia), untuk menggunakan $105,000 (1.5 milyar Rupiah) demi memenuhi ajuannya tersebut. Namun penggunaan dana tersebut banyak ditolak oleh anggota dari legislaturnya.

Meskipun dengan begitu, proposal Gubernur Miller masih tetap dilaksanakan dengan dana yang bersumber bukan dari legislatur Georgia, melainkan dengan dana yang diberi oleh SONY yang menawarkan – tanpa biaya – untuk memenuhi keinginan Gubernur Miller.

KESIMPULAN

Dalam kedua aspek ilmiah dan pesona publik, “Mozart Effect” ini tanpa keraguan berdampak signifikan. Satu publikasi di British Journal of Social Psychology memanggil fenomena tersebut sebagai suatu “legenda ilmiah” yang telah menyebar tidak hanya ke berbagai bidang sains, namun juga ke pengetahuan umum orang-orang di luar dunia akademis.

Untuk menjawab pertanyaan awal kita, ringkasan dari kajian tadi mungkin bisa sebagai berikut:

Bagaimana berlangsungnya penyebaran dari sentimen “Mozart Effect” dalam masyarakat umum?

Paling awal, mulai dari penelitian Rauscher yang menarik perhatian media massa. Kemudian Don Campbell memilih untuk menulis sebuah buku yang cukup sukses demi memperbesar eksposur yang didapatkan mengenai “Mozart Effect” (dan juga demi menarik orang-orang untuk membeli produk-produk “Mozart Effect” dia). Setelah itu, reputasi legenda ini mencapai puncaknya dengan Gubernur Zell B. Miller yang – dengan berhasil – mengajukan rumah sakit untuk memberi CD musik klasikal dengan motif untuk “mengembangkan trilliun-trilliun koneksi otak” para bayi yang mendengarnya.

Dan apakah ada kebenaran dibalik sentimen tersebut bahwa lagu-lagu Mozart bisa membuat seseorang lebih pintar?

Jika “lebih pintar” dalam pertanyaan itu berarti “suatu peningkatan kecil dalam kemampuan spasial-temporal/abstrak kita secara tidak permanen”, maka literatur ilmiahnya yang kita telusuri tadi mengatakan mungkin. Bahkan inipun masih cukup susah untuk dibilang benar karena susahnya untuk mereproduksi penelitian Rauscher orisinil. Juga dari fakta tersebut, ada kemungkinan bias publikasi dalam riset-riset yang mendukung adanya efek tersebut.

Lebih mengecewakannya lagi, “Mozart Effect” juga bisa diinterpretasikan sebagai suatu hal yang tidak esklusif pada musik Mozart atau musik Klasikal saja, namun juga sebagai efek dari manusia menjadi lebih senang melalui hal-hal yang mereka lakukan. Dalam kata lain, ada kemungkinan kasusnya bukanlah mendengarkan Musik Mozart bisa meningkatkan kemampuan spasial-temporal. Namun kasusnya lebih dekat dengan “mendengarkan musik Mozart bisa meningkatkan kebahagiaan kita, dan oleh karena itu, bisa meningkatkan kemampuan spasial-temporal kita (dengan sementara dan kecil).”


Penelitian Orisinil Rauscher

Penelitian Orisinal yang dilaksanakan Rauscher, et al: (Rauscher, F. H., Shaw, G. L., & Ky, Katherine N. (1993). Music and spatial task performance. Nature, 365 (6447), 611–611. DOI: 10.1038/365611a0)

IQ: (Braaten, Ellen B.; Norman, Dennis (1 November 2006). “Intelligence (IQ) Testing”. Pediatrics in Review. 27 (11): 403–408. doi: 10.1542/pir.27-11-403. ISSN 0191-9601. PMID 17079505)

Pemikiran/Penalaran Umum: (Kublikowski, R. (2018). ‘What Is Reasoning? The Lvov-Warsaw School’. Past and Present, 153–163. DOI: 10.1007/978-3-319-65430-0_10)

Penalaran Spasial: (Bogue, B.; Marra, R. (2003). ‘Visual Spatial Skills’. AWE Research Institute. Link: Wayback Machine, http://www.engr.psu.edu/awe/secured/director/assessment/Literature_Overview/PDF_overviews/VisualSpatialWeb 03_22_05.pdf)

Meta-Analisis C.F Chabris: (Chabris, C. F. (1999). ‘Prelude or requiem for the “Mozart effect”?’. Nature, 400 (6747), 826–827. DOI: 10.1038/23608. PMID 10476958)

Tiga Rekomendasi Rauscher: (Rauscher, Frances H.; Shaw, Gordon L.; Ky, Katherine N. (1995). ‘Listening to Mozart enhances spatial-temporal reasoning: towards a neurophysiological basis’. Neuroscience Letters. 185 (1): 44–47. DOI: 10.1016/0304-3940(94)11221-4. PMID 7731551. S2CID 20299379)

Isu susahnya direproduksi studi Rauscher, dan juga studi yang menggunakan Tiga Rekomendasi Rauscher: (McCutcheon, L. E. (2000). ‘Another Failure to Generalize the Mozart Effect’. Psychological Reports, 87(1), 325–330. DOI: 10.2466/pr0.2000.87.1.325)

Meta-Analisis Pietschnig, Voracek, dan Formann: (Pietschnig, Jakob; Voracek, Martin; Formann, Anton K. (2010). “Mozart effect–Shmozart effect: A meta-analysis”. Intelligence. 38 (3):314-323. DOI: 10.1016/j.intell.2010.03.001)

Bias Publikasi (Publication Bias): (Dickersin K, Min YI. Publication bias: the problem that won’t go away. Ann N Y Acad Sci. 1993 Dec 31;703:135-46; discussion 146-8. DOI: 10.1111/j.1749-6632.1993.tb26343.x. PMID 8192291)


Reaksi Publik Terhadap Gagasan “Mozart Effect”

Buku Don Campbell: (Campbell, Don. (1997). ‘The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit’. HarperCollins, Reprint Edition. (April 25, 2009). ISBN: 978-0060937201)

Website Don Campbell: https://mozarteffect.com

Bagian website dimana Campbell mengimplikasikan bahwa produk-produknya bisa memperbaiki kondisi Dyslexia, Autisme, dan ADHD: https://mozarteffect.com/faq

Menyangkut proposal Gubernur Zell B. Miller: (Sack, Kevin. (January 15, 1998). ‘Georgia’s Governor Seeks Musical Start for Babies’. New York Times. https://www.nytimes.com/1998/01/15/us/georgia-s-governor-seeks-musical-start-for-babies.html)

Laporan Penelitian Office of Legislative Research: (Spigel, Saul. (July 13, 1998). ‘RE: Georgia’s Provision of Classical Music for Newborns’. Office of Legislative Research, OLR Research Report. https://www.cga.ct.gov/PS98/rpt%5Colr%5Chtm/98-R-0888.htm)

Mozart Effect sebagai “legenda ilmiah”: (Bangerter, Adrian. Heath, Chip. (2010). ‘The Mozart effect: Tracking the evolution of a scientific legend’. British Journal of Social Psychology 43, issue 4, 605-623. DOI: 10.1348/0144666042565353. PMID 15601511)


Artikel ini lebih dari 1 Halaman, Anda sedang membaca halaman 2

Lihat ke bawah dan Klik angka 1 untuk pergi ke halaman sebelumnya

Published by Ria Dara

Saya gemar untuk berdiskusi, berdebat, dan belajar.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: